Image default
Banner

Cerita Braga Baheula

JALAN  BRAGA (bagian terakhir dari dua tulisan)

Societeit  Concordia  gedung  unjuk  Tonil  Braga
Pertokoan  Eropa  paling  terkemuka  di  Hindia  Belanda
Tempat  “remang – remang”  penggoda  nafsu  pria
Potret  terang  gelap  Braga  baheula

 

foto: wikipedia.org

JEJAK panjang kawasan Braga, jalan protokoler ikonik yang menjadi maskot dan objek wisata utama Kota Bandung, menyimpan banyak cerita. Etalase Kota Bandung masa kini ini, di masa lalu pernah menjadi pusat kehidupan sosial ekonomi masyarakat kolonial Belanda. Jalan Braga zaman baheula adalah berpagutnya kesemarakan gaya hidup “Parijs van Java” yang glamour plus bumbu segala macam skandal dan kemewahannya dengan kehidupan intelektual dan “budaya yang mengesankan”.

Masa silam Jalan Braga, tulis Haryoto Kunto dalam buku “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe”, bisa ditelusuri, terutama melalui tulisan W.H. Hoogland, wartawan dan aktivis “Bandoeng Vooruit”. Inilah organisasi perkumpulan orang-orang Belanda yang mengembangkan sektor pariwisata di tatar Priangan, khususnya Kota Bandung, pada masa lalu.

Hoogland, kata Sang “Kuncen Bandung” lulusan Teknik Planologi Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, antara lain mengisahkan pengalaman R. Teuscher, ahli tanaman yang tinggal di pojok perempatan Jalan Naripan – Jalan Tamblong (nama tukang kayu Cina Kongfu) tatkala pertama kali datang ke Kota Bandung tahun 1874.

Di Jalan Braga waktu itu, “Baru ada enam atau tujuh rumah batu (tembok),” kata Teuscher, “Sepanjang Pedatiweg terdapat beberapa warung bambu beratap rumbia, selang-seling dengan rumah yang agak besar, disewa orang Eropa yang kebanyakan pegawai pemerintah dan pensiunan.”

Bandung sendiri pada tahun 1876, menurut seorang misionaris Zending, merupakan sebuah desa yang maju. Bandoeng is een flinke dessa. Hingga tahun 1881, di desa maju itu baru terdapat delapan rumah bergaya arsitektur Eropa.

Dibukanya beberapa usaha perkebunan di daerah Priangan membuat orang-orang Belanda dan bangsa Eropa lainnya berduyun-duyun bermukim di Bandung. Para Preangerplanters ini lalu merasa perlu mendirikan suatu tempat pertemuan sosial dan rekreasi yang biasa disebut “Societeit”. Maka, disewalah sebuah rumah kecil bekas warung serba ada yang habis terbakar di Jalan Braga. Harga sewanya 15 gulden saban bulan. Si empunya rumah sekalian menjadi jongosnya.

Lantaran anggota societeit kemudian kelewat banyak, rumah itu terlalu sempit buat menampung seluruh anggota. Berpindahlah perkumpulan yang berdiri tahun 1870-an itu ke sebuah rumah papan di samping Hotel Homann di Jalan Asia Afrika yang dulu merupakan jaringan jalan raya pos (de grote postweg). Rumah di seberang ujung selatan Jalan Braga ini kelak menjadi toko serba ada De Vries. Dan, kini menjadi kantor sebuah bank swasta.

Namun karena gedung papan kayu di sisi Homann tersebut masih terlalu kecil buat pertunjukan sandiwara, maka tempat perkumpulan orang-orang Eropa yang diberi nama “Societeit Concordia” itu berpindah tempat lagi ke gedung di pojok selatan Jalan Braga. Gedung baru “Societeit Concordia” itu kini dikenal sebagai Gedung Merdeka atau Gedung Museum Konferensi Asia Afrika.

