Horizon

Hari Gunung se-Dunia: Merawat Gunung, Merawat Kehidupan

Dibandingkan peringatan “hari-hari” yang lain, Peringatan “Hari Gunung se-Dunia” setiap tanggal 11 Desember mungkin belum familiar, belum secara masal dikenal masyarakat. Padahal “Hari Gunug se-Dunia” sudah ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 2003.

Sudah bukan hal yang perlu ditanyakan lagi bahwa kita hidup di bawah bayang-bayang gunung yang menjulang tinggi. Hidup di atas tanah hasil dari gunung-gunung tersebut. Hidup mendapatkan nafkah dari sumber yang ada di gunung tersebut. Bahkan jika dibayangkan, kita tak bisa hidup tanpa keberadaan gunung-gunung tersebut.

Gunung adalah sumber penghidupan manusia. Terutama di negara kita yang disebut lingkaran api dunia atau ring of fire. Jajaran pegunungan membentang di sepanjang pulau mengikuti jalur tumbukan lempeng besar dunia yang berada di bawah permukaan bumi. Bahkan di Pulau Kalimantan yang dikenal sebagai pulau tanpa adanya gempa pun mempunyai gunung-gunung yang tinggi.

Berbagai kebutuhan pokok manusia berasal dari gunung. Seperti halnya kebutuhan pangan, sandang, dan papan, sampai perhiasan emas yang dipakai di pergelangan tangan dan leher sesungguhnya berasal dari pegunungan. Oleh karena itu, kita tak bisa lepas dari adanya gunung. Kita belum tentu dapat hidup jika di dunia ini tidak ada gunung-gunung tersebut.

Peringatan Hari Gunung se-Dunia bermaksud menyadarkan masyarakat dunia akan pentingnya keberadaan sebuah gunung untuk suatu wilayah. Termasuk salah satunya di negara kita. Hampir seluruh daratan Indonesia merupakan jajaran pegunungan tektonik maupun vulkanik yang sangat penting bagi masyarakatnya.

foto: Arya/dk

Sejak zaman dahulu, gunung tempat yang disakralkan masyarakat. Mereka percaya bahwa gununglah yang memberikan penghidupan. Bahkan, mitos atau cerita rakyat muncul dari keberadaan gunung dan menjadi identitas mereka akan adanya cerita legenda tersebut.

Sebut saja salah satunya cerita rakyat Suku Tengger di Gunung Bromo. Cerita Roro Anteng dan Joko Seger menjadi nama identitas masyarakat Gunung Bromo, Jawa Timur. Ada pula cerita rakyat Dewi Anjani di Gunung Rinjani. Masyarakat Nusa Tenggara Barat sangat memuliakan Gunung Rinjani, karena telah memberikan sumber penghidupan bagi mereka.

Adapun Gunung Toba menjadi identitas masyarakat Suku Batak Toba, salah satu Suku Batak pertama di Sumatera Utara. Lainnya, Gunung Kelimutu yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya leluhur masyarakat Nusa Tenggara Timur. Beberapa mitos sejenis menyelimuti keberadaan gunung-gunung lainnya.

Berdasarkan cerita-cerita tersebut, terlihat bahwa masyarakat terdahulu pun tak bisa dipisahkan dari keberadaan sebuah gunung. Namun, penetapan Hari Gunung se-Dunia di Indonesia masih belum terasa manfaatnya. Masyarakat senantiasa perlu diarahkan kembali akan fungsi keberadaan sebuah gunung.

Gunung memang sumber penghidupan bagi manusia. Namun jika manusia sendiri salah dalam mengambil keputusan, maka akan berimbas pada kerusakan gunung tersebut. Misalnya, mengubah fungsi lahan. Hutan-hutan hijau di lereng gunung berubah menjadi ladang pertanian yang dipanen tiga bulan sekali.

foto: Arya/dk

Alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian berdampak pada tingginya tingkat erosi. Terkadang dapat menimbulkan longsor dan banjir bandang yang mengancam perkampungan masyarakat sekitar di bagian hilirnya. Tanah subur dan area luas menjadi alasan warga membuka rimbunan hutan menjadi ladang untuk diolah.

Padahal, membuka hutan yang rimbun merusak pula keanekaragaman hayati dan habitat hewan liar yang tinggal di dalamnya. Hutan-hutan yang berada di lereng-lereng gunung diubah sedemikian rupa tanpa mempedulikan kelestarian habitat di dalamnya. Beberapa satwa endemik Indonesia telah punah, lantaran ulah manusia yang mengubah fungsi lahan hutan menjadi ladang pertanian. Sebut saja, saat ini harimau Sumatera tinggal beberapa ekor di pedalaman hutan Sumatera. Mereka terdesak perkebunan sawit.

