Image default
Profil

Aseng Supriatna ST. M.Si : Amankan Wilayah Penuh Tantangan

Selain terjadi perubahan SOTK di lingkungan Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang juga terjadi rotasi jabatan, baik setingkat Kepala Bidang juga Kepala Balai Pengelolaan Jalan (BPJ) . Salah satunya adalah BPJ VI Cirebon yang  meliputi wilayah Kabupaten Majalengka, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon, yang kini dipimpin oleh Aseng Supriatna, ST., M.Si.

Untuk memudahkan dalam pelaksanaan dan pengawasan, maka BPJ VI dibantu oleh   ada 3 SUP (Sub Unit Pengelolaan) yang ditempatkan di sekitar daerah Kabupaten/Kota Indramayu, Majalengka, dan Cirebon yang dipimpin oleh KSUP yang memiliki mitra para Pengamat, Mandor dan Pekerja.

Untuk pemeliharaan setiap ruas jalan, menurut Aseng di Bina Marga ini menggunakan sistem kemandoran sehingga setiap saat mandor memantau kondisi jalan terutama yang rawan longsor, Jika diperlukan, maka alat berat pun akan turun membantu yang berada di lapangan yang sudah disiapkan di daerah-daerah tertentu. “Untuk mobilisasi alat, wilayah BPJ VI sudah membentuk tim untuk mobilisasi alat, ada workshop juga, dan beberapa lokasi lainnya untuk menyimpan alat berat,” ujar Aseng Supriatna yang masuk menjadi PNS tahun 1991 di kementrian PUPR, kemudian pindah ke Timor Timur hingga tahun 1999.

Untuk jumlah pekerja di BPJ VI saat ini total pekerja ada 360 orang, 35 orang mandor, pegawai PNS di kantor sekitar 96 orang.

Ada beberapa tantangan di tahun pertamannya memimpin BPJ VI antara lain cuaca ekstrim yang bisa mendatangkan bencana, mendukung akses jalan ke BIJB dan arus mudik.

Berkaitan dengan cuaca ekstrim khususnya yang berada di wilayah timur Jawa Barat, menurut Aseng yang menjadi perhatian dan fokus dari BPJ VI adalah wilayah Cikijing – Majalengka dan Talaga rusak karena masuk ke wilayah rawan longsor. “Ada 9 titik yang terdeteksi merupakan daerah rawan longsor. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi BPJ VI apalagi mengingat curah hujan yang masih tinggi. Untuk itu kami sudah mengantisipasi daerah yang rawan longsor, namun karena cuaca dan hujan longsor masih terjadi berulang kali,” ujar Aseng.

Sebelumnya, Aseng menjadi Pimpro Penanganan Jalan tahun 2000 usai bertugas di Timor Timur. Selanjutnya, Aseng menjadi Kepala SUP sampai tahun 2009. Tahun 2010, ia pindah ke SKPD – TP dengan posisi terakhir sebagai Kepala Seksi Pemelihraan dan Penanganan Bencana.

BPJ VI saat ini sedang mendukung program pemerintah dalam mempersiapkan akses jalan menuju BIJB (Bandara Internasional Jawa barat) yang di wilayah BPJ VII tepatnya ruas Kadipaten – Jatibarang. “Wilayah Kadipaten – Jatibarang termasuk ke dalam wilayah jalan provinsi akses non-tol yang menuju ke BIJB sehingga BPJ VI siap mendukung program pemerintah dalam akses jalan dan jembatan. Saat ini sudah masuk dalam tahap pembebasan lahan, yang akan dilanjutkan dalam proses pembangunan akses non-tol dari wilayah Kadipaten dan Jatibarang,” ujar Aseng.