Pada tahun 1890, gedung kayu itu dibeli Societeit Concordia dari pemilik lamanya, seorang Cina. Menurut pendeta Marius Buys yang menjadi Dominee Gereja Protestan di Bandung (1887-1890), Gedung Societeit Concordia adalah gedung serba guna. Pernah menjadi tempat pertunjukan Toneelvereeniging Braga (Perkumpulan Tonil Braga), tempat pertemuan Bandoengsche Landbouwvereeniging, vergaderingen (tempat rapat), dan tempat khotbah agama Kristen Protestan.

Perkumpulan Tonil Braga didirikan di Jalan Braga tanggal 18 Juni 1882 oleh Asisten Residen Priangan, Pieter F. Sijthoff. Toneelvereeniging Braga itu acap unjuk kebolehan di Gedung Societeit Concordia untuk menghibur kaum elit Eropa yang tinggal di Bandung. Berkat usaha Sijthoff, kehidupan malam di Jalan Braga menjadi semarak dan meriah.

Toko Senjata Hingga Toko Serba Ada

NAMUN keanggotaan Societeit Concordia teramat eksklusif. Terbatas hanya buat orang Eropa (personen van Europese afkomst), orang non Eropa yang sudah dipersamakan (als Nederlander genaturaliseerde), dan para pemuka masyarakat (aanzienlijke rang of maaschappelijke positie).

Orang-orang Belanda berpangkat rendah dan Indo Belanda cukup berleha-leha menghibur diri di Societeit Ons Genoegen (Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan di Jalan Naripan) atau main bilyar di kamar bola “Vogelpool” di Gedung DENIS (Gedung Bank Jabar Banten) yang arsitekturnya mirip Hotel Homann.

Sementara orang-orang Melayu biasa bertemu di balai pertemuan berupa rumah panggung di Jalan Kepatihan yang bernama Societeit Mardi Harjo. Di sinilah kaum pergerakan nasional seperti Sukarno yang di kemudian hari menjadi Presiden Pertama Republik Indonesia dan tokoh-tokoh pribumi lainnya melakukan pertemuan.

foto: wikipedia.org

Tak memerlukan waktu lama, Jalan Braga di penghujung abad 19 dan permulaan abad 20 berkembang menjadi “De meest Europeesche winkelstraat van Indie”. Komplek pertokoan Eropa yang paling terkemuka di Hindia Belanda.

Toko (winkel) pertama yang didirikan di Jalan Braga adalah toko senjata api milik C.A. Hellerman. Toko yang berdiri tahun 1894 itu juga menjual bermacam-macam kereta kuda, sepeda, dan sekalian menjadi bengkel reparasi senjata api. Lantaran kala itu harga tanah di Jalan Braga masih murah, Hellerman membangun beberapa toko yang lantas dijualnya kepada para pengusaha Eropa yang mulai membanjiri Parijs van Java, sebutan Kota Bandung tempo doeloe.

Toko paling besar dan tergolong serba ada di Jalan Braga adalah Onderling Belang (OB). Spesialisasinya mode dan pakaian. OB yang terkenal sebagai mode centra di Amsterdam, Belanda, membuka cabang kali pertama di Surabaya. Kepala Cabang OB Surabaya, K. van Doodenweerd, berspekulasi mendirikan toko serupa di Bandung. Dan, di bawah pimpinan H.J.M. Koch, OB Cabang Bandung berhasil mendatangkan laba besar, kendati mendapat saingan berat dari toko sejenis yang ada di Jalan Braga.

Pesaing berat OB persis berdiri di depan hidung sendiri. Toko mode dan pakaian (modemagazijn) “Au Bon Marche”. Dagangan unggulannya gaun-gaun wanita ala Paris yang selalu up to date. Memakai nama yang berbau Perancis, toko ini didirikan A. Makkinga tahun 1913.

