Image default
Jurnal

Daur Ulang Aspal dengan (RAP)

Jaringan jalan di Indonesia yang meliputi jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten/kota dan jalan tol terus berkembang dari tahun ke tahun baik dari sisi panjang dan maupun kapasitasnya. Data menunjukkan, jaringan jalan pada tahun 2008 sepanjang 327.172 km dan bertambah menjadi 513.500,75 km di tahun 2017. Kecenderungan kebutuhan peningkatan jaringan jalan ini akan terus berlanjut mengingat bertambahnya jumlah kendaraan dari tahun ke tahun. Salah satu indikator kebutuhan peningkatan jalan dapat dilihat dari semakin bertambahnya ruas-ruas jalan yang mengalami kemacetan, terutama di wilayah perkotaan.

Sayangnya, kebutuhan jaringan jalan yang ada saat ini tidak diimbangi dengan jumlah ketersediaan bahan material jalan yang semakin menurun setiap harinya. Selain itu, kondisi jaringan jalan yang ada pun tidak selamanya mulus, karena dimakan usia dan pemakaian. Untuk mempertahankan kondisi jalan agar tetap berfungsi secara optimal dalam melayani lalu lintas selama umur rencananya, maka perlu diupayakan kegiatan penanganan jalan mulai dari pemeliharaan rutin jalan, pemeliharaan periodik jalan dan rehabilitasi jalan yang tentunya juga memerlukan kesiapan material yang cukup. Dua hal ini yang membuat perlunya strategi dalam pengembangan teknologi penanganan jalan dengan memperhatikan material perkerasan yang digunakan.

Jika dilihat dari penggunaan jenis perkerasan yang digunakan dalam rangka penanganan jalan, maka jalan terbagi dua. Yakni, jalan perkerasan lentur yang dibuat dengan bahan pengikat aspal serta jalan perkerasan kaku yang bahan pengikatnya merupakan material semen.

Untuk material perkerasan lentur, satu studi yang dilakukan tahun 2013 menunjukkan dari kebutuhan aspal nasional sekitar 1,3 juta ton. Maka, diperkirakan penggunaan agregat sebanyak 21,6 juta ton (asumsi 6% kadar aspal campuran) serta bahan bakar minyak (BBM) sekitar 343,5 juta liter yang digunakan untuk pemanasan agregat (asumsi 15 liter BB untuk pemanasan tiap ton agregatnya). Untuk mencukupi kebutuhan aspal nasional ini, penyediaan dalam negeri hanya dapat mencapai 70%, sedangkan sisa lainnya merupakan aspal impor yang didatangkan dari negara lain.

Sementara untuk perkerasan kaku, kondisinya pun tak jauh berbeda. Bahan material agregat dan semen diambil dari penambangan pasir yang banyak tersebar di seluruh Nusantara. Namun, hal ini pun bukan tanpa risiko. Jika tidak dikendalikan, maka dampaknya pada kerusakan lingkungan akan sangat besar.

Tak terhitung jumlah penambangan batuan dan pasir, baik yang liar maupun resmi, mengakibatkan kerusakan lingkungan seperti banjir bandang dan longsor. Selain itu, ketersediaan material alam yang memenuhi persyaratan untuk perkerasan jalan juga semakin berkurang yang mendorong pembukaan wilayah penambangan-penambangan baru. Belum lagi tingkat pencemaran udara yang dihasilkan dari pengangkutan dan pengolahan bahan material ini cukup mengganggu.

Berangkat dari hal ini, beberapa strategi dan inovasi dikembangkan khususnya di bidang jalan dalam rangka memenuhi kebutuhan penambahan jaringan jalan dan menjaga performa dari jaringan jalan yang tersedia. Antara lain, penggunaan daur ulang perkerasan material beraspal (Reclaimed Asphalt Pavement/RAP) dan daur ulang material campuran beton (Recycled Concrete Aggregate/RCA), Coldmix (campuran aspal dingin), Warmmix (campuran aspal hangat), pemanfaatan karet, pemanfaatan plastik,  pemanfaatan slag baja, dan lain-lain.

