Image default
Banner

JEMBATAN CIRAHONG : Jembatan 2 In 1 Penghubung Dua Kawasan

Menghubungkan Ciamis  dan  Tasikmalaya
Perlintasan mobil, motor, dan kereta
Hanya satu-satunya di Indonesia
Serupa dengan di Australia dan Amerika

 

sumber foto: travelingyuk.com

TIDAK perlu jauh-jauh pergi ke Sydney di Australia atau Manhattan di Amerika bila hendak melihat dan menjajal jembatan dengan fungsi ganda. Cobalah bertandang ke Jembatan Cirahong. Inilah jembatan double deck atau geladak ganda yang memiliki fungsi dual mode alias 2 in 1 (two in one) satu-satunya di Indonesia.

Bila ditelisik, model Jembatan Cirahong mirip dengan Jembatan Brooklyn di Amerika Serikat. Keduanya memiliki fungsi serupa. Bagian atas jembatan dipergunakan untuk jalur kereta api, sedangkan jalur di bawahnya dimanfaatkan buat lalu lintas kendaraan roda dua dan empat serta tempat lalu lalang para pejalan kaki.

Perbedaannya, Jembatan Brooklyn yang merupakan jembatan dengan suspensi kabel baja pertama di dunia dan dibangun 10 tahun sebelum pembangunan Jembatan Cirahong memiliki dua jalur untuk kereta api di bagian atas dan dua jalur untuk kendaraan lain di bawahnya. Sementara Jembatan Cirahong cuma memiliki satu jalur kereta api di atas dan satu jalur sempit buat kendaraan lain di sebelah bawah.

Lantaran ukuran jembatan yang sempit, maka kendaraan yang melintas harus bergantian masuk. Unik. Menarik. Sekaligus menggetarkan nyali kala melintasinya.

Jembatan Cirahong adalah jembatan kereta api yang terletak di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis. Tepatnya menghubungkan wilayah Desa Panyingkiran di Kabupaten Ciamis dengan Kecamatan Manonjaya di Kabupaten Tasikmalaya. Jembatan ini melintas di atas Sungai Citanduy yang merupakan perbatasan kedua kabupaten di Jawa Barat itu. Jembatan Cirahong adalah jalur alternatif dari Tasikmalaya menuju Ciamis lewat Manonjaya dan sebaliknya.

Beralamat di Jl. Raya Cirahong, Margaluyu, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46197, Jembatan Cirahong memiliki bentang panjang total 202 meter dan berada di ketinggian 66 meter di atas Sungai Citanduy yang bermuara ke Laut Kidul, serta ditopang penyangga beton setinggi 46 meter. Jembatan dengan nomor registrasi BH 1290 ini berada di sebelah timur Stasiun Manonjaya yang berada di wilayah kerja PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung. Menggunakan konstruksi baja yang banyak dan cukup rapat, Cirahong satu-satunya jembatan kereta api peninggalan Belanda di Kabupaten Ciamis.

Mulai dibangun tahun 1893 oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatspoorwegen, Jembatan Cirahong merupakan bagian dari pembangunan rel kereta api jalur selatan di Pulau Jawa oleh pemerintah kolonial Belanda. Arsitektur Jembatan Cirahong unik. Konstruksinya berupa besi baja yang disusun bertingkat dengan rusuk pelat untuk menampung lalu lintas mobil, motor, sepeda hingga pejalan kaki di sebelah bawah serta rusuk kontinu untuk keperluan jalur kereta api reguler PT KAI Daop 2 Bandung di bagian atas. Jembatan kemudian diperkuat tahun 1934.

Tidak ada angkutan umum roda empat resmi yang melewati jalur Jembatan Cirahong. Kendaraan yang melintas umumnya angkutan pribadi. Karena lebar badan jembatan hanya cukup untuk satu mobil atau sekitar 2 meter, kendaraan yang melintas harus bergantian. Biasanya ada beberapa warga yang bertugas mengatur lalu lintas di kedua ujung pintu jembatan.

Warga dari daerah Manonjaya mengatur arus masuk kendaraan dari pintu jembatan sebelah selatan atau pintu dari arah Manonjaya. Sedangkan warga Ciamis mengatur lalu lintas dari arah utara. Bergantian berjaga selama 24 jam, mereka hanya mendapatkan upah alakadarnya dari sopir atau warga yang melintas di Jembatan Cirahong.

 

Kangjeng  Prebu  Turut  Membantu

Sumber Foto: alampriangan.com

PEMBANGUNAN Jembatan Cirahong tidak lepas dari peran R.A.A. Kusumadiningrat atau biasa disapa Kangjeng Prebu, Bupati Galuh Ciamis tahun 1839 – 1886. Kala itu pemerintah kolonial Belanda sedang membangun jalan kereta api jalur selatan yang melewati Bandung, Garut, Tasikmalaya, dan Banjar, selanjutnya menyambung ke Jawa Tengah.

