Image default
Banner

Jalan Culik yang Kini Jadi Ikonik

JALAN BRAGA (bagian pertama dari dua tulisan)

Braga,  jalan  istimewa  yang  melegenda
Sejak  masa  kolonial  hingga  zaman  milenial
Gemerlap  toko  berderet  menjaja  segala  rupa
Tapi,  janganlah  di  rumah  istri  ditinggal

 

BERKUNJUNG ke Bandung, tak lengkap kiranya bila tidak pelesiran ke Jalan Braga. Jalan selebar sepuluh meter dan sepanjang tujuh ratus meter itu adalah salah satu jalan protokoler sekaligus maskot dan objek wisata utama Kota Bandung. Inilah sepenggal jalan ikonik di Kota Kembang.

Populer di kalangan wisatawan, bahkan sejak Indonesia dalam cengkeraman penjajahan Belanda, Jalan Braga melegenda sebagaimana halnya jalan di kota lain yang berdiri serta berkembang pada masa Hindia Belanda, seperti Jalan Kayoetangan di Kota Malang, Jalan Malioboro di Yogyakarta, dan beberapa ruas jalan di Jakarta.

Berbeda dengan Braga, nama sejumlah jalan legendaris itu kini ada yang tidak dipertahankan keasliannya dan diubah dari nama sebelumnya yang dianggap populer. Contohnya, Jalan Kayoetangan di Kota Malang yang diganti menjadi Jalan Basuki Rahmat.

Jalan Braga memang menawan dan memanjakan mata. Kawasan konservasi budaya itu malahan terkesan unik dan menyuguhkan nuansa klasik. Jejak kemegahan itu masih terlihat saat ini. Banyak bangunan tua, indah, dan megah yang dirancang dalam langgam art deco berdiri kokoh sepanjang jalan ini. Di sisi kanan kiri Jalan Braga berdiri deretan pertokoan yang memiliki arsitektur dan tata kota yang tetap mempertahankan ciri arsitektur lama pada masa Hindia Belanda.

Gaya arsitektur Eropa membuat Braga mirip dengan suasana jalan dan komplek pertokoan di Eropa. Tata letak pertokoan tersebut memang mengikuti model yang ada di Eropa. Ini sesuai dengan perkembangan Kota Bandung pada kurun 1920-1940-an yang tersohor sebagai kota mode seperti halnya Kota Paris di Perancis waktu itu.

Material jalan di Braga juga terbilang istimewa. Dibuat dari susunan kepingan batu andesit, Jalan Braga terlihat unik dan menarik. Bukan dari aspal atau beton cor yang terkesan dingin dan kaku.

Braga sejak zaman Belanda memang berkembang menjadi tempat kongkow dan rendezvouz kaum “the have”. Tempat tuan serta nyonya dari golongan berada bertemu dan berbelanja. Lantaran, jalan ini memang dipenuhi berbagai tempat belanja dan sarana hiburan bergengsi kala itu.

Seperti masa lalu, sekarang pun berbagai toko di sepanjang Jalan Braga ada yang masih menjual barang mewah berkualitas. Sebagian gedung lainnya menjadi tempat hiburan semacam pub, mall, hotel, restoran, coffee shop, hingga bank, perkantoran, dan galeri lukisan. Serba wah. Serba berkelas.

Di antara pertokoan tersebut, yang masih mempertahankan ciri arsitektur lama adalah bekas pertokoan Sarinah, Kantor Bank Jabar Banten (BJB), Apotek Kimia Farma, dan Gedung Merdeka atau Gedung Museum Konferensi Asia Afrika yang dulunya gedung Societeit Concordia. Model tata letak jalan serta gedung-gedung pertokoan dan perkantoran yang berada di Jalan Braga juga terlihat pada model jalan-jalan lain di sekitarnya. Misalnya, Jalan Suniaraja (dulu dikenal sebagai Jalan Parapatan Pompa) dan Jalan Pos Besar (sekarang Jalan Asia-Afrika) di depan Gedung Merdeka.

Berhubungan dengan Jalan Raya Pos dan Politik Tanam Paksa 

foto: www.wikipedia.org

PEMBANGUNAN Jalan Braga terkait erat dengan pembangunan jaringan jalan raya pos (de grote postweg) yang membentang sepanjang seribu kilo meter dari ujung barat (Anyer) sampai ujung timur Pulau Jawa (Panarukan/Banyuwangi), yang diperintahkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, pada tahun 1808-1811. Sebagian dari jalan raya pos ini menjadi cikal bakal Jalan Jenderal Sudirman – Jalan Asia Afrika – Jalan Ahmad Yani di Kota Bandung.

