Image default
Profil

Menekuni Seni dan Pariwisata, Belajar Tegar Membaur di Infrastruktur

Oneng Nurlatifah, S.Sn.
Kasubag TU UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan III Bandung

Jika saja tak ada perampingan Balai di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, mungkin Oneng Nurlatifah, S.Sn., masih lekat dengan dunia seni, “ngahaleuang” dan “andemprok emok” melantunkan lagu-lagu sunda adalah hoby dan profesi sejak lama dan merupakan bagian salah satu tugas di Disparbud yaitu melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya . Tapi, sejak tahun 2005, ia meninggalkan aktivitas keseniannya didunia panggung, dan pada awal Februari 2018 konsentrasi pada tugas barunya di Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat sebagai Kasubbag Tata Usaha di UPTD IVdan akhirnya sekarang beralih tugas ( Mutasi) masih sebagai Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Kasubag TU) di UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan III Bandung, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat.

Ada satu kenangan indah awal bertugas di Disparbud, sa’at itu masa Gubernur Jawa Barat Bapak R. Nuriana. “Saya bersama rekan setiap pagi selama satu jam harus andemprok di depan pintu masuk kantor Gubernur (Lobby). Jadi sinden diiringi kacapi suling,” ujar Oneng yang diwawancara di ruang kerjanya.

Menyenangi seni sejak bangku SMP sampai kuliah di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung dan lulus D3 tahun 1991, dunia seninya Tanya mampu memberi Oneng penghasilan. Mulai sekadar uang jajan hingga dapat membayar uang kuliah sendiri. Ia pun berkesempatan untuk berkolaborasi dengan seniman Sunda kahot, seperti Nano S, Tati Saleh, dan banyak lagi seniman maupun budayawan senior lainnya. Bahkan, Oneng juga sering membawa misi membawa nama Jawa Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya mentas di Indonesia hingga luar negeri, semisal Singapura, Malaysia, Jepang hingga ke Iraq (Baghdad) pernah mengajar selama 3 bulan disana pas disaat menjelang agresi Amerika ke Iraq pada sekitar Tahun 2002-2003, dan itu merupakan tugas yang dianggap paling besar dan beresiko selama menjadi PNS, pasrah kalau harus mengorbankan jiwa dan raga karena pada saat itu sekitar 3000 orang tentara Amerika sudah sampai diperbatasan Iraq- Kuwait.

Oneng sebenarnya bercita-cita menjadi Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS)/Aparatur Sipil Negara (ASN). Untuk itu, dia melanjutkan Pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Purwakarta.

“Karena dorongan orang tua dan memang cita-cita saya menjadi guru dan PNS. Pernah tercapai menjadi Guru selama kurang lebih 1 Tahun mengajar di Sekolah swasta (BPI) Bandung.”

Hanya setahun menjadi guru, Oneng akhirnya berhenti dan mengikuti testing CPNS di Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1992. Tahun berikutnya (1993), ia sudah menjadi PNS dan ditempatkan di Taman Budaya Jawa Barat yang dikenal dengan Dago Tea Huis.

“Sepuluh tahun saya ditempatkan di Taman Budaya Jawa Barat sebagai PNS/ASN Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang ditugaskan di daerah,” jelas Oneng, yang berhasil menyelesaikan pendidikan S1Jurusan Karawitan dari Akademi Seni Tari Indonesia tahun 2016.

Tahun 2002 Oneng bertugas sebagai ASN PEMPROV Jawa Barat bergabung di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Undang-Undang Otonomi Daerah mengharuskan ASN pusat yang ditugaskan di daerah menjadi ASN di provinsi tempat penugasan. “SK saya ditugaskan di Disparbud Jabar dan ditempatkan sebagai Staf Pelatihan Kepariwisataan,” jelas Oneng.

Sebelas tahun kemudian, Oneng dialihtugaskan sebagai Staf Bidang Kesenian Disparbud. “Disinilah saya banyak berhubungan dengan seniman tradisional dari seluruh Jawa Barat, menyelenggarakan pentas seni dari daerah, dan pasanggiri (lomba seni). Meski dana yang tersedia tidak besar, tetapi saya bahagia, karena setidaknya bisa berbagi peluang danmemberi stimulan kepada kreator dan penggiat seniagar terus berkarya berkolaborasi antara seniman Jawa Barat dan Pemerintah dalam membangun karakter bangsa yang berbudaya melalui Pelestarian dan Pengembangan nilai Seni dan Budaya khusunya seni dan budaya tradisi Jawa Barat,” ulas Oneng.

Selanjutnya satu bentuk kepercayaan baru yang harus dilaksanakan Oneng mendapat promosi menjadi Kepala Seksi Pelestarian Nilai Budaya dan Sejarah dari tahun 2016-2018 dan ditempatkan di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat ( MONJU). “Disini saya harus belajar mengenai sejarah dan pelestarian seni dan budaya, khususnya di Jawa Barat,”ungkap Oneng.

Akhir Tahun 2017 sampai dengan awal Tahun 2018, terjadi perampingan di Disparbud Jawa Barat. Lima Balai diciutkan menjadi tinggal satu Balai, sehingga 20 pejabat eselon “kehilangan tugas”, termasuk Oneng. Di tengah kegalauan dengan posisinya, Oneng mendapatkan kejutan.

“Tiba-tiba saya mendapatkan surat Undangan untuk dilantik dan Keputusan sebagai esselon IV Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang dan ditempatkan sebagai Kasubbag Tata Usaha UPTD IV di Sumedang dan Garut,“ ujar Oneng mengenang saat-saat yang mengejutkan tersebut.

