Image default
Bidang Laporan Utama

Desain Baru Tak Bisa Dibangun Terburu-Buru

Kendati proses pembangunannya masih memerlukan waktu panjang, tetapi kemegahan Masjid Al-Jabbar mulai terlihat dengan selesainya pembangunan danau retensi serta konstruksi masjid yang mulai memasuki pemasangan kanopi dan kaca berwarna-warni.

PADAHAL, cerita Barmasnyah Bursyah, Kepala Bidang Jasa Konstruksi Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat (DBMPR Jabar), tanah seluas lebih dari 25 hektar tersebut dulunya tanah yang lunak dan kurang bagus, sehingga perlu diteliti secara khusus sebelum dibuat konstruksi bangunan.

Setelah dibuat konsep pada tahun 2016, dibentuklah rupa (desain) dan Detail Engineering Design (DED)-nya, dilanjutkan akhir tahun 2017 dilakukan groundbreaking oleh Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2013-2018, Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar. Masjid tersebut kemudian diberi nama Al-Jabbar. Makna nama itu ada tiga : kependekan dari Jawa Barat, merupakan salah satu cabang ilmu berhitung (Aljabar), dan salah satu nama baik Allah atau Asmaul Husna (Al Jabbar / Maha Perkasa).  “Gubernur Ridwan Kamil adalah salah satu  konseptor bentuk rupa atau desain maha karya masjid ini,” ujar Barmansyah.

Masjid Al-Jabbar mempunyai luas 21.799,20 m2 di dalam dan 17,429,60 m2 di luar.  Luas kolam retensinya 25,9879 hektar. “Masjid Al-Jabbar bisa menampung 60.000 jamaah. Khusus bagian dalam masjid bisa menampung 33.000 jamaah,” jelas Barmansyah.

Di sudut-sudut masjid terdapat 4 minerat (menara). Tiga menara  setinggi  33 meter merupakan representasi bacaan zikir 33x Subhanalloh, 33x Alhamdulillah, dan 33 Allohu Akbar. Sementara satu menara setinggi 99 meter melambangkan 99 nama baik Allah (Asmaul Husna). Untuk menuju masjid, jamaah bisa meniti dua jembatan yang dihiasi pancuran air sejumlah 99 buah.

Bangunan Masjid Al-Jabbar didominasi panel kaca berwarna-warni yang tersusun saling tindih, yang bila dipandang dari kejauhan menyerupai sisik ikan. Sementara kanopi dibuat dari bahan metal dengan ornaman tusuk sate sebagai penangkal petir di puncaknya seperti  yang terdapat di puncak Gedung Sate.

Rangka baja masjid dibuat tanpa penyangga, sehingga memerlukan perhitungan khusus dan ketelitian agar benar-benar kuat ketika dipasang. Di sisi lain, material kaca dan kanopi dikerjakan pabrikan berbeda, sementara space frame-nya diimpor dari luar negeri. Ketiganya kemudian digabungkan menjadi satu elemen pembentuk masjid. Selain itu, dipesan pula 18.000 baud khusus dan berbeda ukuran, serta member 9.004 batang dan node sebanyak 2.209.

“Space frame dibuat dengan teknologi canggih agar tak terjadi kekeliruan dalam menentukan ukurannya. Tak kalah rumit adalah pembuatan 750 buah unitizeouter dan inner frame dalam pembangunan masjid raya ini,” tutur Barmansyah.

Demikian pula aluminium harus presisi dengan ukuran dan frame berbeda. “Pemasangan  6.184 bidang kaca dengan pilihan warna berbeda harus presisi, sehingga memerlukan komputerisasi. Belum lagi proses cutting, gosok, printing, motif, tempere, dan laminasi. Oleh karena itu, sebelum kaca dipasang terlebih dahulu dilakukan quality control supaya benar-benar pas dan sesuai desain,” urai Barmansyah.

Pemasangan kaca berbobot 600 kg yang mesti dilakukan dengan crane di ketinggian itu, lanjutnya, juga bukan perkara gampang. Kesulitannya, “Pemasangan satu set kaca bisa berlangsung lama, terlebih bila angin bertiup kencang. Kaca bisa lama berputar-putar ditiup angin. Apalagi sekarang kanopi sudah terpasang, maka pemasangan kaca di bawahnya perlu kehati-hatian,” ungkapnya.

Menurut Barmansyah, Masjid Al-Jabbar akan terlihat megah dan indah bila nanti sudah selesai dibangun. Inilah masjid terbesar kedua di Indonesia setelah Masjid Istiqlal di Jakarta. “Desain masjid ini baru dan belum ada di tempat lain di Indonesia, sehingga kami perlu banyak mengadakan studi banding dan melakukan review atau diskusi dengan para ahli. Diharapkan, bangunan Masjid Al-Jabbar benar-benar sesuai dengan konsep dan desainnya,” jelasnya.

Banyak tantangan dan kendala dalam proses pembangunan Masjid Al-Jabbar. Cuaca tidak bersahabat, hujan lebat, dan banjir adalah beberapa kendala yang membuat pembangunan masjid tidak bisa dilakukan cepat.

Meskipun demikian, Barmansyah optimis, pembangunan Masjid Al-Jabbar bisa memenuhi target selesai akhir tahun 2020. Tetapi, “Kami tetap memerlukan dukungan dari para pakar, aparatur pemerintah sipil maupun militer, serta pengawas untuk mewujudkan pembangunan Masjid Al-Jabbar yang kelak akan menjadi kebanggaan warga Jawa Barat. Soal administrasinya tidak ada masalah,” kata Barmansyah, menutup pembicaraan. (Wawan / DK)

Artikel Terkait

Mengapa Peringatan HUT Jabar Tanggal 19 Agustus

dinamika

Buka-Bukaan Pertanggungjawaban di Ruang Pameran

dinamika

RDTR Beres, Izin dengan OSS Sukses

dinamika