Reclaimed Asphalt Pavement

Kali ini yang dibahas adalah teknologi Reclaimed Asphalt Pavement (RAP). Teknologi RAP dilakukan dengan menggali atau menggaruk perkerasan jalan yang telah rusak untuk kemudian dihancurkan kembali menjadi semacam agregat. Kemudian, material ini diproses agar dapat digunakan kembali sebagai material perkerasan yang baru. Proses daur ulangnya meliputi pengaturan komposisi gradasi, penggunaan recycling agent, penggunaan material agregat dan/atau aspal baru, termasuk proses pencampuran dan pemadatan.

Pada awalnya, RAP hanya dibuang menjadi limbah, namun seiring dengan berkembangnya teknologi, dengan penambahan dan pencampuran bahan semen secara mekanis, penggunaan bahan peremaja aspal dan beberapa teknologi lainnya, material RAP dapat dijadikan material perkerasan jalan yang bernilai ekonomi. Sistem road recycling ini sangat menguntungkan, karena tidak banyak merusak lingkungan. Pemanfaatan RAP digunakan sebagai material perkerasan yang telah ada diantaranya sebagai pondasi yaitu CTRSB (Cement Treated Recycling Sub Base), CTRB (Cement Treated Recycling Base), CMRFB (Cold Mix with Recycling Foam Bitumen) dan sebagai lapis permukaan campuran beraspal yaitu daur ulang campuran panas (Hot Mix Recycling).

Konsep penggunaan RAP sebagai campuran beraspal mulai didokumentasikan tahun 1915 namun kurang mendapat perhatian, hingga kemudian terjadi peristiwa embargo minyak pada pertengahan tahun 1970, di Amerika Serikat. Selain itu, penggunaan RAP kian tinggi, karena adanya peningkatan harga aspal yang semakin melonjak serta kurangnya material yang memiliki kualitas sesuai persyaratan.

Sementara di Jepang, penggunaan RAP sebagai material campuran beraspal sudah digunakan sejak tahun 1970, dikarenakan adanya kepentingan untuk menjaga lingkungan. Sementara di Indonesia, pemanfaatan RAP mulai diinisiasi tahun 2006, dimana bahan daur ulang yang ditambahkan dengan semen dimanfaatkan sebagai lapis pondasi.

Tahun 2006, Pusat Jalan dan Jembatan (Pusjatan) melakukan inisiasi percobaan teknologi daur ulang dalam skala penuh dengan bahan tambah semen, di jalan pantura – Palimanan – Jatibarang. Tahun 2007, pada proyek ruas jalan pantura jalur Jatibarang – Palimanan dengan menggunakan bahan tambah aspal busa (foamed bitumen) dan bahan pengisi (filler) semen. Serta tahun 2009, telah dilakukan uji skala penuh daur  sebagai lapis permukaan dengan penggunaan RAP sebesar 10% di ruas jalan Pantura Jawa Barat.

Daur ulang menggunakan material RAP,  harus memperhatikan dua hal, yakni bahan yang ada pada perkerasan lama dapat didaur ulang serta campuran yang diperoleh dengan menggunakan material daur ulang dapat memenuhi kriteria yang diinginkan. Melihat kasus di sejumlah ruas jalan di wilayah Jawa Barat tergambar bahwa sekitar 50% – 70%, perkerasan jalan provinsi yang ada di jawa Barat telah habis umur rencananya. beberapa ruas jalan di wilayah lain diperkirakan emeiliki kondisi serupa akibat keterbatasan penganggaran. Hal ini, menimbulkan pertanyaan, mungkinkah jalan-jalan tersebut dapat menjadi sumber material agregat dan aspal sebagai bahan material perkerasan aspal yang baru? Jawaban atas pertanyaan itu, tentunya membutuhkan penelitian lanjutan.

Untuk pengolahan RAP dapat dibedakan berdasarkan tempatnya. Pertama, in situ recycling, yakni modifikasi RAP yang dilakukan di lokasi tempat pekerjaan perkerasan. Kedua, off-site recycling yakni modifikasi RAP yang dilakukan di plant pencampuran, bukan di lokasi penggarukan perkerasan.

