Image default
Horizon

Sukseskah Ramadhan Kita?

RAMADHAN bak jamuan istimewa yang diperuntukkan Allah Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya .  Para pecinta kebaikan menyambut jamuan Ramadhan dengan berlomba meraih kecintaan Allah Ta’ala.

Bagi mereka yang gagal mendulang kemuliaan dari jamuan tersebut, sungguh tak ada kalimat yang bisa menggambarkan betapa meruginya mereka. Karena memang, tidak semua dari kedua golongan tersebut sukses meraih kemuliaan Ramadhan.

“Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu, kecuali rasa lapar dan haus.” (Hadits Shahih : Imam  Ahmad)

Jika demikian,  apakah kita termasuk orang-orang yang sukses mendulang rahmat dan maghfirah Allah Ta’ala di bulan Ramadhan?

Setidaknya ada beberapa indikasi pasca Ramadhan yang bisa dijadikan parameter dalam masalah ini.

 

  1. Menjadi Orang   Ikhlas

Puasa Ramadhan menggembleng kita dalam mengikhlaskan niat, di mana puasa Ramadhan hanya dilakukan untuk Allah Ta’ala semata, sebagaimana disebutkan dalam hadits :

Allah berfirman : ‘Kecuali puasa. Puasa ini untuk diri-Ku dan Aku akan membalasnya (dengan pahala tanpa batas). Dia meninggalkan syahwat dan makanannya demi diri-Ku…..”  (Hadits Shahih : Imam Muslim)

Inilah esensi ajaran tauhid. Jika ibadah Anda setelah Ramadhan tidak lagi bergantung pada tendensi selain-Nya, maka ini boleh jadi —Insya Allah— pertanda yang baik diterimanya amal Ramadhan Anda.

 

  1. Semakin Ringan  dan  Nikmat  Melakukan  Amal  Ketaatan

Puasa Ramadhan juga menempa seseorang untuk meningkatkan kadar keikhlasan ibadahnya. Karena di dalam puasa, hamba tidak dituntut sekadar menahan makan, minum, dan syahwat semata, tapi juga menahan lisan dan hatinya dari ketidaksabaran atau dari amal yang tidak bermanfaat.

“…Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah melakukan rafats (seperti berbicara porno atau keji) dan tidak juga membuat kegaduhan. Jika ada orang yang hendak mencaci atau menyerangnya, hendaklah ia (bersabar dan) berkata : ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa…” (Hadits Shahih : Imam Bukhari)

Dan ini sudah barang tentu membutuhkan tingkat keikhlasan yang lebih. Karena dengan keikhlasan seadanya, sangat sulit untuk mampu menghindar dari larangan-larangan semisal dalam hadits di atas.

Anda yang kemarin selalu tidur berselimut futur (malas/jenuh dalam beramal), tiba-tiba menjadi orang yang bangkit beramal shalih setelah Ramadhan, maka tersenyumlah dan ucapkan tahmid (Alhamdulillah), karena Anda telah meraih fadhilah Ramadhan.

 

  1. Semakin Menjauhi  Maksiat

Ini karena puasa adalah tameng yang membentengi hamba dari perbuatan maksiat. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW : “Wahai sekalian anak muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih tangguh memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa bisa menjadi perisai baginya (dari kemaksiatan).” (Hadits Shahih : Imam  Bukhari dan Imam  Muslim dan Ibnu Mas’ud)

Maka, jika keadaan Anda lebih jauh dari maksiat dibandingkan dengan kondisi Anda sebelum Ramadhan, maka ber-husnuzzon-lah kepada Allah, bahwa Anda telah meraih fadhilah Ramadhan.

 

 

  1. Mencintai Al  Quran

Orang-orang yang sukses di bulan Ramadhan akan bertambah rajin membaca Al Quran di luar Ramadhan jika dibandingkan dengan waktu sebelum Ramadhan. Karena bulan ini adalah “Bulannya Al Quran”, tiada hari tanpa membaca al-Qur-an. Sehingga, kebiasaan mulia ber-wirid dengan tilawah Al Quran akan tetap berlanjut setelah Ramadhan.