Di awal awal melaksanakan tugas Oneng sempat dilanda dilema, selain ditugaskan pada tempat atau intitusi bukan bidangnya baik dari profesi ataupun disiplin ilmu, juga tempat tugasnya jauh dari Bandung. Ia memikirkan anak bungsunya yang masih balita yang harus ditinggalkan ketika bekerja di Kota Tahu itu. Selain itu, “belantara” DBMPR Jabar masih sangat asing, meskipun posisinya sebagai Kasubag TU sesungguhnya hanya berhadapan dengan hal-hal bersifat umum tapi tetap serasa kurang rasa percaya diri.

“Suami sempat menyarankan pensiun dini, tetapi keputusan tetap diserahkan pada saya,” ujar Oneng. Dia akhirnya mengambil keputusan jalan terus. Apalagi Kepala UPTD IV Sumedang saat itu, Bapak Agus Salim, S.T., M.T., (Kabid Harbang) sekarang, menerima dengan penuh kebijakan, mengarahkan dan membina saya berkesinambungan tanpa tekanan, dari situlah saya banyak termotivasi dan beradaftasi baik dari beban pekerjaan ataupun lingkungan, ditambah teman teman pegawai kompak dan solid membawa saya ke arah perubahan obyek pekerjaan dan pemikiran.

Kurang lebih dua tahun Oneng harus meninggalkan “sibungsu” ketika hari masih pagi dan baru bisa bertemu kembali kala hampir malam. “Itulah konsekuensi ASN, harus siap ditempatkan di mana saja dan tugas apa saja sesuai janji,” ujar Oneng.

Awal tahun 2020, Oneng dialihkan tugas menjadi Kasubag TU UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan III Bandung. “Suatu keputusan mutasi yang sangat saya syukuri. Inilah daerah tugas yang saya inginkan, meski awalnya sekadar dalam impian. Ternyata impian tersebut jadi kenyataan. Saya bisa lebih dekat dengan rumah dan keluarga, saya bisa lebih fokus dan tidak terlalu stress dengan tantangan diperjalanan menuju dan pulang kantor,” katanya.

Hampir 3 tahun Oneng bertugas di DBMPR Jabar, tetapi dia mengakui masih banyak sekali yang harus dipelajari terutama sisi teknis Kebinamargaan. “Saya betul-betul buta seperti merambah belantara masalah teknis Kebinamargaan,” jelasnya, “Namun untuk masalah Kepegawaian, Umum, dan lain-lain, saya sudah mulai memahami dan bisa mengerjakannya,“ lanjutnya.

Oleh sebab itu, dengan bimbingan dan arahan yang penuh kebijakan Ka UPTD III Bapak Ruhiyat, S.T., M.T., saat ini, Oneng terus berupaya belajar sambil bekerja mengenal dunia kebinamargaan. Dia tak malu bertanya atau meminta bantuan kepada sesame rekan kerja apabila ada hal-hal yang kurang dipahami. Prinsipnya, “Dari pada saya tidak bisa menyelesaikan tugas, lebih baik banyak bertanya atau meminta bantuan rekan kerja, bagi saya senior dilingkungan DBMPR adalah guru hidup dan guru perubahan dalam perjalanan karier saya, lanjutnya.

Meskipun masih “cuang-cieung” dengan Program dan Perencanaan di DBMPR ‘masih banyak yang belum pahamnya terutama tentang Program Teknis’. “Tapi lumayanlah saya sekarang mulai familiar dengan istilah lapen, agregat, oprit, girder, DED, RUMIJA dan lain lain, Alhamdulillah Oneng sudah kadung betah berkiprah di lingkungan di DBMPR Jabar. Ia berharap dapat bekerja di DBMPR Jabar hingga pensiun. “Mun kenging nawar mah tos we tong dialihkeun deui dugi ka pensiun” ujar nya.

Lima tahun lagi Oneng akan memasuki masa purnabakti. Ia merasa bersyukur dapat mengantarkan anak-anaknya mengecap dan menamatkan bangku kuliah. Bahkan, salah satu anaknya sudah berhasil menjadi seorang dokter.

“Kesibukan sebagai ASN membuat saya tidak penuh membimbing dan mengawasi anak-anak. Untung mereka memahami posisi ibunya. Mereka tetap memberikan kebanggaan pada orang tua dengan mempersembahkan prestasi baik dalam bidang akademik,” ungkap Oneng. Tidak hanya anak-anak, suaminya pun mafhum dengan tugas Oneng sebagai ASN.

Kendati jarang ketemu, Oneng tetap memperhatikan quality time dengan keluarganya lewat telepon atau media sosial. Selebihnya dia serahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa.

“Prinsip hidup saya, Lillahi Ta’ala. Semua takdir saya serahkan hanya Allah SWT yang berkehendak. Yang penting saya berusaha bersemangat disetiap peluang dan kesempatan dan harus bisa memberikan manfaat dalam hal kebaikan bagi orang lain, karena mungkin sedikit nasehat atau tindakan saya bisa berguna dan ada kemanfaatannya bagi orang lain, disisa usia saya menjelang senja saya harus mulai berpikir masa depan saya yaitu alam akhirat kelak, Insyaa Allah,” ucap Oneng di ujung pembicaraan. (DK)

Artikel Terkait

Pengalaman Lapangan Rampungkan Masalah Lapangan

dinamika

Total Bekerja Ikhlas Bertugas

dinamika

Agus Hendrarto : Bekerja Harus memberi Manfaat

dinamika