Di sisi lain, mengubah fungsi hutan menjadi ladang pertanian pun mempengaruhi tata air tanah. Hutan seyogyanya berfungsi sebagai penyuplai ketersediaan air bagi masyarakat. Air hujan yang turun akan diserap oleh akar-akar pohon, lalu disimpan di bawah permukaan tanah. Sebagian lain mengalir membentuk sungai-sungai yang jernih. Membuka lahan hutan berarti merusak tatanan air untuk masyarakat sendiri. Sehingga, perlu adanya pengarahan lanjutan dan pengawasan ketat tentang permasalahan ini.

Pada musim pendakian pun gunung perlu mendapat perhatian serius. Ulah pendaki yang tak beretika membuat area lahan gunung menjadi rusak. Tanaman endemik gunung seperti bunga edelweis menjadi incaran untuk dipetik dan dibawa pulang. Pembuatan api unggun di area yang rimbun dengan ilalang dan pepohonan seringkali memicu kebakaran lahan di gunung. Selain itu, permasalahan sampah plastik yang mengganggu proses pertumbuhan tanaman tertentu dan mencemari unsur hara tanah adalah hal lain dari kegiatan pendakian ini.

Gunung menjadi tempat wisata yang populer bagi kalangan masyarakat tertentu. Namun, harus dicermati kembali tentang resiko dalam kegiatan tersebut. Kita harus cermat dalam bertindak agar sebesar apa pun risikonya dapat diminimalisir sekecil mungkin dampaknya. Gunung adalah alam liar yang menyembunyikan banyak hal yang tidak kita tahu ada apa sebenarnya di dalamnya.

Memperingati Hari Gunung se-Dunia dapat mengingatkan kita kembali tentang keberadaan sebuah gunung. Gunung dan berbagai asetnya begitu penting untuk dijaga dan dirawat agar keberlangsungan hidup manusia pun tetap terjaga dengan damai. (travelnatic)

Gunung Bergerak Sebagai Pasak

Bagi orang beriman, fenomena gunung bukanlah hal baru. Allah SWT telah banyak menyitir dalam Al-Quran bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak di mata. Sejatinya, gunung-gunung terus-menerus bergerak atas kehendak Allah.

Foto: Arya/DK

Para ilmuwan sepakat, gunung sesungguhnya tidak diam seperti yang dianggap selama ini, melainkan bergerak dengan dinamis. Sebagaimana firman Allah : “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu ; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS An Naml : 88)

Secara teori, gerakan gunung-gunung ini disebabkan gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat.

foto: Arya/dk

Al-Quran menegaskan, gunung diciptakan untuk menahan guncangan-guncangan akibat tekanan gas yang terbentuk di dalam bumi dan guncangan akibat gempa. “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS Al-Anbiya : 31)

Selain bergerak, gunung ternyata juga merupakan pasak, karena mempunyai akar. Dalam bukunya “Earth”, Profesor Emeritus Frank Press menyatakan, gunung-gunung mempunyai akar di bawah mereka. Akar ini menghunjam dalam, sehingga seolah gunung-gunung mempunyai bentuk bagaikan pasak.

Allah menjelaskan dalam  Al Qur’an tentang gunung-gunung : “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS An Naba’ :  6-7)

Ilmu bumi moderen memang telah membuktikan bahwa gunung-gunung memiliki akar di dalam tanah. Akar ini dapat mencapai kedalaman yang berlipat dari ketinggian mereka di atas permukaan tanah. Jadi, kata yang paling tepat untuk menggambarkan gunung-gunung berdasarkan informasi ini adalah kata “pasak”. Pasalnya, bagian terbesar dari sebuah pasak tersembunyi di dalam tanah. Pengetahuan tentang gunung-gunung yang memiliki akar di dalam tanah baru diperkenalkan pada paruh kedua abad ke-19.

Sebagaimana pasak yang digunakan untuk menahan atau mencencang sesuatu agar kokoh, maka gunung-gunung juga memiliki fungsi penting dalam menyetabilkan kerak bumi. Mereka mencegah goyahnya tanah.

Allah berfirman : “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS An Nahl : 15)

Maha Benar Allah yang Maha Agung. (dari berbagai sumber)

Artikel Terkait

Fungsi dan Status Jalan Agar Jelas Secara Hukum

dinamika

KM 0 Tonggak Sejarah Kota Bandung

adm1n@Web

Haruskah Bangun Pagi ….. Dan Berolah Raga?

dinamika