Image default
Banner

Cadas Pangeran (3)

Pangeran Kornel

“Kolonel” Penentang Gubernur Jenderal

PANGERAN Kornel adalah nama lain Pangeran Kusumadinata IX, Bupati Sumedang yang menjabat pada tahun 1791 – 1828. Pangeran Kusumadinata IX diangkat sebagai kolonel tituler oleh pemerintah kolonial Belanda. Istilah “kolonel” yang masih langka pada zaman itu kemudian berubah pelafalannya menjadi “kornel”. Nama “Pangeran Kornel” akhirnya lebih terkenal di masyarakat ketimbang nama Pangeran Kusumadinata IX yang sebenarnya, yaitu Raden Asep Djamu.

Pangeran Kusumadinata IX lahir tahun 1762 sebagai putra dari pasangan Adipati Surianagara II (Bupati Sumedang tahun 1761-1765) dan Nyi Mas Nagakasih. Sewaktu ayahnya wafat pada tahun 1765, Raden Asep Djamu baru berusia 2 tahun, sehingga belum dapat diangkat menjadi Bupati Sumedang untuk menggantikan ayahnya lantaran tidak memenuhi syarat.  Setelah mufakat dalam sebuah musyawarah, dipilihlah Demang Tanubaya sebagai Bupati sementara Sumedang. Tak lama, ia digantikan Demang Patrakusumah.

Menjelang dewasa, Raden Djamu melarikan diri ke Limbangan saat akan dinikahkan dengan Raden Ayu Candranegara. Dari Limbangan, Raden Djamu menuju Cianjur dan di sana diangkat menjadi Wedana di Cikalong.

Melihat keadaan Sumedang yang semrawut, Bupati Cianjur mengirim surat kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Akhirnya, Bupati Sumedang kala itu, Tanubaya II, digantikan Raden Djamu dengan gelar Adipati Surianagara III atau Pangeran Kusumadinata IX sebagai Adipati Sumedang ke-12. Pangeran Kusumadinata IX memerintah Sumedang dari tahun 1791 – 1828. Di bawah pimpinan Pangeran Kusumadinata IX, Sumedang mencapai kemakmurannya. Demikian wikipedia.org menuliskan.

Pada masa pemerintahan Pangeran Kornel inilah terjadi peristiwa jabat tangan dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels saat pembangunan jalan raya pos Anyer – Panarukan di ruas Jalan Cadas Pangeran. Kejadian menegangkan yang kemudian divisualisasikan dalam wujud patung ikonik Pangeran Kornel yang menjabat tangan kanan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dengan tangan kirinya di persimpangan Jalan Cadas Pangeran atas dan bawah, tepatnya di Jalan Raya Ciherang, Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. (asura / DK)

Baca juga artikel Sebelumnya:
1. Cadas Pangeran : Jejak Penindasan, Pengorbanan, dan Keberanian
2.
Cadas Pangeran (2): Adakah Pertemuan Pangeran Kornel – Daendels di Jalan Cadas Pangeran?

Herman Willem Daendels

“Mas Galak” Tewas Didera Malaria

ADALAH Meester in de Rechten (Mr.) Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang bersilang tangan dengan Bupati Sumedang, Pangeran Kornel, pada peristiwa pembangunan Jalan Cadas Pangeran yang legendaris itu. Lahir di Hattem, Belanda, tanggal 21 Oktober 1762, penguasa di tanah jajahan Hindia Belanda itu memiliki gelar “Marschaalk” yang kemudian berubah pelafalannya di kalangan orang Jawa dan Sunda menjadi “Mas Galak”.

Perubahan penyebutan yang bukan hanya lantaran gelarnya susah diucapkan lidah para penduduk Pulau Jawa, tapi juga karena sikap dan tindakan Daendels sendiri yang memang galak dan sangat kejam, bahkan cenderung bertangan besi dalam menjalankan pemerintahannya di tanah jajahan. Daendels adalah seorang politikus Belanda yang menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36 menggantikan Gubernur Jenderal Albertus Wiese. Ia memerintah tahun 18081811. Masa itu, Belanda dikuasai Perancis.