Jalan Braga juga terkait politik tanam paksa (cultuurstelsel) pada tahun 1831 – 1870 yang diberlakukan pemerintah kolonial Belanda akibat kondisi keuangannya terkuras setelah Perang Diponegoro (1825 – 1830) serta perang-perang perlawanan kaum pribumi lainnya. Kopi sebagai salah satu hasil bumi dari tanah Priangan semasa tanam paksa itu antara lain harus dikirimkan ke tempat pengemasan bernama Koffie Pakhuis (gudang kopi) yang berada kira-kira satu kilo meter di sebelah utara jalan raya pos. Melintasi jalan setapak berlumpur yang biasanya hanya dilewati pedati yang ditarik kuda, Jalan Braga merupakan penghubung de grote postweg (Jalan Asia-Afrika sekarang) di selatan dengan Koffie Pakhuis (gudang kopi) milik Andries de Wilde yang kini menjadi Balai Kota Bandung di sebelah utara.

Pada tahun 1800, jalan tersebut menghubungkan daerah-daerah yang sekarang disebut Dayeuhkolot (dahulu bernama Krapyak), Alun-alun Bandung, Merdeka Lio, Balubur, Coblong, Dago, Bumiwangi, hingga Maribaya. Jalur lalu lalang itu berhubungan dengan jalan tradisional pada masa Kerajaan Pajajaran, yang melintasi Sumedanglarang dan Wanayasa. Angkutan penumpang dan hasil bumi, khususnya kopi dari gudang kopi (Balai Kota Bandung sekarang), banyak memanfaatkan jalan tersebut.

Awalnya, Jalan Braga hanyalah sebuah jalan kecil nan sunyi. Lantaran lumayan rawan tindak kriminal, jalan ini sempat dijuluki Jalan Culik. Braga adalah jalan angker, karena banyak orang dianiaya dan kehilangan nyawa di tangan penyamun kala melintasinya. Apalagi, saat agresi militer. Jalan ini menjadi amat rawan dilewati orang Belanda maupun penduduk Indonesia.

Braga juga dikenal sebagai Karrenweg, kemudian Pedatiweg (Jalan Pedati). Sesuai dengan alat angkutan umum yang lazim dipergunakan pada tahun 1800-an. Pedati.

foto: www.wikipedia.org

Pada tahun 1856, saat Bandung menjadi ibu kota Karesidenan Priangan, beberapa rumah warga Eropa dibangun di sepanjang jalan yang masih terbuat dari tanah itu. Hingga tahun 1874, hanya terdapat 6-7 rumah dari batu di sepanjang Pedatiweg. Melengkapi beberapa warung berdinding bambu dengan atap rumbia dan rumah-rumah yang agak besar lainnya yang masih beratapkan ijuk, rumbia, atau ilalang. Kemudian, menyusul sebuah toko kecil, dan diikuti enam toko lainnya pada tahun 1894.

Konon, nama Braga sudah populer sejak tahun 1810, namun baru resmi dipakai tahun 1882. Adalah Asisten Residen Bandung, Pieter Sijthoff, yang menamai jalan ini menjadi Bragaweg, seiring dengan pendirian Perkumpulan Tonil Braga. Jalan Braga kemudian diperkeras dengan memakai batu kali. Selain itu, sepanjang Jalan Braga dipasang lampu lentera minyak tanah untuk menerangi jalan. Ketika jalur kereta api Batavia-Bandoeng dibangun tahun 1884, ujung selatan Bragaweg yang terletak dekat pusat kota telah berkembang pesat, sedangkan bagian utaranya masih berupa hutan karet.

Tahun 1900, jalan ini mulai diaspal. Pada tahun 1906 dibuat peraturan, bangunan toko sepanjang Bragaweg harus memenuhi standar yang telah ditetapkan pemerintah Kota Bandung. Arsitektur bangunan gaya barat yang tadinya  terbuka diubah menjadi bangunan perdagangan tertutup. Bentuknya bervariasi, mulai langgam klasik hingga arsitektur modern.

Jalan Braga kian ramai setelah sejumlah usahawan, terutama para saudagar berkebangsaan Belanda, mendirikan toko, bar, dan tempat hiburan di kawasan itu. Salah satu pemicu perkembangan Bragaweg adalah toko kelontong De Vries. Toko ini menjual berbagai keperluan sehari-hari dan sering dikunjungi para petani Priangan kaya raya keturunan Belanda (Preangerplanters) yang memiliki perkebunan (onderneming) di sekitar Bandung.