 

  1. Jadi Dermawan

Hikmah puasa memberikan kita kesempatan untuk merasakan penderitaan kaum dhuafa’ dan fakir miskin. Dari sini diharapkan tumbuh kesadaran sosial yang tinggi dengan menyantuni, menyayangi, dan meringankan beban mereka. Kewajiban zakat fitrah di akhir Ramadhan juga mengajarkan hal ini. Selepas Ramadhan, orang-orang sukses akan lebih dermawan.

 

  1. Loyalitas (Wala’) Sesama  Muslim  Kian  Kokoh

Ramadhan mengajarkan kita untuk berbagi antarsesama. Renungkanlah bagaimana Allah Ta’ala menjanjikan pahala yang besar kepada mereka yang menyediakan ifthar (buka puasa) bagi saudaranya : “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka baginya pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (Hadits Imam Ahmad dan at-Tirmidzi)

Ramadhan benar-benar menjadi momentum bagi kita untuk merekonstruksi makna al-Wala’ yang sempat runtuh dan terkubur. Dengan demikian, rasa cinta dan persaudaraan Islam pun akan bersemi. Orang-orang yang sukses menjalani Ramadhan, senantiasa menjaga bangunan al-Wala’ tetap kokoh menjulang, baik di luar Ramadhan sekalipun.

 

  1. Do’a Terkabul

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, punya satu kesempatan do’a yang tidak akan ditolak pada saat ia berbuka.” (Hadits Shahih : Ibnu Majah).

Jika do’a yang Anda panjatkan saat Ramadhan menjadi kenyataan, maka ucapkanlah kalimat syukur. Kemudian Anda boleh berharap dengan yakin bahwa Anda telah meraih fadhilah Ramadhan.

 

  1. Semakin Mendalami  Ilmu  Agama

Boleh dibilang ini adalah indikasi terbesar bagi seorang hamba yang telah meraih sukses di bulan Ramadhan. . Dan Allah jika menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya yang terpilih  akan mempersiapkan hamba-Nya tersebut untuk memahami ilmu agama.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, Maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (Hadits Shahih Bukhari dan  Muslim)

Mafhum mukholafah dari hadits ini adalah : bahwa orang yang tidak diberikan pemahaman dalam agamanya (berarti) tidak dikehendaki kebaikan oleh Allah ‘Azza wa jalla.  Dan yang demikian ini mustahil bagi mereka yang benar-benar sukses di bulan Ramadhan di mata Allah. Orang-orang yang sukses menjalani Ramadhan pasti akan mendapat limpahan kebaikan dari Allah, dan indikasinya akan terlihat jelas setelah Ramadhan dari usahanya yang lebih serius dalam menuntut dan memahami ilmu agama.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan : “Di dalam hadits ini terdapat keutamaan ilmu, mendalami agama, dan dorongan kepadanya. Sebabnya adalah karena ilmu akan menuntunnya kepada ketakwaan kepada Allah Ta’ala.” Jika kita renungkan ucapan Imam Nawawi, maka akan nampak jelas korelasi antara mendalami ilmu agama dengan tujuan utama puasa Ramadhan , yaitu jadi orang Mutaqien.

Logikanya, jika Anda sukses menjalani Ramadhan, maka Anda pasti akan menjadi orang yang bertakwa, sementara ilmu adalah kendaraan yang akan mengantarkan Anda kepada takwa. Sehingga bisa disimpulkan, orang-orang yang sukses menjalani Ramadhan akan dipersiapkan Allah untuk mendalami ilmu agama, demi meraih apa yang telah Ia janjikan sebagai buah dari berpuasa, yaitu takwa. Setelah meraih mahkota takwa, maka bersiap-siaplah seorang hamba mendulang kemuliaan demi kemuliaan, kebaikan demi kebaikan yang melimpah dan beragam jenisnya. (wasu / DK – dari berbagai Sumber)

Artikel Terkait

Jembatan Bailey

dinamika

KM 0 Tonggak Sejarah Kota Bandung

adm1n@Web

Haruskah Bangun Pagi ….. Dan Berolah Raga?

dinamika