Berkarier sebagai tentara hingga mencapai pangkat Letnan Jenderal, Daendels yang mengenyam berbagai pertempuran di sejumlah medan perang  dikirim ke Hindia Belanda sebagai Gubernur Jenderal atas saran Kaisar Napoleon Bonaparte dari Perancis pada 28 Januari 1807. Tiba di Batavia (sekarang Jakarta) 5 Januari 1808, setelah perjalanan panjang melalui Kepulauan Canaria, Daendels diserahi tugas utama melindungi Pulau Jawa dari serangan tentara Inggris. Jawa adalah satu-satunya daerah koloni Belanda-Prancis yang belum jatuh ke tangan Inggris setelah Isle de France dan Mauritius pada tahun 1807.

Daendels menyadari, kekuatan Prancis-Belanda di Jawa tidak mampu menghadapi armada Inggris. Maka, strategi militer pun disusun. Tentara Belanda diisi orang-orang pribumirumah sakit, tangsi militer, dan benteng pertahanan didirikan ; pabrik senjata dan meriam dibangun ; sekolah militer dibuka. Proyek utama Daendels, jalan raya pos Anyer-Panarukan, juga dibangun untuk keperluan militer, yaitu mengusahakan tentaranya bisa bergerak cepat.

Berbeda dengan apa yang dipercaya orang selama ini, Daendels memang memerintahkan pembangunan jalan raya pos di Pulau Jawa. Tapi, tidak dilakukan dari Anyer hingga Panarukan. Menurut wikipedia.org, jalan antara Anyer dan Batavia sudah ada ketika Daendels tiba. Het Plakaatboek van Nederlandsch Indie jilid 14 mengungkapkan, Daendels mulai membangun jalan dari Buitenzorg (Bogor) menuju Cisarua dan seterusnya sampai ke Sumedang. Pembangunan dimulai bulan Mei 1808.

Di Sumedang, proyek pembangunan jalan raya pos terbentur pada kondisi alam yang sulit. Banyak pekerja rodi tewas. Pangeran Kornel sebagai penguasa Sumedang waktu itu memprotes tindakan sewenang-wenang Daendels terhadap rakyatnya. Sehingga, memunculkan kejadian jabat tangan tak lazim antara Pangeran Kornel dengan Daendels yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Cadas Pangeran.

Dari Pekalongan hingga Surabaya pun sebenarnya telah ada jalan. Jadi, Daendels hanya melebarkannya. Tetapi ia memang memerintahkan pembukaan jalan dari Surabaya sampai Panarukan sebagai pelabuhan ekspor paling ujung di Jawa Timur saat itu.

Pada masa Daendels, banyak pejabat Belanda tidak menyukai Perancis. Mereka tetap setia kepada dinasti Oranje yang melarikan diri ke Inggris dan diam-diam menentang Daendels dengan menulis berbagai keburukannya. Termasuk melaporkan proyek pembangunan jalan raya pos yang dilakukan dengan kerja rodi dan menelan banyak korban jiwa. Padahal sesungguhnya, lawan-lawan politik Daendels itu tidak berada di Jawa ketika proyek pembangunan jalan raya pos dibuat. Ini terbukti dari penyebutan pembangunan jalan raya pos mulai Anyer sampai Panarukan, sementara Daendels membuatnya dari Buitenzorg.

Memang arsip-arsip laporan lawan-lawan politik Daendels lebih banyak ditemukan dan disimpan di Belanda serta dijadikan bahan rujukan penulisan sejarah. Sedangkan data-data laporan Daendels tersimpan di Perancis, karena dia melaporkan semua pelaksanaan tugasnya kepada Napoleon setelah penghapusan Kerajaan Belanda pada tahun 1810 oleh Kerajaan Perancis.