Selain untuk angkutan massal, pembangunan jalur kereta api tersebut juga untuk mengangkut hasil bumi dari tatar Priangan, seperti kapas, kopi, kapol, dan lainnya ke Jakarta. Saat itu, memang banyak perkebunan baru dibangun di daerah Galuh, seperti perkebunan Lemah Neundeut, Bangkelung, dan lain-lain. Transportasi kereta api diharapkan bisa mempermudah jalur angkutan barang maupun mobilisasi penduduk. Di samping mengangkut hasil perkebunan, dengan jalur kereta api ini Belanda juga sangat efektif mengontrol kawasan jajahannya, terutama wilayah yang berada di pedalaman dan di bagian selatan Pulau Jawa.

Awalnya, Jembatan Cirahong tidak direncanakan dibangun. Dari gambar rencana yang dibuat pemerintah kolonial Belanda, jalur kereta api dari Tasikmalaya tidak melewati Kota Ciamis. Tetapi mengambil jalur ke Cimaragas atau sebelah selatan Sungai Citanduy. Setelah itu, masuk Kota Banjar. Seterusnya, jalur terbagi dua. Menuju Pangandaran dan Cilacap Jawa Tengah.

Pertimbangannya, apabila melintas Kota Ciamis, maka pemerintah Belanda harus membangun dua jembatan melewati Sungai Citanduy. Rencana ini tentu saja bakal memakan biaya yang sangat mahal. Informasi itu akhirnya sampai ke telinga Kangjeng Prebu, yang saat itu sudah pensiun dari jabatan Bupati Galuh Ciamis.

Kangjeng Prabu yang masih memiliki pengaruh ke pemerintah kolonial, kemudian melobi Belanda agar jalur rel kereta yang hendak dibangun tersebut melintasi Kota Ciamis. Ada beberapa pertimbangan yang disampaikan Kangjeng Prebu. Pertama, jumlah penduduk Kota Ciamis sudah lebih besar dibanding Cimaragas, sehingga keberadaan kereta api akan lebih bermanfaat untuk masyarakat. Selain itu, adanya stasiun kereta api akan memperkuat eksistensi Ciamis sebagai ibu kota Kabupaten Galuh.

Setelah melalui lobi panjang, akhirnya pemerintah kolonial menyetujui usulan Kangjeng Prebu. Belanda kemudian membangun dua jembatan di atas Sungai Citanduy. Jembatan Cirahong di Manonjaya dan Jembatan Karangpucung di dekat Kota Banjar. Sudah tentu, biaya yang dihabiskan untuk pembangunannya terbilang mahal.

 

Terhubung  Letusan  Gunung  Galunggung

Sumber Foto: alampriangan.com

MENGHADAPI tantangan alam sewaktu membangun Jembatan Cirahong yang tak pelak bakal menggerus dalam keuangannya, Belanda menempuh cara yang sangat efisien dan efektif. Mereka menggunakan peta data dasar topografi dan geologi yang dipadukan dengan perencanaan matang.

Memanfaatkan celah sempit di atas Sungai Citanduy di daerah Cirahong, Belanda menjadikannya sebagai tempat untuk membentangkan jembatan kereta api menuju Kota Ciamis. Di tempat itu terdapat bentangan untuk jembatan dengan jarak yang terpendek. Selain itu, batuan di daerah sana juga merupakan batuan keras yang cocok untuk pondasi jembatan.

Secara geologis, Jembatan Cirahong terkait dengan fenomena meletusnya Gunung Galunggung. GeoMagz edisi No. 1 Maret 2013 merangkumnya dalam sebuah liputan geotravel bersama narasumber M.M. Purbo Hadiwidjoyo, geologiwan senior sekaligus pemandu perjalanan.

Menurut Purbo, pada suatu ketika Galunggung meletus dahsyat dan melontarkan dinding timur tenggaranya menjadi berkeping-keping batu dalam berbagai ukuran hingga jarak ribuan meter dari titik letusnya. Bahan ledakan itu membendung Sungai Citanduy di Kota Tasikmalaya sekarang sehingga terbentuk danau. Peristiwa itu bisa jadi menewaskan banyak korban, lantaran pada zaman itu daerah tersebut sudah dihuni orang.

Alhasil, banyak mayat terapung di atas danau. Maka, tidak mustahil bila asal-usul nama Kota Tasikmalaya dari kata “tasik” (danau) yang menjadi tempat banyak orang “malaya” (dari kata “laya” yang mendapat awalan “ma” atau “me” yang berarti “mati”).

