Image default
Profil

Siap Jawab Tantangan di Awal Jabatan

Ir. A. Koswara M.P., Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat (DBMPR Jabar) yang baru, lahir di Kabupaten Garut 51 tahun lalu. Lulus dari  Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1992. Awalnya lebih memilih berkarier di perusahaan swasta di Jakarta, kemudian pindah ke Bandung.

“KETIKA bekerja di Dago Resort Bandung, ada pembukaan lowongan penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS), saya mencoba melamar, dan ternyata diterima,” ujar Koswara, ayah dua orang putra. Awal karier sebagai aparat sipil negara (ASN), dia ditempatkan di Kabupaten Garut (1997-1999), kemudian pindah ke Kota Bekasi.

Sejak 1999-2018, Koswara bertugas di  Dinas Bangunan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi. Selanjutnya berturut-turut pindah ke Dinas Pekerjaan Umum (PU), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), sempat “mampir” di kecamatan sebagai Kasie, kembali ke Dinas PU, pindah ke bidang baru di Dinas Tata Kota, balik ke Bappeda, dan terakhir bertugas di Dinas PU, sebelum akhirnya lulus dalam lelang jabatan Kepala DBMPR Jabar.

“Meskipun berulang kali pindah tugas, tetapi saya lebih banyak bertugas di bagian perencanaan,” ujar lelaki yang memiliki hobi menggowes sepeda dan pernah bersepeda sampai Gunung Bromo ini.

Ihwal keikutsertaannya dalam lelang jabatan, Koswara bertutur, ketika tugasnya sebagai ASN di Pemkot Bekasi sudah “mencapai puncak karier”, dia melihat ada kesempatan untuk pengembangan kariernya sebagai PNS. “Saya ikut lelang jabatan karena kebetulan memenuhi syarat yang ditetapkan, yaitu pernah  bertugas di bidang yang sama selama lima tahun, yaitu di PU dan Tata Ruang,” jelas Koswara.

Selain untuk pengembangan karier, alasan lainnya adalah dengan pengalamannya dalam lingkup kota, Koswara diharapkan bisa membantu untuk tingkat provinsi. ”Saya pun tertarik dengan visi misi gubernur baru,” ungkap Koswara.

Menurut Koswara, tugas utamanya sebagai kepala dinas mendukung visi misi kepala daerah, sehingga diperlukan sikap tidak biasa-biasa saja. Diperlukan perubahan sikap, karena gubernur menuntut inovasi dan kreativitas sangat tinggi dari para pembantunya dalam bekerja atau menjalankan tugas. Terlebih, “Saya senang kalau ada tantangan kreativitas dan inovasi. Itu menjadi tantangan dan motivasi bagi saya,” sebut Koswara.

Selain mesti kreatif dan inovatif, dia juga dituntut untuk meningkatkan profesionalitas, karena makin ke depan tantangan kian berat.“Untuk itu, perlu penguatan kapatitas personal mapun kapasitas tim. Penguatan bisa bermacam-macam caranya, dengan perubahan mind set sebagai basic-nya, serta menambah pengetahuan, wawasan, mengubah cara kerja, dan lainnya,” jelas Koswara.

Menyangkut target di masa kepemimpinannya di DBMPR Jabar, Koswara menegaskan, akan lebih fokus menyelesaikan yang sudah tertulis di APBD dengan percepatan dalam pelaksanaannya. “Banyak pekerjaan rumah, terutama dalam pelaksanaan kegiatan, karena sudah masuk triwulan pertama, tetapi banyak pekerjaan belum terlaksana,” pungkas Koswara. (Wawan / DK)

 

Satukan Semangat dan Persepsi

Sebagai Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat (DBMPR Jabar) baru, yang diberi target menantang oleh Gubernur Jabar, A. Koswara benar-benar harus “ngabret” seperti gimmick Kang Emil untuk mengejar Jawa Barat juara lahir batin. Tantangannya memang cukup berat, karena sudah memasuki triwulan pertama tahun 2019 nyatanya belum ada realisasi pekerjaan.