Di Jalan Braga masih ada rumah mode dan kleermaker (penjahit) kesohor lainnya. Konpeksi atau kleermakerij buat kaum wanita ada di Keller’s Mode-Magazijn yang digawangi suami istri G.J. Keller. Pasangan itu lama menggeluti bisnis konpeksi pakaian di Belanda dan sudah terkenal di kota-kota besar seantero Hindia Belanda. Kali pertama tiba di Hindia Belanda Oktober 1923, mereka berkeliling Jawa untuk mencari kota tempat bermukim.

foto: wikipedia.org

Keduanya menjatuhkan pilihan memulai usaha di Bandung setelah tertarik dengan rencana pengembangan kota ini oleh Gemeente Bandoeng, Pemerintah Kota Bandung semasa kolonial. Semula Keller menyewa ruangan dari toko milik Firma E.W. van Loo. Tahun 1929, dia bisa memiliki seluruh toko itu. Terletak di sebelah kanan Braga Permai, toko tersebut pada masa kini menjadi toko kaca mata Kasoem.

Sementara untuk busana kaum pria, pilihannya adalah August Savelkoul, kleermaker paling top di seluruh wilayah Hindia Belanda. Pasalnya, selain langganan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, konon penjahit ini juga yang kali pertama menggunakan metode “kleeding naar maat”, pakaian dibuat menurut ukuran si pemakai. Sebuah cara yang amat luar biasa pada waktu itu, namun sangat biasa buat zaman now.

Tahun 1891, August Savelkoul mengambil alih perusahaan pakaian Vaxelaire di Gambir, Batavia (Jakarta), dan mengganti namanya menjadi N.V. Kleedingmagazijn v.h. Firma August Savelkoul. Perusahaan itu pindah ke Bandung, membangun gedung di Jalan Braga tahun 1912, dan kelar tahun 1913. Penjahit August Savelkoul mencapai puncak ketenaran saat dikelola A. Nipius, kleermaker jempolan lulusan Mode-Akademie Dresden, Jerman, yang berpengalaman puluhan tahun dalam urusan potong-memotong dan jahit-menjahit pakaian. Layanan paling yahud penjahit Savelkoul ….. pakaian pesanan pelanggan bisa rampung cuma dalam hitungan jam.

Pokoknya, segala kebutuhan bisa dibeli di Jalan Braga pada masa Parijs van Java. Buat para perokok tersedia toko sigaret  dan cerutu Tabaksplant. Bila haus dan lapar, mampir saja ke restoran Firma Kuyt en Vesteeg, Maison Bogerijen, Maison Boin, atau Het Snoephuis, yang ahli dalam cuisiniers, pattisiers, dan glaciere.

Maison Bogerijen adalah café-restaurant dan tukang roti paling “centil (genit)” di Bandung dan paling beken di Braga tempo doeloe. Inilah satu-satunya café-restaurant yang memasang lambang Kerajaan Oranje Belanda di bangunannya. Arkian, suami istri Bogerijen meresmikan restorannya setelah mendapat piagam restu dari Sri Ratu di Nederland. Alhasil, cuma di Maison Bogerijen pengunjung bisa mendapatkan hidangan istimewa “Koningin Emma Taart” dan “Wilhelmina Taart” yang harus indent (dipesan) sebulan sebelumnya. Selain itu, semua daftar menu di sini ditulis dalam Bahasa Perancis. Begitu Perancis-nya, sehingga perkedel jagung tertera sebagai “Croquettes de Mais”. Alamak ….!!!

Untuk yang membutuhkan jam tangan berkualitas tinggi, silakan datangi Horlogerie Stocker, toko milik dua orang Swiss, H.P. Stocker dan P.E. Huber, yang menjual segala macam arloji di Jalan Braga sejak 1926.

Toko tertua kedua di Jalan Braga setelah toko senjata Hellerman adalah toko milik N.V. Handelmy – C.M. Luyks. Didirikan tahun 1898, mereka berjualan alat potret, alat kantor, gramophones, meja bilyar, agen penjual, dan akhirnya menjadi toko “Provisien en Draken (P en D)” terbesar di Bandung.

Adapun para penyuka perhiasan bisa mencarinya di toko perhiasan (juweliers) De Concurrent. Berdiri tahun 1908, toko ini terakhir dimiliki W. Olberg pada tahun 1921.

