Image default
Banner

Cadas Pangeran

Jejak Penindasan, Pengorbanan, dan Keberanian

Sepenggal jalan panjang Anyer – Panarukan
Menyimpan kisah kelam nan memilukan
Tentang meregangnya ribuan nyawa pekerja dan keberanian seorang bangsawan
Menentang kejamnya penindasan di masa penjajahan
– Jalan Cadas Pangeran sekitar Tahun 1900 – Sumber foto internet

MEMINJAM idiom “Banyak jalan menuju Roma”, pun demikian bila hendak menuju bagian tengah dan timur Pulau Jawa dari ujung baratnya. Banyak jalan untuk melintasi empat provinsi di Pulau Jawa. Dapat melewati jalan darat. Bisa juga melalui jalur laut dan udara.

Khusus jalan darat, selain menjajal tol Trans Jawa, kita bisa memakai jalur klasik jalan di belahan utara dan selatan untuk berkeliling Jawa. Jalur selatan melalui Garut atau Tasikmalaya. Sedangkan jalur utara melewati Sumedang dan Cirebon.

Jalur jalan di sebelah utara Pulau Jawa ini merupakan jalan raya nasional yang menjadi bagian dari jaringan jalan raya pos (de grote postweg) yang membentang dari ujung barat (Anyer) sampai ujung timur Pulau Jawa (Panarukan/Banyuwangi). Dibangun tahun 1808 semasa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels berkuasa di tanah Hindia Belanda (Indonesia sekarang) pada 1808-1811, pembangunan jalan raya pos sepanjang 1.044 kilo meter itu memakan banyak korban warga pribumi tanah jajahan akibat sistem kerja paksa.

Satu di antara banyak tempat yang paling sulit dan memakan banyak korban dalam pembangunan jalan raya pos adalah Cadas Pangeran di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Cadas Pangeran merupakan nama suatu tempat, sekitar tujuh kilo meter di barat daya Kota Sumedang, yang menjadi bagian dari jalan raya yang menghubungkan poros Bandung – Sumedang – Majalengka – Cirebon. Bukan hanya di Sumedang, ketenaran Cadas Pangeran bahkan sampai ke daerah lain di luar Kota Tahu itu.

Jalan Cadas Pangeran sepanjang tiga kilo meter yang mulai dibangun tahun 1809 itu memiliki tikungan berkelok tajam, juga sejumlah tanjakan dan turunan curam. Salah satu sisinya berhadapan dengan jurang menganga yang di bawahnya terhampar hutan lumayan lebat. Sementara di sisi lainnya berdiri tinggi tebing cadas yang ditumbuhi pepohonan rapat.

Di Cadas Pangeran, pembangunan jalan raya pos Anyer – Panarukan dulu memang harus menembus kawasan dengan kondisi alam berupa perbukitan berlereng curam nan terjal dan bermaterial batu cadas nan keras. Medan berat, peralatan dan kemampuan para pekerja serba terbatas, perbekalan tidak sepadan, serta diperparah berjangkitnya penyakit dan ancaman dimangsa binatang buas di tengah hutan belantara mengakibatkan lima ribuan pekerja kehilangan nyawa. Pembuatan jalan pun meleset dari jadwal yang ditentukan.

Namun, Daendels tetap bersikeras agar Sumedang dapat menyelesaikan bagian jalan raya pos yang tengah dibangun. Masyarakat Sumedang dipaksa bekerja membuat jalan, kendati banyak yang meregang nyawa. Pekerja yang menggarap pembangunan jalan raya pos memang diambil dari warga lokal yang sengaja diminta Sang Gubernur Jenderal kepada penguasa setempat (bupati) di lokasi bersangkutan.

Menurut budayawan Sumedang, Raden Moch. Achmad Wiriaatmadja, sebagaimana dilansir tribunnews.com, jalan Cadas Pangeran dibangun dari darah para pribumi yang dipaksa bekerja rodi di bawah perintah penjajah kolonial Belanda.