Kontroversi lain menyangkut pembangunan jalan raya pos adalah tidak pernah disebutkannya manfaat jalan tersebut oleh para sejarawan dan lawan-lawan politik Daendels. Padahal manfaatnya lumayan terasa. Misalnya, hasil produk kopi dari pedalaman Priangan semakin banyak yang diangkut ke pelabuhan Cirebon dan Indramayu. Padahal sebelumnya, produk itu membusuk di gudang-gudang kopi di Sumedang, Limbangan, Cisarua, dan Sukabumi. Lantas, jarak Surabaya-Batavia yang sebelumnya ditempuh dalam waktu 40 hari bisa disingkat menjadi 7 hari saja. Ini sangat bermanfaat bagi pengiriman surat yang oleh Daendels kemudian dikelola dalam dinas pos.

Di sisi lain, Daendels dikatakan membuat birokrasi lebih efisien dan mengurangi korupsi. Ironisnya, ia sendiri dituduh korupsi dan memperkaya diri sendiri. Kemudian, terhadap raja-raja di tanah Jawa, Daendels bertindak keras, tetapi kurang strategis, sehingga mereka menyimpan dendam kepadanya. Di mata Daendels, semua raja pribumi harus mengakui raja Belanda sebagai junjungannya dan meminta perlindungan kepadanya.

Akhirnya, Daendels dipanggil pulang ke Perancis oleh Napoleon Bonaparte. Kekuasaannya harus diserahkan kepada Jan Willem Janssens tanggal 16 Mei 1811. Setiba di Paris dari Batavia pada bulan September 1811, Daendels disambut sendiri oleh Napoleon di istana Tuiliries, Paris. Dia lalu diberi instruksi memimpin tiga divisi (30 ribu tentara) Wurtemberg, kesatuan Legiun Asing (Legion Estranger) bantuan dari raja-raja sekutu Perancis yang terkenal pemberani, pandai bertempur, namun sulit dikontrol karena latar belakangnya sebagai tentara bayaran pada masa sebelum penaklukan oleh Prancis.  Bersama pasukannya, Daendels yang dianugerahi pangkat Kolonel Jenderal terlibat dalam penyerbuan ke Rusia pada tanggal 22 Juni 1812.

Pasca Napoleon kalah di Waterloo dan Belanda kembali merdeka, Daendels ditawari pekerjaan menjadi Gubernur Jenderal di Ghana, Afrika, pada tahun 1815. Ia meninggal dunia di sana akibat malaria pada tanggal 8 Mei 1818. Jauh dari tanah kelahirannya di Belanda, dan bumi yang pernah dijajahnya, Indonesia. (asura / DK)

Artikel Sebelumnya:
1. Cadas Pangeran : Jejak Penindasan, Pengorbanan, dan Keberanian
2. Cadas Pangeran (2): Adakah Pertemuan Pangeran Kornel – Daendels di Jalan Cadas Pangeran?

Nagasasra Keris Penolak Seribu Bencana

SATU “sosok” yang terlibat dalam peristiwa jabat tangan tidak galib antara Bupati Sumedang Pangeran Kornel dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels saat pembuatan Jalan Cadas Pangeran adalah Nagasasra. Ini bukan figur manusia, hewan, atau tetumbuhan. Nagasasra adalah sebilah keris pusaka yang hulunya digenggam tangan kanan Pangeran Kornel, sementara tangan kirinya menyambut uluran tangan kanan sang penguasa tanah jajahan.

Menurut laman TarungNews, keris Nagasasra sangat terkenal dalam cerita dan budaya masyarakat tanah Jawa. Mempunyai daya magis yang sangat luar biasa, konon keris Nagasasra hanya bisa dimiliki seorang raja dan keturunannya. Dalam dunia perdhuwungan, keris ini adalah salah satu dari dapur (bentuk) keris yang mempunyai luk atau lekukan 13, sehingga mempunyai kesan angker dan sangat berwibawa. Kesan paling menonjol pada keris kesohor itu adalah ricikan yang terdapat pada bentuk nagasasra kruwingan, greneng, dan ripandan.