Keramaian De Vries membuat kawasan di sekitarnya ikut berkembang. Berdirilah hotel, restoran, dan bank. Menyusul pendirian toko Onderling Belang, pada tahun 1920-1930-an muncul toko dan butik (boutique) pakaian yang mengambil mode busana dari Kota Paris, Perancis, yang saat itu merupakan kiblat mode pakaian dunia.

Sepanjang satu dasawarsa itu, Braga bertambah elit dan kian asri. Toko-toko di kawasan itu menjadi pusat perbelanjaan eksklusif. Hanya menjajakan barang-barang mewah berkelas. Wali Kota Bandung saat itu, B. Coops, memang mencetuskan konsep yang menginginkan Bragaweg menjadi pusat perbelanjaan bergaya Eropa buat kaum elit dan berpunya di Nederland Indie.

Dibangunnya gedung Societeit Concordia yang digunakan untuk pertemuan para warga Bandung, khususnya kalangan hartawan, serta Hotel Savoy Homann, gedung perkantoran, restoran, dan lain-lain di beberapa blok di sekitarnya semakin meningkatkan kemasyhuran dan keramaian Jalan Braga.

Berdirinya berbagai bangunan itu bahkan membuat Bragaweg terkenal ke seluruh Hindia Belanda. Setelah dipoles sedemikian rupa, kawasan ini semakin diminati tamu negara Hindia Belanda yang berkunjung ke Bandung. Banyak orang elit dari kalangan Eropa, Belanda, Cina, atau pribumi yang bergaya dan bergaul di Bragaweg. Keindahan Kota Bandung yang amat  gemerlap dengan suasana Eropa-nya baik waktu siang maupun malam hari plus  keramaian Jalan Braga kala itu sebagai pusat belanja yang acap memajang pakaian model terbaru dari Paris serta sering menggelar pertunjukkan kesenian pada malam tertentu membuat warga Eropa yang mampir ke Hindia Belanda menjuluki kota ini sebagai Parijs van Java. Kota Paris di Pulau Jawa.

Era 1920-1925, Kota Bandung sedang giat-giatnya dibangun menjadi permukiman indah bersarana lengkap guna memenuhi kebutuhan hidup warganya. Bandung digadang-gadang menjadi pusat pemerintahan, kesenian, hiburan, ekonomi, dan intelektual pemerintah kolonial Belanda pada masa itu. Berbagai fasilitas bergaya Eropa ditujukan agar warga Eropa di Bandung bisa tetap mempertahankan suasana lingkungan, kehidupan, maupun gaya hidupnya di tengah masyarakat pribumi. Oleh karena itu, gaya arsitektur bangunan rumah tinggal, perkantoran, dan tempat hiburan, bahkan hingga menu makanan dan cara berbusana disesuaikan dengan budaya Eropa. Termasuk di Jalan Braga.

www.wikipedia.org

Namun sisi buruknya, bermunculan tempat hiburan malam dan kawasan remang-remang “lampu merahdi Jalan Braga. Sebuah citra yang kemudian sangat dikenal turis. Dari sinilah istilah Bandung sebagai “kota kembang mulai dikenal. Sehingga, perhimpunan masyarakat Bandung saat itu membuat selebaran dan pengumuman agar, “Para tuan-tuan turis sebaiknya tidak mengunjungi Bandung apabila tidak membawa istri atau meninggalkan istri di rumah.

Alhasil, tak berlebihan kiranya bila Haryoto Kunto, planolog jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang meminati sejarah Bandung sehingga dijuluki “Kuncen Bandung”, menjelaskan, julukan “Parijs van Java” bukan untuk menunjukkan  keindahan dan kemoderenan Kota Bandung seperti halnya Paris, melainkan lebih pada kecantikan dan kemolekan mojang-mojang Priangan, yang sebanding dengan jelitanya wanita-wanita di Paris.  Ini sebangun dengan istilah “Bandung Kota Kembang”. Di Bandung bukan berarti banyak tumbuh bunga, namun sejatinya banyak mojang geulis (gadis cantik) di kota ini, sehingga ditamsilkan sebagai kembang yang wangi, indah, dan sedap dipandang mata.