UNTUK segera action, Koswara terus memberikan arahan, langkah, dan strategi kepada kepala bidang, kepala UPTD, dan seluruh karyawan DBMPR Jabar dalam berbagai momen. Salah satunya saat briefing, Selasa (12/3), di ruang Bima Utama Kantor DBMPR, Jl, Asia Afrika Bandung. Arahan yang diberikan mulai masalah lelang, mekanisme kerja, administrasi di dalam (internal), sistem pengendalian pekerjaan sampai kebersihan ruangan dan  entertain (hiburan) karyawan.

Intinya, Koswara menginginkan adanya perubahan pemikiran(mind set), peningkatan profesionalisme dan kapasitas (pengetahuan) SDM, perubahan paradigma, sampai kepedulian terhadap lingkungan. Dia menginginkan semua instruksi/perintah terdokumentasikan, bukan hanya disposisi yang dibuat olehnya, tetapi juga ada buku disposisi dan melalui media informasi.

“Pemanfaatan teknologi informasi mesti maksimal, karena target nantinya paperless. Tapi meskipun tanpa kertas semua harus didokumentasikan. Dengan adanya dokumentasi, maka yang diberi tugas tak bisa ngeles bila diminta laporannya,” jelas Koswara.

Selain masalah administrasi, semua kegiatan harus terdokumentasikan dalam bentuk foto, notulen, atau film untuk bahan evaluasi dan laporan. Kadis juga meminta semua karyawan menata ruang kerjanya agar nyaman, sehat, dan indah.

“Dengan ruang kerja yang nyaman, selain enak ditempati dan nyaman dipandang, juga akan memudahkan kita dalam mencari arsip/data. Kita bisa melihat orang tertib dari ruang kerjanya,” ungkap Koswara, yang akan memotivasi pegawai dengan membuat lomba kebersihanan ruangan/tempatkerja. Di samping tempat kerja, dia pun meminta semua pegawai peduli terhadap lingkungan dengan memperhatikan kebersihan dan baunya.

Sementara untuk peningkatan kapasitas tim dan personal bisa dilakukan dengan

pelatihan, kursus, FGD, dan seminar. “Kita jadwalkan rutin setiap selesai briefing. Setiap bidang bergantian melakukan presentasi kemampuan yang dikuasasinya dalam hal lelang, pengawasan atau pengeloaan SDM misalnya,” jelas Koswara, “Pokoknya, kegiatan ini akan berguna untuk meningkartkan kapasitas tim. Sewaktu-waktu kita panggil juga narasumber dari luar untuk menambah pengetahuan yang tidak dikuasai kalangan internal.”

Untuk perubahan pemikiran (mind set), semua pimpinan dan pegawai DBMPR Jabar harus mengetahui dan memahami bahwa persoalan DBMPR Jabar bukan persoalan tunggal, tapi menyangkut lintas bidang dan instansi. “Kita harus berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan, kepolisian, dan sebagainya. Persoalan jalan masalah bersama yang harus dikelola bersama supaya lebih efisien. Karena tak akan pernah cepat selesai jika hanya mengandalkan satu instansi DBMPR saja,” ujar Koswara.

Terakhir, kata Koswara, semua pihak harus mengubah paradigma, karena era teknologi informasi memerlukan lompatan-lombatan besar. “Bekerja memang harus sesuai aturan. Tapi jika aturan mengganggu kelancaran, maka usulkan aturan baru yang  tidak menghambat tugas dan pekerjaan,” tegas Koswara, sambil menambahkan, briefing akan menjadi agenda rutin seminggu dua kali setiap hari Selasa dan Jumat. (Wawan / DK)

Artikel Terkait

Berikan Pelayanan Terbaik pada Masyarakat dan Pensiun dalam Kondisi Sehat

dinamika

Menjaga Amanah Menaklukkan Tantangan

dinamika

Pengalaman Lapangan Rampungkan Masalah Lapangan

dinamika