Material RAP khususnya pada bagian aspal sudah mengalami penuaan. Oleh karena itu, guna memperbaiki sifat RAP, dibutuhkan Recycling Agent yang berfungsi dapat mengembalikan performa aspal. Recycling agent terdiri atas pelembek aspal (softening agent) yang hanya berfungsi menurunkan kekentalan aspal yang telah mengalami penuaan (asphalt flux oil, lube stock, selury oil dan lain-lain) dan peremajaan aspal (rejuvenatiing agent). Peremajaan aspal berfungsi untuk mengembalikan sifat fisik dan sifat kimia aspal (kombinasi lubricating dan extender oils).

Ada beberapa keuntungan dari penggunaan RAP sebagai material perkerasan aspal. Pertama, dapat menghasilkan penghematan sebagai pengganti penggunaan material baru serta dapat mengurangi biaya pengantaran bila pelaksanaan penggunaan RAP dilakukan di tempat. Kedua, jika lokasi yang lebih dekat maka selain biaya lebih murah juga mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari pengangkutan. Ha ini, yang terkait dengan pengurangan emisi karbon adalah dalam hal pengurangan pemanasan aspal maupun pemanasan agregat.

Selanjutnya, menyelesaikan permasalahan elevasi jalan, khususnya di daerah perkotaan (jarak tinggi bebas pada jembatan dan elevasi trotoar jalan). Keempat, menghindari terjadinya retak menjalar dari lapis bawah (bila langsung dilakukan pelapisan ulang/overlay), sehingga umur rencana perkerasan jalan dapat tercapai dan memperkecil biaya pemeliharaan.

Meski memiliki keuntungan, penggunaan RAP pun memiliki sejumlah kekurangan yang dapat menyebabkan masalah khususnya terhadap segmentasi pelaksanaan-pelaksanaan sebelumnya yang pendek-pendek diakibatkan keterbatasan biaya. Hal ini akan berdampak pada keseragaman material daur ulang yang dapat menyulitkan dalam perencanaan maupun produksi campuran beraspal.

Hal ini pula yang mendorong pemerintah Jepang sebagai salah satu negara yang mengaplikasikan penggunaan RAP mengeluarkan sejumlah kebijakan atau regulasi yang kuat terhadap penggunaan RAP. Diantaranya, kewajiban penggunaan material RAP sebagai bagian campuran beraspal baru. Kedua, dibentuknya manajemen tertentu untuk mengelola RAP mulai dari penggarukan hingga penggunaannya kembali. Terakhir, adanya pencatatan pengelolaan jalan yang jelas (umur jalan, pemeliharaan dan sebagainya). hal ini dapat dicontoh di Indonesia.

Masalah lain yang mungkin muncul dari penggunaan RAP adalah kinerja campuran beraspal bila digunakan lebih dari satu kali dilakukan daur ulang. Selain itu, kesulitan penerapan penggunaan RAP sebagai campuran beraspal di Indonesia dikarenakan butuhnya investasi baru dalam memodifikasi unit pencampur yang ada saat ini dan belum ada regulasi yang kuat yang mendorong pemanfaatan material RAP dalam program preservasi jalan.

Pengembangan green technology dalam pemeliharaan infrastruktur jalan di Indonesia merupakan inovasi teknologi yang sangat diperlukan dalam rangka memelihara lingkungan alam dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Konsep green technology dalam infrastruktur jalan dapat dilakukan melalui material perkerasan badan jalan, teknologi penataan cross section jalan, teknologi pengelolaan drainase jalan ataupun penataan lalu lintasnya. penggunaan RAP dengan green technology-nya merupakan salah satu solusi untuk menjawab tantangan terhadap kebutuhan akan jalan, preservasi lingkungan dan industri perkerasan jalan di Indonesia yang berkelanjutan.

Oleh : Dr. Indra Maha, S.T., M.T.

Artikel Terkait

Parasamya Purnakarya Nugraha Hadir Sejak 1973

dinamika

Melalui Aplikasi “Ritme” Kinerja Pegawai Terdeteksi

dinamika

Menelisik Garis Sempadan Jalan

dinamika