Di Jalan Braga berdiri pula tahun 1919 agen penjual mobil merangkap bengkel-asembling (suku cadang) paling besar, Fuchs & Rens. Perusahaan ini patungan antara F.J. Fuchs, importir mobil di Hindia Belanda sejak 1886, dengan rekan kongsinya, Rens.

Di bawah manajer E. Hilkers, pada tahun 1928, Fuchs & Rens merakit mobil Packard, Chrysler, De Soto, Plymouth, Renault, serta vracht-auto merk Fargo. Ruang pamer (showroom) Fuchs & Rens di Jalan Braga adalah tempat para Preangerplanters, juragan perkebunan di gunung-gunung seputaran Bandung yang bergelimang uang, saling berebut mengganti mobilnya dengan sedan keluaran paling anyar. Sekarang lokasi tempat perakitan dan ruang pamer Fuchs & Rens berganti wujud menjadi mall, apartemen, dan hotel mentereng, Braga City Walk.

Menyangkut soal finansial, di Jalan Braga pernah berkantor tiga bank ternama. Escompto Bank, DENIS Bank, Javasche Bank. Escompto Bank atau N.I. Escompto My adalah bank pertama di Kota Bandung yang didirikan jauh sebelum Gemeente Bandoeng berdiri. Kantornya semula di Jalan Merdeka Lio. Bank ini cepat berkembang setelah hampir semua juragan perkebunan di dataran tinggi Priangan menjadi nasabahnya, sehingga kantornya pindah ke Jalan Braga tanggal 1 Mei 1900. Sejak saat itu, lahirlah ungkapan di kalangan para Preangerplanters, “Naar beneden geld halen!” Ke bawah (ke Kota Bandung masudnya), mengambil uang.

foto:wikipedia.org

Pada 29 Januari 1912, kantor Escompto Bank menempati gedung baru di pokok alun-alun Bandung sebelah utara, berseberangan dengan Kantor Pos Besar. Bekas kantor Escompto Bank di Jalan Braga kemudian difungsikan menjadi Balai Wartawan di masa Indonesia merdeka dan kini Apotek Kimia Farma.

Adapun bank yang benar-benar munggaran (kali pertama) didirikan di Jalan Braga adalah DENIS Bank dan Javasche Bank. De Erste Nederlandsche – Indische Spaarkas en Hypotheek Bank alias DENIS Bank merupakan bank tabungan, hipotek, dan asuransi yang pertama kali didirikan di Nederland Indie (Hindia Belanda) pada tahun 1915. Lokasinya di Jalan Braga No. 14. Bekas kantor DENIS Bank sekarang menjadi Kantor Pusat Bank Jabar Banten (BJB).

Mengingat prospek cerah perekonomian Bandung sebagai ibu kota Priangan, Pemerintah Hindia Belanda juga mendirikan Javasche Bank tahun 1909. Pada awal pendirian, kantornya masih kecil dan sederhana. Baru pada akhir tahun 1920-an, Javasche Bank membangun kantor besar di sebuah lapang di ujung utara Jalan Braga. Tempat ini semula merupakan lokasi pertemuan Preangerplanters pada Sabtu sore untuk memamerkan mobil-mobil sedan barunya. Gedung besar nan megah itu kini ditempati Bank Indonesia Cabang Jawa Barat.

Sedangkan gedung di seberang  Javasche Bank yang sekarang menjadi kantor sebuah instansi pemerintah dulunya adalah rumah gedong kepunyaan Soesman, Belanda totok pemilik kuda balap paling jempolan di Kota Bandung. Istal kudanya berderet di belakang rumahnya. Sementara di sebelah gedung itu terdapat kantor perusahaan minyak kelapa (oliefabrieken) Insulinde. Pernah menjadi kantor kepolisian Komdak Langlang Buana, sekarang gedung tersebut menjadi kantor Bank Jabar Banten Syariah.

wikipedia.org

Di sebelah Gedung Insulinde, berdiri toko buku dan percetakan Van Dorp & Co. Toko ini berperan sebagai prasarana penunjang kehidupan intelektual warga Bandung. Ini sesuai angan-angan para pendahulu pembangun Kota Bandung yang hendak menjadikan Bandung pusat intelektual, pusat instansi pemerintah, dan kota industri di Hindia Belanda.

