Image default
Banner

Cadas Pangeran (2)

Adakah Pertemuan Pangeran Kornel – Daendels di Jalan Cadas Pangeran?

Daendels sang penindas dan Pangeran Kornel sang pemberani
Bersilang tangan di persimpangan Jalan Cadas Pangeran
Menegakkan nurani di tengah menggelegaknya ambisi
Sekadar legenda ataukah benar-benar kenyataan?

DUA sosok lelaki berdiri tegak berhadapan di persimpangan yang memisahkan Jalan Cadas Pangeran atas dan bawah. Keduanya seakan saling menantang di Jalan Raya Ciherang,  Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

www.misteri.co.id

Pria satu berperawakan layaknya orang Eropa. Memakai topi tricorn serta berbusana militer lengkap dengan jubah dan pedang panjang di pinggang, dia nampak menyodorkan tangan kanan. Sementara lelaki di hadapannya yang memakai ikat kepala khas Sunda menyambut dengan jabatan tangan kiri. Tangan kanannya memegang hulu sebilah keris yang masih tersimpan dalam warangka di pinggangnya.

Patung Pangeran Kornel berhadapan dengan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Demikian masyarakat membubuhkan nama pada adegan itu. Bupati Sumedang, Sutardja (1983-1988), menginisiasi pembuatan patung tersebut untuk mengenang keberanian Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinata IX atau Pangeran Kornel (17911828) menentang kesewenang-wenangan Daendels, Gubernur Jendral Hindia Belanda (1808-1811), saat pembangunan jalan raya pos Anyer-Panarukan di kawasan Cadas Pangeran, Sumedang.

Pangeran Kornel, menurut budayawan Raden Moch. Achmad Wiriaatmadja pada Cadas Pangeran, kala itu tidak tega melihat penderitaan rakyat saat pembangunan jalan raya penghubung antara Parakamuncang dan Sumedang. Pengerjaannya sangat sulit dan berbahaya, karena kondisi medan terjal ditambah kontur tanah sangat keras. Banyak pekerja tewas kala bekerja membelah jalan.

https://jelajah.kompas.id – Kompas/ Agus Susanto

Saat Daendels datang melakukan inspeksi di Ciherang, Bupati Kusumadinata IX menyambut. “Tuan Mareskalek (Daendels) mengulurkan tangan hendak berjabat salam, maka Dalem Sumedang (Kusumadinata IX) menyambut dengan tangan kiri. Tangan kanan memegang hulu keris yang telah diputar di pinggang dari belakang ke muka,” tulis R. Memed Sastrahadiprawira dalam Pangeran Kornel seperti ditulis merahputih.com.

Daendels kemudian bertanya mengapa jabat tangannya disambut tangan kiri. Bupati Kusumadinata IX lantas menceritakan beban kerja rakyat Sumedang dalam membangun jalan di Cadas Pangeran. Sang Mareskalek yang amat berambisi membangun jalan raya pos pun menerima dan menyerahkan pengerjaan kepada pasukan zeni Belanda.

Pertanyaannya, benarkah peristiwa pertemuan dan jabat tangan Daendels-Kusumadinata IX pernah terjadi?

Prof. Djoko Marihandono, sejarawan pengajar Sastra Perancis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, menelusuri data atau sumber historis terkait peristiwa pertemuan Daendels dan Kusumadinata IX di Ciherang. Penelusurannya meliputi koleksi Arsip Nasional RI dan arsip dari Centre d`accueil et de recherche des archieves nationales (CARAN) di Rue des Ecoles, Paris, Perancis, untuk penggarapan disertasi berjudul “Setralisme Kekuasaan Pemerintah Daendels di Jawa 1808-1811 : Penerapan Instruksi Napoleon Bonaparte”.

Djoko Marihandono melihat di salah satu bundel arsip Priangan, berisi korespondensi pengusaha bumi putera kepada pejabat Belanda, khususnya yang bertugas menjadi pengawas proyek Jalan Raya Pos, pada pertengahan tahun 1808 justru terlihat perbedaan sikap Kusumadinata IX terhadap pembangunan Jalan Raya Pos.

“Bupati Sumedang yang disebut-sebut dalam arsip tidak menyatakan keberatan sama sekali, bahkan menawarkan bantuannya lebih lanjut kepada penguasa kolonial jika masih diperlukan,” tulis Marihandono dalam “Mendekonstruksi Mitos Pembangunan Jalan Raya Cadas Pangeran 1808 : Komparasi Sejarah dan Tradisi Lisan”.

