Image default
Banner Horizon

KM 0 Tonggak Sejarah Kota Bandung

Sering melintas di Tugu Titik Nol Kilometer (0 KM) Bandung? Tepat di depan Kantor Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat? Tapi, sudah tahu  sejarah dibalik tugu tersebut?. Tugu tersebut kini menjadi ajang selfie bagi kalangan wisatawan yang sedang melintas atau yang sengaja datang ke Tugu tersebut. Sejak mengalami perubahan tampilan pada tahun 2016 silam, kini tugu tersebut menjadi  tampak lebih ilegan dan menarik.

Tugu yang terletak di Jalan Asia Afrika ini, memang tak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Kota Bandung. Dari berbagai sumber sejarang mengatakan, dahulu Gubernur Jendral Hindia Belanda, HW Daendels mengemban tugas untuk membangun Jalan Raya Pos dari Anyer sampai ke Panarukan (Jawa Timur). Hal ini dilakukan sebagai upaya mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris.  Maskipun hingga kini juga terkenang, dalam proses pembangunan jalan ini memberlakukan kerja paksa hingga menewaskan banyak nyawa.

Tahun 1810, Gubernur Jendral Daendels bersama Bupati Bandung RA Wiranatakusumah II berjalan-jalan ke sebuah lokasi yang akan dilewati untuk jalur pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan. Tiba-tiba, sambil menancapkan tongkat Daendels berkata “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” artinya “Coba usahakan, bila aku datang kembali di tempat ini telah dibangun sebuah kota.”

Hingga pada akhirnya tepat di tanggal 25 September 1810, Bupati Wiranatakusumah II mendapatkan surat keputusan untuk memindahkan pusat pemerintahan kota kabupaten ke lokasi dimana Daendels menancapkan tongkatnya. Tanggal surat tersebut juga sekaligus menjadikan momentum lahirnya Kota Bandung, sementara tempat Daendels menancapkan tongkatnya tersebut dijadikan “Titik Nol Kilometer Bandung”.

Tugu kilometer nol kemudian diresmikan pada tahun 2004 oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, Danny Setiawan. Di tempat tersebut juga terdapat monumen mesin penggilingan (stoomwals) kuno yang disertai sebuah batu prasasti sejarah. Tugu dan moumen ini didekasikan untuk rakyat Priangan yang menjadi korban pembangunan jalan raya Anyer-Panarukan.

Pada tahun 2016, tugu kilometer nol di percantik dengan berbagai elemen estetis dan patung dada empat tokoh di samping kiri dan kanannya. Keempat replika tokoh tersebut yakni Ir. Soekarno, HW Daendels, RA Wiranatakusumah II, Mas Soetardjo Kartohadikusumo.

Ir Soekarno

Ir. Soekarno atau akrab dikenal Bung Karno merupakan presiden pertama  Republik Indonesia yang menjabat dari tahun 1945-1966. Lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901. Bung Karno juga dikenal sebagai arsitek, alumni dari teknik sipil Technische Hoogeschoolte Bandoeng (sekarang ITB) dan menamatkan kuliahnya pada tahun 1926.

Dalam catatan sejarah, Bung Karno merupakan bapak proklamator Indonesia bersama Bung Hatta. Ia merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan Partai Nasional Indonesia  (PNI) pada 4 Juni 1927 dengan tujuan Indonesia yang merdeka. Akibatnya Belanda mengirimnya ke penjara Sukamiskin di Bandung pada 29 Desember 1929. Dalam sidangnya, ia menunjukkan kekejaman Belanda dan membuat Belanda menjadi semakin marah. Pada Juli 1930, PNI dibubarkan. Setelah bebas pada 1931, Soekarno memimpin Partindo. Ia kembali ditangkap dan dibuang ke Ende, Flores, pada 1933.

Pada 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sidang PPKI pada 18 Agustus 1945 memutuskan menetapkan Ir Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia pertama.

Bung Karno wafat di Jakarta dengan status sebagai tahanan politik pada 21 Juni 1970 akibat penyakit ginjal. Ia pernah meminta dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor, namun pemerintah memilih kota Blitar sebagai  tempat pemakaman Bung Karno.

HW Daendels

Lahir di Hatem, Belanda, pada 21 Oktober 1762 dengan nama Herman Willem Daendels. Ia merupakan politikus Belanda dan juga Gubernur Jenderal Hindia-Belanda ke-36 dengan masa periode 1808-1811.

Tugas  utama Daendels di Indonesia adalah mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Usaha  yang dilakukannya adalah dengan cara membangun jalan dari Anyer hingga Panarukan sepanjang 1.000 kilometer. Jalan ini dikenal dengan nama Grote Post-Weg (Jalan Raya Pos). Dengan tangan besinya, pembangunan jalan ini hanya menghabiskan waktu satu tahun yaitu dari tahun 1809 hingga 1810.