Gaya seni arsitektur Van Dorp dan dua bangunan lainnya di Jalan Braga, Javasche Bank (kini Bank Indonesia) dan Majestic Theater (sekarang Gedung Kebudayaan), merupakan perpaduan gaya arsitektur Barat (Belanda) dengan seni ukir dan arsitektur tradisional Timur (Indonesia). Bentuk bangunan ketiga gedung itu sering disebut “blikken trommel” (kaleng biskuit). Di Kota Bandung, gedung lain yang memadukan gaya seni arsitektur Barat – Timur (Indo – Europeeschen Architectuur Stijl) adalah Gedong Sate dan bangunan kampus ITB.

Antara Kembang dan “Kembang”

NAH, di depan toko Van Dorp terletak pasar kembang tempo doeloe. Salah satu jongkonya menjadi markas kecil perkumpulan Bandoeng Vooruit. Namun toko kembang paling oke di Jalan Braga adalah Bloemenhandel “Abudantia” milik G.J. Boom. Toko kembang Abudantia juga yang setiap hari memasok bunga anggrek dan mawar segar untuk menghiasi istana Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Weltevreden (Gambir), Batavia. Bunga-bunga itu diangkut lewat kereta api atau pesawat terbang sejak tahun 1925 sampai 1941.

foto: wikipedia.org

Di samping kembang dalam makna sesungguhnya, di Jalan Braga juga terdapat “kembang” dalam konotasi negatif. Sebagai tempat pelesiran kaum Preangerplanters, kurang komplit kiranya bila Jalan Braga tanpa salon dan rumah bordil (bordeelsteeg). Inilah daerah “lampu merah” tempat noni-noni Indo “nakal” pada mangkal menunggu para lelaki iseng dan kesepian melampiaskan hasratnya. Tempat “remang-remang” yang terletak di sekitar Jalan Kejaksaan dan Gang Coorde itu dulu dikenal dengan sebutan “Margawati”.

Fakta ini tak kalah menariknya dengan kenyataan bahwa Jalan Braga sebenarnya merupakan “ghetto” atau tempat tinggal warga Yahudi di Kota Bandung yang kumuh, tertutup, dan terpisah dari kota. Istilah yang dipakai pada abad ke-16 dan ke-17 ini sering dikaitkan dengan sikap diskriminasi terhadap satu ras. Pada masa lalu, di kawasan Braga memang pernah bermukim beberapa keluarga Yahudi seperti Roth, Goldstein, Tatarah, Goldberg, Ephreim, Lodz Baher, dan lainnya.

Sisi gemerlap yang berkelindan dengan potret gelap Jalan Braga, –dan Kota Bandung umumnya–, tak urung membuat perkumpulan Bandoeng Vooruit mencantumkan motto pariwisata di Bandung pada masa sebelum pecah Perang Dunia II, “Don’t come to Bandung, if you left a wife at home!” Jangan datang ke Bandung, jika kau tinggalkan istrimu di rumah. Peringatan itu perlu dicantumkan dalam brosur pariwisata Bandung tempo doeloe lantaran banyak pelancong yang kecantol hatinya kepada kota ini, sehingga melupakan istrinya di rumah.

Tak hanya di masa lalu, pamor Jalan Braga tetap moncer di masa Indonesia merdeka. Banyak wisatawan asing sengaja “memburu kenangan indah masa lalu” di Jalan Braga. Mereka agaknya terpaku pada pepatah lama Belanda, “Wie van zijn herinneringen kan genieten, leeft tweemaal (Siapa yang mampu menikmati kenangan masa lalunya, berarti telah hidup dua kali).” (asura / DK)

Baca artikel sebelumnya: Jalan Braga (1): Jalan Culik yang Kini Jadi Ikonik

Artikel Terkait

Cadas Pangeran (2)

dinamika

dinamika

dinamika