Pada tahun 1937-1939, Jalan Braga semakin ramai. Tak ubahnya Fifth Avenue-nya Bandoeng. Kawasan Braga sangat eksklusif untuk orang-orang eksekutif Belanda yang berbelanja maupun makan-minum di Maison Bogerijen (sekarang Braga Permai). Seiring meletusnya Perang Dunia II tahun 1940 yang juga terasa hingga Hindia Belanda, pamor Jalan Braga merosot. Kemudian menjelang peristiwa bersejarah Konferensi Asia-Afrika tahun 1955, bangunan-bangunan di sepanjang Jalan Braga dipercantik. Jalan Braga kembali menggeliat hidup. Semarak. Dan, glamour.

Braga di Antara “Ngabaraga” dan “Ngabar Raga”

ASAL-USUL nama Braga sendiri masih tidak jelas hingga sekarang. Kata Braga, menurut sastrawan Sunda M.A. Salmoen dalam buku “Baruang Kanu Ngora”, berasal dari kata “ngabaraga”. Artinya, “berjalan menyusuri sepanjang sungai”. Letak Pedatiweg memang berdampingan dengan Sungai Cikapundung. “Jalan” yang menyusuri sungai disebut “baraga”. Sebagaimana halnya “jalan yang menjorok ke laut” dinamakan “dermaga”. Sedangkan sinonim kata “jalan” adalah “marga”.

“Ngabaraga” juga bisa diterjemahkan ke dalam bahasa “kirata” alias dikira-kira tapi nyata menjadi “ngabar raga”, yang berarti “bergaya memamerkan tubuh”, nampang, atau mejeng. Braga waktu di bawah penjajahan Belanda maupun setelah Indonesia merdeka menjadi the place to see and to be seen. Braga memang dikenal sejak dulu hingga sekarang sebagai pusat kota yang mempunyai banyak pertokoan dan hiburan untuk bergaya. Tempat rendezvous sambil jalan-jalan dan belanja.

Perubahan nama Pedatiweg menjadi Bragaweg mungkin pula akibat ketenaran Toneelvereeniging Braga (Perkumpulan Tonil Braga), yang didirikan di Pedatiweg pada tanggal 18 Juni 1882 oleh Asisten Residen Priangan, Pieter F. Sijthoff. Selain itu, ada juga versi yang menyebutkan, Braga diambil dari nama sebuah minuman khas Rumania yang biasa disajikan di Societeit Concordia yang berada di ujung selatan Bragaweg.

Terkait hal itu, Sudarsono Katam dalam buku “Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950” mengungkapkan, “Mungkin perubahan nama Karrenweg menjadi Bragaweg diawali melalui bahasa lisan masyarakat Bandung pengagum ketenaran Toneel Braga. Mereka menyebut Karrenweg dengan Bragaweg dalam pembicaraan sehari-hari, hingga ditetapkan sebagai nama resmi oleh Gementee Bandoeng.”

Toneelvereeniging Braga banyak mendapat kesempatan untuk unjuk kebolehan di Gedung Societeit Concordia (kini digunakan sebagai Museum Konferensi Asia Afrika Bandung) guna menghibur golongan elit Eropa yang tinggal di Bandung. Kaum elit tersebut di antaranya para juragan perkebunan (Preangerplanters) serta pejabat pemerintah kolonial Belanda.

Yang jelas, menurut J.P. Verhoek, Ketua terakhir Perkumpulan Tonil Braga, seperti ditulis Haryoto Kunto dalam buku “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe”, nama Jalan Braga tidak ada hubungannya dengan penulis drama dari Portugis, Theofilo Braga (1843-1924), atau nama Dewa Puisi “Bragi” dalam cerita mitologi Jerman. Pun tidak terkait sama sekali dengan Braga, pahlawan bangsa Viking atau nama sebuah kota di utara Portugal.

Ah, sungguh penuh warna dan sarat nuansa kawasan ikonik Braga. Menziarahinya juga bakal meluruhkan ingatan pada “Jalan Braga”, sebuah lagu pop Sunda karya seniman besar Jawa Barat, Nano S., yang dilantunkan penyanyi kondang Hetty Koes Endang.

Jalan Braga jalan intelek
Tidak boleh masuk keretek
Becak, roda, bemo, honda, jalan na muter
Ter datang ti kaler ….. har kaburu lieur

(asura / DK)


Baca artikel selanjutnya: Jalan Braga (2) : Cerita Braga Baheula

Artikel Terkait

Sungai Citarum (1) : “Tempat Sampah Raksasa” yang Mendunia

dinamika

Sungai Citarum (3) : Nila di Tarumanegara dan Legenda Gunung di Bandung Utara

dinamika

covid-19

dinamika