Danau itu akhirnya mengering. Aliran air danau ke arah selatan lewat Ciwulan. Sebagian air danau mengalir pula lewat Citanduy. Lembah yang lama dan baru alur Sungai Citanduy ini dapat diamati di sekitar Cirahong. Perihal asal-usul nama ini terdapat beberpa perbedaan yang semuanya dirangkum dalam tulisan berjudul “Toponimi Tasik dalam Perbincangan”.

Letusan hebat Gunung Galunggung sendiri menghasilkan ribuan bukit yang terkenal dengan nama “Bukit Sepuluh Ribu”. Nama itu berasal dari Bahasa Prancis, “Dix Milles Monticule” ; dan dalam bahasa daerah setempat, “Bukit Saréwu” atau “Bukit Sapuluh Rébu”. Dinamakan demikian karena memang hasil letusan Galunggung berupa bukit kecil-kecil yang terserak tak beraturan di area seluas 170 km2 dari kaki Gunung Galunggung.

Menurut catatan geologiwan B.G. Escher, jumlah bukit itu lebih dari 3.600 pada sekitar tahun 1925. Namun, saat ini, jumlahnya sudah jauh berkurang. Mungkin tinggal tersisa puluhan saja. Menurut hasil penelitian peristiwa letusan Gunung Galunggung dan “Bukit Sepuluh Ribu”, jarak terdekat antara bukit-bukit itu dengan kawah Galunggung sekitar 6,5 kilo meter dan terjauh mencapai 23 kilo meter. Ukuran bukit terbesar memiliki garis tengah hingga 500 meter dan tingginya mencapai 5 meter.

A.D. Wirakusumah (2012), salah seorang peneliti, menulis, “Selanjutnya, magma menyeleweng sekali lagi ke lereng tenggara dan menyebabkan batuan di lereng tenggara terdorong ke luar dan akhirnya longsor. Akibatnya, magma muncul di tempat lemah tersebut dan terjadilah letusan besar yang menghasilkan piroklastika. Aliran tersebut sekaligus menyertai dan mendorong longsoran tadi hingga terbentuk Bukit Sapuluh Rébu yang lokasinya sampai sekitar 27 kilo meter ke arah timur-tenggara dari kawah Galunggung.”

Kejadian letusan seperti ini dikenal dengan istilah volcanic debris avalanches atau sering disingkat debris avalanches. Artinya, longsoran besar bahan rombakan gunung api. Atau, singkatnya, guguran puing.

Pendapat lain memperkuat penjelasan bahwa letusan Gunung Galunggung melongsorkan puing secara besar-besaran. Situs Survei Geologi Amerika Serikat USGS menyebutkan pula perkiraan umur kejadiannya, yaitu kurang dari 23.000 tahun lalu.

Peneliti lainnya, Sutikno Bronto dari Badan Geologi, juga menyimpulkan, volcanic debris avalanches merupakan cara terjadinya “Bukit Sepuluh Ribu”. Berdasarkan disertasinya tentang geologi gunung api Galunggung, Sutikno mengungkapkan, umur kejadian letusan Galunggung sekitar 4.200 tahun silam.

 

Nyai Odah dan Aki Boh’ang Minta Tumbal Pengantin

Sumber Foto: Aktual.com/Tino Oktaviano

BERADA di antara dua bukit di pingir sungai, menjadikan Jembatan Cirahong memiliki pemandangan menawan yang eksotis. Lantaran keunikan dan keindahan panorama di sekitarnya, jembatan ini menjadi destinasi wisata bagi warga setempat. Biasanya setiap minggu pagi, banyak warga yang sengaja berolah raga jalan kaki menuju jembatan. Pada sore hari, banyak anak muda yang menghabiskan waktu luang menikmati keindahan pemandangan jembatan sembari ngopi dan menyantap gorengan yang dijual di warung-warung sekitar jembatan.

Sementara pada bulan Ramadhan, Jembatan Cirahong pun menjadi salah satu tempat favorit warga untuk ngabuburit. Momen yang paling ditunggu adalah ketika kereta api melintas di atas jembatan. Apalagi di sekitar Jembatan Cirahong kini banyak berdiri warung yang menjual aneka makanan. Menunya bervariasi, mulai karedok sampai ikan bakar.

Dari arah Manonjaya, banyak djual buah-buahan produk setempat, seperti salak atau nangka. Sedang dari arah pintu Ciamis, berdiri rumah makan Sunda yang cukup representatif, sehingga membuat suasana Cirahong semakin mengasyikan untuk dikunjungi. Mungkin kalau ada wisata bungee jumping cocok sekali dengan profil jembatan ini. Eksotisme Jembatan Cirahong bahkan membetot perhatian para fotografer untuk mengabadikannya dalam jepretan kamera digital.