Tantangan ketiga yang mendesak dan setiap tahun adalah menghadapi arus mudik – balik dimana target minimal adalah tidak ada jalan berlubang.  Kerusakan jalan pada umumnya mengalami lubang karena fondasinya penuh air hujan. Apalagi sekarang hujan  masih terus mengguyur wilayah dan lubang di jalan pasti akan terus terjadi. “Menghadapi arus mudik BPJ VI menginstruksikan untuk terus mengontrol, mengawasi dan melaksanakan pemeliharaan jalan. Agar saat memasuki musim mudik nanti tidak terganggu dengan adanya lubang di jalan,” jelas Aseng.

Meskipun banyak tantangan dan mungkin juga hambatan yang dirasakan oleh seluruh jajaran di wilayah BPJ VI.  Seperti banyak titik rawan bencana jalan longsor, sehingga harus selalu waspada siap mengantispasinya. Kondisi tersebut menurut Aseng jangan dijadikan sebagai  hambatan untuk terus memberikan pelayanan bahkan harus meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat apalagi dalam menghadapi arus mudik. “Pokoknya untuk menghadapi aktivitas apapun termasuk mudik lebaran, seluruh ruas jalan di wilayah BPJ VI sudah siap dan bisa digunakan dengan nyaman,” tutup Aseng.

Antara Novel dan Pendidikan

Membaca novel merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh Kepala Balai Pengujian Konstruksi Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provini Jawa Barat, Imansyah St. MM. Buku novel merupakan buku favorit bagi ayah 3 anak ini. Novel Laskar Pelangi dan Api Di Bukit Menoreh menjadi novel favorit bagi Imansyah karena banyak hal positif yang bisa dipetik dari isi buku tersebut. Dengan hobi membaca novel, tentu banyak novel yang menjadi koleksi Imansyah di rak buku miliknya.

Saya senang membaca buku, walaupun bukan buku keilmuan. Saya lebih senang untuk membaca novel. Novel Laskar Pelangi dan Api Di Bukit Menoreh merupakan novel favorit saya karena banyak pesan positif yang bisa kita petik dari novel tersebut. Di waktu senggang dan libur saya habiskan untuk membaca novel,” ujar Imansyah.

Lulusan S1 Teknik Geodesi ITB tahun 1992 ini mulai bergabung dengan Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat tahun 2001, sempat menjabat Kepala Seksi Pembangunan di BPJ Wilayah Pelayanan I sebelum menjadi Kepala Balai Pengujian (BP) Konstruksi tahun 2017.

“Dinas Bina Marga tentunya salah satu instansi yang penting yang tugasnya mengelola struktur jalan, jalan ini sebagai penunjang ekonomi dan sosial. Tentunya perlu dukungan dari warga masyarakat untuk saling bantu menjaga dan merawat jalan karena kerusakan jalan bukan karena faktor teknis saja, faktor nonteknis juga terkadang mempengaruhi kondisi jalan,” ungkap Imansyah.

Imansyah mempunyai seorang istri yang menjadi dosen di yayasan Pasundan, menjadi dosen tetap di STKIP Pasundan dan pasca sarjana Universitas Pasundan. Ia juga ayah dari 3 anak, 2 anak perempuan dan 1 laki-laki. Anak pertama Imansyah sedang melanjutkan S2 teknik kimia di ITB, anak keduanya kelas I SMA dan anak bungsu Imansyah masih berusia 6 tahun.

“Keluarga saya sangat mementingkan pendidikan. Karena menurut saya, ilmu merupakan tiang dan penopang ketika kita menjalani kehidupan sehingga saya anjurkan kepada ketiga anak saya untuk mengambil pendidikan setinggi-tingginya. Saya sangat mendukung apa yang keluarga saya lakukan. Itu bukti cinta saya kepada mereka,” tutup Imansyah. (Lutfi/DK)

Artikel Terkait

Pengalaman Lapangan Rampungkan Masalah Lapangan

dinamika

Menekuni Seni dan Pariwisata, Belajar Tegar Membaur di Infrastruktur

dinamika

Tak Mau Mengabdi ke Lain Hati

dinamika