Menurut tradisi administrasi kolonial, lanjut Marihandono, setiap peristiwa, termasuk kedatangan seorang Gubernur Jenderal, pasti akan meninggalkan catatan dan laporan sangat panjang. Mulai laporan keberangkatannya, daerah mana saja kunjungannya, siapa saja tamunya atau orang dikunjungi, pasti akan tercatat lengkap dan tersimpan sebagai arsip. Anehnya, pertemuan Daendels-Kusumadinata IX tak terdokumentasi.

“Peristiwa pertemuan Gubernur Jenderal Daendels dan Pangeran Kusumadinata IX tidak tertulis dalam arsip mana pun,” tegas Marihandono.

Selain arsip, seturut Marihandono, beberapa tulisan leksikografi tentang masa pemerintahan Daendels pun tak pernah mencuplik peristiwa tersebut. Sementara, sumber utama tentang pertemuan itu hanya ada pada prasasti di bawah patung Pangeran Kornel.

Pada prasati tertulis, “Onder Leiding van Raden Demang Mangkoepradja en Onder Toezicht van Pangeran Koesoemadinata Aangelegt 1811 Doorgekapt 26 November tot Maart 1812 (Di bawah Pimpinan Raden Demang Mangkoepradja dan di bawah Penelitian Pangeran Koesoemadinata, dibuat pada tahun 1811, dibobok dari tanggal 26 November sampai 12 Maret 1812).”

Oleh karena itu, Marihandono meragukan keterkaitan isi prasati dan peristiwa tersebut. Daendels, menurut keputusan Kaisar Napoleon Bonaparte, mengakhiri masa jabatan pada 16 Mei 1811. Dia berlayar dari pelabuhan Surabaya menggunakan kapal menuju Eropa pada 29 Juli 1811. Pada bulan September 1811, Sang Mareskalek diterima Napoleon di Paris.

“Dengan demikian periode, yang dimaksudkan dalam prasasti tersebut (tanggal 26 November 1811 sampai 12 Maret 1812) bukan masa pemerintah Daendels, melainkan Raffles,” ungkap Marihandono. Oleh karena itu, patut diduga bahwa yang datang serta mengawasi pembangunan jalan dan bersalaman dengan Pangeran Kornel bukanlah Herman Willem Daendels, karena Daendels sudah meninggalkan Hindia Belanda pada 29 Juli 1811

Tapi, pada masa Raffles pun tak pernah tercatat kunjungannya ke daerah Priangan. Peristiwa pertemuan dan jabat tangan Daendels-Kusumadinata IX justru laris manis di berbagai cerita maupun tutur lisan masyarakat.

Munculnya legenda Daendels-Kusumadinata IX, menurut Marihandono, menunjukan polarisasi politik semasa dan setelah pemerintahan Daendels. Tak hanya terjadi sebatas pada kalangan Eropa, tetapi juga melibatkan kaum bumi putera.

“Munculnya legenda itu menunjukkan beberapa kalangan pejabat Eropa berusaha menciptakan citra tentang Daendels di mata para elit penguasa dan masyarakat bumi putera,” tulis Marihandono. “Hal ini sengaja dimunculkan dan digunakan oleh orang-orang Eropa anti Daendels untuk menyatakan mega proyek Daendels tidak berhasil mengentaskan kondisi kehidupan rakyat.”

Kenyataanya, cerita heroik tersebut masih diperdebatkan. Sebagian mengamini. Lainnya tidak mempercayai, karena sumbernya berasal dari cerita yang dituturkan secara lisan turun temurun di kalangan petinggi dan rakyat Sumedang.

Namun terlepas dari benar atau tidaknya peristiwa Cadas Pangeran itu, ada satu hal yang patut dicontoh. Semangat perlawanan rakyat Sumedang dan keberanian Pangeran Kornel sebagai representasi pemimpin menentang kebijakan kolonial sebagaimana tercermin dalam kisah Cadas Pangeran seharusnya menjadi contoh bagi para pemimpin sekarang untuk lebih berpihak pada kepentingan rakyat banyak. (asura / DK)

Artikel sebelumnya: Cadas Pangeran (1): Jejak Penindasan, Pengorbanan, dan Keberanian

 

Artikel Terkait

JEMBATAN CIRAHONG : Jembatan 2 In 1 Penghubung Dua Kawasan

dinamika

Sungai Citarum (2) : Strategi Si Pengendali Aksi

dinamika

dinamika