Tapi di balik keindahan, kemegahan, dan keunikannya, Jembatan Cirahong juga terkenal dengan cerita-cerita seram berbau mistis dan misteri. Konon katanya, sering terjadi hal di luar nalar di jembatan ini. Apalagi buat yang melintasinya di malam hari. Jembatan Cirahong disebut-sebut sebagai tempat pembuangan mayat atau tempat percobaan bunuh diri, beredar pula cerita penampakan bayangan mobil yang sebenarnya tak pernah lewat, hingga suara tangisan di malam hari. Karenanya, tempat ini beberapa kali pernah dijadikan lokasi shooting acara-acara bertema horor, misteri, dan uji nyali di sejumlah stasiun televisi swasta nasional.

Jembatan Cirahong memang menyimpan kisah mistis sejak awal pembangunannya. Arkian, penunggu Sungai Citanduy meminta tumbal sepasang pengantin baru sebagai syarat lancarnya pembangunan Jembatan Cirahong. Perwakilan perusahaan Staatspoorwegen kemudian mendatangi salah seorang sesepuh desa bernama Sukasna. Sukasna mengatakan, pembangunan jembatan tidak akan berjalan lancar lantaran terkendala hal-hal mistis.

Pemerintah Hindia Belanda tak langsung percaya dan hanya menganggap omongan Sukasna sebagai bualan belaka. Namun saat pembangunan mulai dilaksanakan, banyak terjadi gangguan yang tak bisa dicerna nalar. Tak ada hujan tak ada angin, Sungai Citanduy tiba-tiba diterjang banjir. Kondisi ini menyulitkan proses pemasangan pondasi jembatan.

Belanda kembali menghubungi Sukasna untuk meminta bantuan. Sukasna pun mencoba berkomunikasi dengan sosok gaib penunggu Sungai Citanduy. Dari kontak itu lantas diketahui bahwa lokasi yang akan digunakan untuk membangun jembatan kereta api dihuni sepasang siluman ular. Nyai Odah dan Aki Boh’ang, nama kedua siluman itu, mengaku kediamannya terganggu oleh pembangunan jembatan yang dilakukan tanpa meminta izin mereka terlebih dahulu.

Dimediasi dan dinegosiasi Sukasna, Nyai Odah dan Aki Boh’ang memberikan satu syarat.  Tumbal sepasang pengantin berwujud perawan cantik dan perjaka tampan untuk diangkat sebagai anak mereka. Kedua siluman ular itu menjanjikan akan menjaga Jembatan Cirahong hingga dapat tetap berdiri sampai ratusan tahun. Syarat itu kemudian disampaikan kepada pihak Belanda.

Bertepatan dengan itu, tersiar kabar bahwa ada buruh pekerja Jembatan Cirahong yang hendak melangsungkan pernikahan. Rencana jahat pun diatur Belanda. Sejumlah centeng dipersiapkan untuk menculik pasangan pengantin baru itu. Selesai melangsungkan akad nikah, pasangan pengantin baru itu dijemput para centeng dengan dalih diundang pemimpin proyek pembangunan jembatan yang hendak menyerahkan hadiah pernikahan.

Alih-alih mendapatkan cendera mata, keduanya malah dibawa ke lokasi pengecoran pondasi jembatan di tengah sungai. Kala sesaji telah diletakkan di dasar pondasi, pasangan pengantin yang sudah dalam keadaan erat terikat itu lalu dimasukkan ke dalam lubang pondasi. Suami istri itu lalu dicor hidup-hidup dengan adonan semen, batu, dan pasir sebagai tumbal pembangunan Jembatan Cirahong. Tak seorang pun pekerja mengetahui peristiwa mengenaskan tersebut. Mereka cuma menjalankan perintah untuk bekerja lembur mengecor jembatan selagi sungai sedang tidak banjir.

Menurut hasil retrokognisi, arwah pasangan pengantin tersebut hingga kini masih terperangkap di alam astral. Mereka tidak terima dengan perlakuan yang menimpanya. Sukma sang pengantin mendiami pondasi bagian tengah jembatan. Sedangkan pasangan siluman ular Nyai Odah dan Aki Boh’ang menempati pondasi samping kanan dan kiri Jembatan Cirahong.

Namun sebagaimana mitos dan cerita mistis lainnya yang beredar di masyarakat, selayaknya kisah-kisah itu disikapi secara bijaksana berdasarkan landasan logika, keimanan, keyakinan, dan agama masing-masing. Berbagai cerita urban legend itu jangan dibesar-besarkan, apalagi sampai menghambat niat untuk bersantai dan menikmati keindahan Jembatan Cirahong. (asura / DK)

Artikel Terkait

covid-19

dinamika

KM 0 Tonggak Sejarah Kota Bandung

adm1n@Web

dinamika