Image default
Horizon

Pascalebaran Mampukah HIKMAH Ramadhan Tidak bubaran?

Idul Fitri hadir sehari setelah penutup ibadah puasa Ramadhan. Sudah tentu kita semua bersama seluruh kaum muslimin senantiasa menyambut dan merayakannya dengan penuh kegembiraan, keceriaan, kebahagiaan, dan kesukacitaan.

Idul Fitri atau lebaran adalah hari perayaan bagi mereka yang berpuasa. Dalam ragam tradisi di Indonesia, masing-masing orang akan meminta permaafan kepada orang tua bagi yang lebih muda dan orang tua memberikan permaafan kepada mereka yang lebih muda. Paling utama adalah orang tua biologis –bapak, ibu, nenek, kakek, dan seterusnya ke atas, sanak saudara, tetangga, serta teman-teman. Ketika orang tua sudah wafat, maka biasanya kita akan pergi ke makam untuk menziarahi mereka, membacakan doa bagi mereka begitu usai shalat Idul Fitri. Hal seperti ini sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, namun bagi orang Indonesia, Idul Fitri adalah kesempatan terbaik.

Semua tindakan di atas pada dasarnya adalah simbolisasi kita untuk kembali kepada keadaan yang asal. Apa yang asal dalam kehidupan manusia adalah fitrah kita sebagai manusia.

Fitri di sini memiliki makna suci, bersih, dan sesuai dengan asal sebagaimana sabda Nabi bahwa manusia pada hakikatnya dilahirkan dalam keadaan fitri. Karenanya, ucapan-ucapan yang disampaikan sesaat setelah Idul Fitri seperti minal aa’idin walfaaizin, taqabbalallahu minna waminkum taqabbal ya kariim, dan lainnya, adalah hal yang sangat dekat secara makna dengan keadaan fitri tersebut.

Dari dimensi agama, Hari Raya Idul Fitri adalah momen di mana manusia berefleksi tentang diri mereka (muhasabah), tentang orang lain, dan juga tentang Tuhannya setelah menjalani puasa sebulan penuh. Letak hikmah bermula dari hari pertama Idul Fitri sampai hari-hari kembali lagi ke Idul Fitri berikutnya. Dalam interval waktu tersebut, kita dikatakan sebagai sukses dan menang apabila mampu menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Jika kita mampu mencapainya, maka hikmah puasa itu bisa diraih.

Bagi umat Islam, momentum Hari Raya Idul Fitri adalah saat-saat penting untuk bersilaturrahmi dan saling memaafkan. Seluruh kesalahan yang pernah dilakukan terhadap sesama selama setahun seolah ingin dilebur di hari lebaran nan mubarak itu. Di sini kita saling bermaafan, minal a’idin wal faizin.

Sadar atau tidak sadar, ungkapan itu dalam masyarakat kita sering dimaknai, “mohon maaf lahir dan batin”. Meski secara kontekstual pemaknaan itu tidak terlalu menyimpang, keluasan dan kedalaman makna ungkapan tersebut tidaklah sepenuhnya terwakili dalam ungkapan “mohon maaf lahir dan batin”. Mengapa begitu?

Dalam istilah agama, ada yang disebut huququllah atau hak-hak Allah dan ada pula yang disebut  huququl insan atau hak asasi manusia. Dosa atau kesalahan manusia kepada Allah menimbulkan hak bagi Allah untuk menuntut penebusan dari manusia. Kita menjalankan puasa Ramadhan, misalnya, merupakan upaya menebus dosa itu dan memohon ampun kepada-Nya. Puncaknya adalah pada momen Idul Fitri, yaitu kembali kepada fitrah kita, kepada kesucian.            Kembali kepada kesucian itu yang kemudian disimbolkan dengan adanya maaf dari Allah, lalu disempurnakan dengan maaf dari manusia. Dalam kehidupan keseharian atau bermasyarakat, kita pasti tidak luput dari berbuat salah kepada sesama. Allah tidak akan mengampuni kesalahan yang kita lakukan terhadap sesama jika kita tidak mau minta maaf kepada yang bersangkutan. Di sinilah sebenarnya kaitan antara ungkapan minal a’idin walfaizin yang berdimensi vertikal dengan ungkapan “mohon maaf lahir dan batin” yang berdimensi harizontal.

Hidup pada dasarnya suatu gerak, suatu aktivitas dalam waktu. Ketika Allah meniupkan ruh kedalam jasad manusia, hidup pun telah dimulai. Karena pada saat itu, fitrah atau kejadian asal manusia bersentuhan secara fisik maupun mental dengan alam materi yang membuatnya tidak lagi bersih atau suci. Ditambah lagi , manusia itu makhluk yang lemah, sehingga mudah terjerembab ke dalam kenikmatan materi yang semu. Semakin lama ia tenggelam dalam kemeriahan alam materi, semakin  kotor pula alam ruhaninya. Akhirnya, terjatuhlah manusia ke alam kesengsaraan.