Pembangunan jalan ini tentu saja menuai kontroversi. Sejarah tidak pernah menyebutkan manfaat dari pembangunan jalan ini. Hasil kopi dari pedalaman Priangan yang biasanya dibiarkan membusuk di gudang-gudang kopi akhirnya dapat diangkut diangkut ke pelabuhan Cirebon dan Indramayu. Jarak antara Batavia-Surabaya yang biasa harus ditempuh selama 40 hari dapat dipersingkat menjadi 7 hari. Sangat bermanfaat bagi pengiriman  pos.

Daendels dapat dikatakan membuat birokrasi menjadi lebih efisien dan mengurangi korupsi. Namun, ia dituduh melakukan korupsi dan memperkaya diri sendiri. Pada masa pemerintahannya, Daendles  pernah memulangkan beberapa pejabat ke Belanda dan menggantikannya dengan pejabat baru yang diam-diam menentang Daendles. Mereka menuliskan keburukan Daendles seperti banyaknya korban jiwa dalam pembangunan Jalan Raya Pos dan kerja rodi. Arsip-arsip yang ditulis oleh para pejabat tersebut lebih banyak ditemukan di Belanda. Sedangkan data-data yang dilaporkan oleh Daendels disimpan di Prancis.

Terlepas dari pro dan kontra karena kehadiran Daendels yang bersanding dengan tokoh nasional lainnya, patung-patung tersebut dihadirkan untuk mengenang pembangunan jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. Karena dengan pembangunan jalan tersebut, Bandung menjadi kota yang lebih maju dibandingkan sebelumnya.

Daendels meninggal di Elmina, Belanda, pada 2 Mei 1818 pada umur 55 tahun karena penyakit Malaria.

Mas Soetardjo Kartohadikusumo

Soetardjo merupakan gubernur pertama Jawa Barat. Bersuku Jawa, ia lahir di Kunduran, Blora, Jawa Tengah pada 22 Oktober 1892. Berasal dari keluarga birokrat Jawa, namun memiliki pandangan yang menentang feodalisme yang merendahkan rakyat pribumi di hadapan Belanda.

Ia merupakan tokoh nasional dan aktif di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Walaupun menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat, namun ia berkantor di Jakarta. Ia juga pernah menjabat sebagai ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Soetardjo cukup kritis dalam meningkatkan kesejahteraan pribumi. Saat menjabat sebagai Mantri Kabupaten pada tahun 1912, Soetardjo mengajukan protes terhadap peraturan mengenai sikap pamong praja yang diharuskan duduk silo di atas tikar dengan menggunakan pakaian hitam dilengkapi dengan keris sedangkan pegawai Belanda duduk di atas kursi. Lalu peraturan konferensi tersebut diubah dengan diperbolehkannya pamong praja memakai sikepan putih dan duduk sejajar dengan pegawai Belanda.

Pada 1936, ia menjadi  ketua Persatuan Pegawai Bestuur Bumiputera (PPBB). Ia melontarkan gagasan-gagasan tentang perlunya mengubah tata kerja pamong praja menjadi lebih modern, gaji pamong praja yang lebih pantas, dan juga Soetarjdo Bank yang ia dirikan melalui kongres PPBB.

Terakhir usul Soetardjo yang paling menimbulkan banyak pro dan kontra adalah Petisi Soetardjo. Petisi tersebut  merupakan petisi yang diajukan atas ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakan politik Gubernur Jenderal De Jonge. Petisi tersebut diajukan pada Ratu Wilemina dan Staten Generaal atau parlemen Belanda.

Mas Soetardjo Kartohadikusumo meninggal di Jakarta pada 20 Desember 1976 pada umur 84 tahun.

RA Wiranatakusumah II

RA Wiranatakusumah II merupakan Bupati Kabupaten Bandung ke-6 yang menjabat dari tahun  Ia menjadi bupati sejak tahun 1794 hingga tahun 1829. Ia dapat dikatakan sebagai pendiri Kota Bandung karena pembangunan Kota Bandung sepenuhnya dilakukan dibawah pimpinannya. Pada 1809, Wiranatakusumah II memindahkan penduduknya ke Bandung tanpa sepengetahuan pemerintah Belanda. Tempat yang cocok untuk ibu kota pun sudah dipilih walaupun masih berupa hutan. Rakyatnya diarahkan untuk menempati daerah Bandung Utara.

Secara tidak langsung Wiranatakusumah II dapat dikatakan sebagai pendiri Kota Bandung. Walaupun Daendels yang mengeluarkan surat keputusan resmi kepindahan ibu kota Bandung pada 25 Desember 1810, rencana bupati ke-6 Bandung tersebut membuat Belanda tidak serta merta membuat Kota Bandung berdiri atas perintah penjajah.

Wiranatakusumah II yang memiliki nama kecil Indradireja ini wafat setelah memimpin Bandung selama 35 tahun. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman di belakang Masjid Agung Bandung. Julukan Dalem Kaum diberikan karena nama Dalem diberikan kepada seorang menak Priangan setelah ia meninggal dan Kaum karena ia dimakamkan di daerah Kauman.

Artikel Terkait

Makna Hakiki Bekerja dan Rezeki

dinamika

covid-19

dinamika

Sungai Citarum (3) : Nila di Tarumanegara dan Legenda Gunung di Bandung Utara

dinamika