Kesemena-menaan Daendels dalam pembangunan jalan raya pos terhadap terhadap rakyatnya, membangkitkan amarah Bupati Sumedang waktu itu, Pangeran Kusumadinata IX (17911828) atau lebih populer disebut Pangeran Kornel. Kekesalannya ditumpahkan ketika Daendels melakukan inspeksi pembangunan jalan di ruas Cadas Pangeran.

Diceritakan, ketika menyambut Daendels, Pangeran Kornel berjabat tangan dengan menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang hulu keris pusaka Nagasasra yang masih tersimpan di dalam warangka di pinggangnya. Jabat tangan yang tak lazim itu tidak sekadar menunjukkan protes Pangeran Kornel terhadap Daendels, tetapi juga sebagai ancaman sekaligus tantangan terhadap sang penjajah. Aksi heroik Pangeran Kornel ini dapat diartikan sebuah perlawanan simbolik masyarakat Sumedang terhadap perlakuan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang sangat tidak manusiawi.

Selain memprotes secara simbolik, Pangeran Kornel juga menantang Gubernur Daendels bertarung satu lawan satu. Pangeran Kornel berkata, dirinya selaku Adipati Sumedang lebih baik berjuang dan berkorban sendiri daripada harus mengorbankan seluruh rakyat Sumedang. Mendengar hal tersebut, Daendels terpaksa mengubah siasatnya. Daendels berjanji di hadapan Pangeran Kornel untuk mengambil alih pekerjaan pembuatan jalan oleh tentara Zeni Belanda. Sedangkan rakyat Sumedang dipersiapkan untuk tenaga kerja cadangan saja.

Namun, janji Daendels hanya akal bulus muslihat. Beberapa hari kemudian, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang sangat kejam dan oleh rakyat Pulau Jawa dijuluki “Mas Galak” itu (rata-rata orang Jawa dan Sunda tidak bisa menyebutkan gelar “Marschaalk” Herman Willem Daendels, sehingga menyebutnya Mas Galak) membawa ribuan pasukan Belanda untuk menumpas perlawanan Pangeran Kornel dan rakyat Sumedang.

Rakyat Sumedang di bawah pimpinan Pangeran Kornel beserta segenap pembesar Sumedang lainnya melawan dengan gigih penindasan Belanda. Terjadi pertempuran tidak seimbang. Belanda yang memiliki kekuatan tangguh menang. Pasukan Sumedang yang kekurangan persenjataan tumbang. Pemberontakan Pangeran Kornel dipatahkan. Ratusan rakyat Sumedang tewas dibantai pasukan Belanda, termasuk Pangeran Kornel sendiri.

– Cadas Pangeran Tahun 1910 – Sumber foto: travel.tempo.co

Untuk mengenang keberanian Pangeran Kornel menentang kebijakan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, jalan yang melintasi kawasan itu diberi nama Jalan Cadas Pangeran. Kemudian, dibuatkan juga patung Pangeran Kornel di persimpangan Jalan Cadas Pangeran untuk menggambarkan insiden kala Pangeran Kornel bersalaman memakai tangan kiri dengan Daendels.

Melihat prasasti yang ada di pinggir jalan Cadas Pangeran sebelah atas, tebing cadas dibobok pada tanggal 26 November 1811 dan berakhir 12 Maret 1812. Saat ini, jalan yang melintasi wilayah Cadas Pangeran terbagi dua, yaitu di bagian atas dan bagian bawah yang terletak di tebing Cadas Pangeran. Jalan raya pos yang dibangun di bawah perintah Daendels berada di bagian atas. Sebagian jalurnya berupa tanjakan yang cukup curam, khususnya dari arah timur ke barat.

Setelah hampir seratus tahun dari pembangunan awal jalan raya pos, di wilayah Cadas Pangeran dibuatkan jalan baru pada tahun 1908, ketika Sumedang di bawah pimpinan bupati Pangeran Aria Soeria Atmadja yang dikenal dengan nama Pangeran Mekah.  Posisinya berada di bagian bawah jalan raya pos Daendels. Pembangunan jalan baru Cadas Pangeran itu dilakukan lantaran jalan yang lama memiliki kondisi cukup berat dengan tanjakan tajam dan belokan cukup banyak. Sehingga, lalu lintas yang ketika itu banyak mengandalkan kereta kuda harus dibantu dengan kerbau atau sapi untuk melintasinya.