Untuk bisa kembali ke alam surgawi atau kebahagiaan, manusia harus melalui proses pembersihan diri. Ramadhan adalah bulan yang mendatangkan rahmat, ampunan, sekaligus pencegah agar manusia tidak jatuh ke lembah kesengsaraan. Dengan demikian, umat Islam dapat masuk kembali ke alam kebahagiaan, alam surgawi, alam kesucian yang dilambangkan dengan Idul Fitri.

Sebenarnya, lambang-lambang dari kecenderungan manusia untuk kembali kepada asal kejadiannya juga ditemukan dalam segenap kegiatan menjelang dan di Hari Raya Idul Fitri. Kita melihat, misalnya, orang-orang selalu  menyempatkan diri untuk pulang kampung. Mereka bahkan rela berjejal dan berdesakan di atas kereta atau bus, saling sikut, saling dorong, dan sebagainya.

Inilah mudik lebaran yang sebenarnya, yang berarti “kembali ke asal”, ke kampung halaman, “kembali ke fitrah”. Tujuan mudik sama sekali jauh di atas kepentingan material, tetapi didorong kecenderungan spiritual, yaitu hasrat berkumpul dengan sanak saudara sekaligus untuk saling memaafkan.

Memaafkan memang pekerjaan gampang-gampang susah. Tidak semua orang mau berbesar hati memaafkan kesalahan orang lain. Apalagi jika orang itu menganggap kesalahan tersebut terlalu besar, sehingga kata maaf dianggap terlalu ringan dan tidak cukup untuk menebus kesalahan itu. Kata memaafkan sendiri, sebagaimana tersurat dalam Q.S. Ali Imran : 134, didahului dengan kata menahan amarah. Karena orang yang tidak bersedia memaafkan kesalahan orang lain, biasanya memendam amarah atau menyimpan dendam.

Dalam Al Quran, kata “dendam” yang terkait fenomena yang manusiawi, paling sedikit disebutkan dua kali. Seperti dalam ayat, “Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka” (Q.S. Al-A’raf : 43).

Kesimpulan ringkas yang diuraikan petunjuk Al Quran ini adalah sifat dendam, yang salah satu bentuknya tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, bukanlah sifat orang beriman. Sebab, Allah sendiri adalah Maha Pemaaf. Allah juga mencirikan orang-orang yang beriman sebagai orang yang mau memberi maaf apabila sedang marah.

Jelas, memaafkan adalah suatu kualitas dan tingkatan moral tersendiri. Jika kita memaafkan kesalahan orang lain, berarti kita menutupi kesalahan orang itu dan rasa marah kita sendiri. Sebab, keduanya saling berkaitan dengan keikhlasan untuk memberi maaf. Kini pertanyaannya, mampukah kita meletakkan makna ungkapan “mohon maaf lahir dan batin” itu dalam kerangka seperti yang dituju Al Quran tersebut?

Umat Islam diingatkan bahwa sehebat apa pun pertentangan hendaknya segera dicarikan penyelesaian dengan mengedepankan semangat ukhuwah atau persaudaraan sejati guna membangun ishlah atau perdamaian di antara sesama umat manusia. Bagi kalangan tertentu yang menginginkan dakwah secara radikal dan menimbulkan permusuhan, Idul Fitri adalah saat terbaik untuk merenungkan kembali jalan dakwah yang lebih arif dan bijak, yakni dakwah bil hikmah.

Pesan Nabi Muhammad SAW, “Jangan sampai perselisihan itu berlanjut lebih dari tiga hari.” Mudah-mudahan melalui Hari Idul Fitri kita bisa memetik hikmah untuk diterapkan dalam kehidupan nyata, agar rasa damai dan persaudaraan selalu menyertai kita di mana pun dan kapan pun.

Berakhirnya momen puasa Ramadhan meninggalkan banyak hikmah. Namun tidak semua orang mau meraih dan mempertahankan hikmah tersebut pascapuasa.  Puasa sebulan penuh yang begitu kaya dengan makna kerendahan hati, kesalehan sosial, dan filantropi harus  mampu menjadi cerminan dan istiqamah dipertahankan  bagi pribadi dan karakter orang beriman di luar Ramadhan.

Namun, kenapa hal itu tidak terjadi, bahkan intensitasnya tidak mengalami penurunan? Jawabnya kembali kepada kita semua : sejauh mana kita mampu memandang ibadah kita –yang ikhlas karena Allah– memiliki dimensi kemanusiaan dan perubahan sosial.

Jangan sampai Hari Idul Fitri yang sering pula disebut lebaran menjadi hari bubaran. Bubar puasanya, bubar pula ke masjidnya, bubar juga baca Al Quran-nya, dan seterusnya. Pun apakah bubar Ramadhan berarti bubar pula ketaatannya?. (dari berbagai sumber)

Artikel Terkait

Manajemen Perkantoran

dinamika

Sukseskah Ramadhan Kita?

dinamika

KM 0 Tonggak Sejarah Kota Bandung

adm1n@Web