Sebagian besar keris Nagasasra dihias dengan  tatahan emas, sehingga penampilannya terkesan megah, mewah, indah, dan eksotis. Ada dua mahkota naga pada keris Nagasasra. Satu berbentuk mahkota topong seperti yang dikenakan tokoh wayang Adipati Karna. Satunya lagi berbentuk mahkota semacam yang dipakai Prabu Kresna.

Selain ber-luk 13, ada juga keris Nagasasra berluk 11, 9, dan 7. Oleh sebab itu, kalau menyebut keris Nagasasra harus disertai keterangan luk-nya. Sebagian keris Nagasasra juga memiliki bola kecil yang terbuat dari emas atau berlian pada moncong mulut naganya. Butiran perhiasan ini berguna untuk meredam sifat galak dan panas pada tuah keris tersebut.

Apabila situasi gawat, misalnya terjadi rusuh atau perang, maka butiran berlian atau emas yang menyumpal mulut naga pada keris Nagasasra bisa dicopot. Tentunya dengan cara “magis” pula. Itulah makanya tuah keris Nagasasra dan kerabatnya (Naga Pasa, Naga Siluman, Nagaraja, dan lainnya) tidak jauh dari kewibawaan, kederajatan, kepemimpinan, dan kekuasaan.

Alkisah, menurut legenda, keris Nagasasra luk 13 bertahtakan emas dan berlian dibuat pada zaman Majapahit, semasa pemerintahan Prabu Brawijaya V (1466-1478). Pembuatnya Pangeran Mpu Sedayu yang lebih dikenal dengan nama Mpu Supa Mandrangi atau Mpu Pitrang. Keris bertuah dengan dapur (bentuk) naga yang mempunyai seribu sisik emas dan bersabuk intan berlian ini diyakini mempunyai tuah yang bisa meredam seribu macam bencana dari berbagai penjuru kerajaan Majapahit kala itu.

Konon, sang Mpu mengambil bahan pembuatan keris Nagasasra dari batu meteor, lalu menempanya di kawah gunung yang sangat panas, dan menyepuhnya di pinggir pantai sampai air laut bergejolak. Sehingga, disebut segara wedang, air laut yang bergejolak seperti air panas yang bergelora.

Keberadaan keris Nagasasra hingga kini masih diliputi misteri. Ada yang percaya disimpan di Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Malah sebagian besar orang menduga, keris Nagasasra terakhir dipegang Bung Karno, Presiden Pertama Republik Indonesia. Sebelumnya, keris Nagasasra dipegang Pangeran Kornel atau Bupati Surianagara III yang bergelar Pangeran Kusumadinata IX, Bupati Sumedang, Jawa Barat.

Dari sisi spiritual dan supranatural, dipegangnya keris Nagasasra oleh para pembesar negeri ini bisa dimaklumi. Pasalnya, keris Nagasasra memiliki daya magis luar biasa. Di samping untuk kewibawaan, pamor keris ini juga dipercaya bisa melanggengkan kekuasaan. Keyakinan spiritual menyebutkan, siapapun yang berniat mencalonkan diri menjadi pemimpin, mulai kepala daerah tingkat kota/kabupaten, provinsi, bahkan sampai presiden sekalipun mesti  menguasai lebih dulu piandel (tuah) keris Nagasasra.

Sedang dari sudut pandang sejarah, keris Nagasasra memiliki sejarah panjang dan relevansi kekuasaan sepanjang zaman. Selama berabad-abad, keris Nagasasra dijadikan pancer kerajaan, bahkan ketika negara telah berubah bentuk menjadi republik sekalipun. (asura / DK) *sumber foto : wikipedia.org

Artikel Sebelumnya:
1. Cadas Pangeran : Jejak Penindasan, Pengorbanan, dan Keberanian
2.
Cadas Pangeran (2): Adakah Pertemuan Pangeran Kornel – Daendels di Jalan Cadas Pangeran?

Artikel Terkait

dinamika

JEMBATAN CIRAHONG : Jembatan 2 In 1 Penghubung Dua Kawasan

dinamika

KM 0 Tonggak Sejarah Kota Bandung

adm1n@Web