Jalan Cadas Pangeran baru ini melintasi tebing cadas yang curam. Tujuannya agar kontur jalan yang dibangun tidak terlalu banyak tanjakan atau turunan. Tapi, kondisinya menyesuaikan dengan tebingnya, sehingga banyak tikungan tajam. Setidaknya sampai hampir seratus tahun lamanya, jalan Cadas Pangeran bawah ini cukup representatif sebagai jalur lalu lintas kereta kuda sampai kendaraan bermotor.

Menginjak tahun 1990-an, jalan Cadas Pangeran bawah yang dibangun di tebing curam ini dianggap sudah tidak mampu lagi menampung lalu lintas kendaraan yang semakin padat, terutama kendaraan besar dari kedua arah saat berada di tikungan. Jika ada kendaraan besar seperti bus dan truk berpapasan di tikungan, maka salah satunya harus mengalah dan berhenti dulu.

Menilik kondisi itu, demikian catatan sumedangtandang.com, pada tahun 1995, pemerintah bermaksud menghidupkan kembali jalan Cadas Pangeran lama di bagian atas dengan cara memperlebarnya. Dalam proses pelebaran jalan Cadas Pangeran atas, terjadi bencana longsor akibat kesalahan teknis pengerukan tanah di lereng jalan lama. Pengerukan lereng dilakukan nyaris tegak lurus, sehingga bagian atas tidak memiliki penyangga. Lereng jalan ini akhirnya rubuh menutupi sampai ke jalan bagian bawah.

Longsoran ini mengakibatkan putusnya jalan yang menghubungkan Sumedang – Cirebon. Jalan Cadas Pangeran bagian bawah tertutup longsoran dengan panjang mencapai 500 meter. Alhasil, jalan Cadas Pangeran tidak bisa dilewati kendaraan, dan proses pelebaran jalan Cadas Pangeran atas dibatalkan.

– Cadas Pangeran Kini – Foto: Asep Herdiana (https://perizinan.sumedangkab.go.id)

Bencana longsor mengakibatkan kawasan Cadas Pangeran tidak bisa dilalui kendaraan selama hampir setengah tahun. Jalan Sumedang – Bandung lumpuh. Kendaraan besar seperti bus tak bisa melewati Sumedang. Hanya kendaraan kecil yang dipebolehkan masuk ke jalur alternatif Citali – Rancakalong – Sumedang sejauh 30 kilo meter.

Proses pelebaran jalan akhirnya dialihkan ke jalan Cadas Pangeran bawah. Perbaikan dan pelebaran jalan Cadas Pangeran bawah yang menggunakan sistem Road Contilever Construction itu memakan waktu hampir satu tahun. Hasilnya, badan jalan menjadi lebih lebar dan seperti menempel pada tebing, lantaran disangga pelat beton bertulang.

Dengan menggunakan teknologi mutakhir itu, jalan Cadas Pangeran bawah kini memiliki lebar sampai 12 meter, sehingga leluasa dilalui kendaraan besar sekalipun. Kendaraan besar tidak perlu lagi mengantre ketika berpapasan. Bahkan sejak saat itu, kendaraan tronton dan truk trailer yang sebelumnya tak bisa masuk, sekarang bisa leluasa melintasi jalan Cadas Pangeran.  (asura / DK)

Artikel Berikutnya: Cadas Pangeran (2) : Adakah Pertemuan Pangeran Kornel – Daendels di Jalan Cadas Pangeran?

Artikel Terkait

Sungai Citarum (3) : Nila di Tarumanegara dan Legenda Gunung di Bandung Utara

dinamika

Cadas Pangeran (3)

dinamika

Cerita Braga Baheula

dinamika