Image default
Banner

Sungai Citarum (1) : “Tempat Sampah Raksasa” yang Mendunia

Penanda  alam  di  barat  Jawa
Sungai  terpanjang  predikatnya
Juga  sungai  terkotor  di  dunia
Akankah  Citarum  bersalin  rupa?

SUNGAI Citarum adalah sungai terpanjang di wilayah Provinsi Jawa Barat. Berstatus sebagai sungai terpanjang, Citarum menjadi landmark alam tersendiri bagi Jabar. Sungai yang membentang sepanjang 300 kilo meter dari hilir mata air di lereng Gunung Wayang, Kabupaten Bandung ini mengalir hingga ujung Kabupaten Karawang sebelum bermuara ke Laut Jawa.

Itu baru panjang  kira-kira yang dihitung menurut garis lurus. Padahal jika dilihat dari satelit, Sungai Citarum tampak meliuk-liuk bagaikan ular. Alhasil, bila bisa direntangkan lurus, Sungai Citarum pasti akan lebih panjang lagi.

Sayangnya, sungai legendaris ini sempat dicap sebagai sungai terkotor sedunia. Padahal, Sungai Citarum memiliki nilai sejarah serta sudah melekat dengan kehidupan ekonomi dan sosial warga di sekitarnya.

Berdasarkan data Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) Citarum Ciliwung, luas seluruh DAS Citarum mencapai 721.945,66 hektar. DAS ini penting, karena menjadi sumber 80% kebutuhan air minum penduduk DKI Jakarta. Sungai Citarum pun menjadi penyedia air irigasi bagi 420 ribu hektar area persawahan di wilayah Cianjur dan Karawang. Sungai Citarum juga menjadi penyangga energi listrik sebanyak 1.888 Mega Watt untuk Jawa dan Bali, dengan tiga waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dibangun di alirannya, yaitu Saguling, Cirata, dan Jatiluhur.

Sumber mata air Citarum berasal dari tujuh mata air di lereng Gunung Wayang yang membentuk danau buatan bernama Situ Cisanti, di Desa Cibeureum, Kertasari, Kabupaten Bandung. Namun, beberapa anak sungai dari wilayah di sekitarnya menyatukan alirannya ke Sungai Citarum, seperti Cikapundung, Cibeet, Cisangkuy, dan lain-lain.

Alirannya mengarah ke arah barat, melewati Majalaya dan Dayeuhkolot, berbelok ke arah barat laut dan utara, menjadi perbatasan Kabupaten Cianjur dengan Kabupaten Bandung Barat. Kemudian melewati Kabupaten Purwakarta dan terakhir Kabupaten Karawang (batas dengan Kabupaten Bekasi). Sungai Citarum lalu bermuara di ujung Karawang, tepatnya di Laut Jawa.

Perubahan Citarum mulai terlihat pada paruh kedua dasawarsa 1980-an, sejak industrialisasi gencar dilakukan di sekitar DAS Citarum. Data dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menyebutkan, sekitar  2.800 pabrik berdiri di DAS Citarum dan sebagian besar membuang limbah produksinya ke Sungai Citarum atau anak-anak sungai yang mengalir ke Sungai Citarum. Sekitar 280 ribu ton cemaran limbah cair per hari masuk ke aliran Sungai Citarum, ditambah ribuan ton sampah domestik rumah tangga yang dibuang ke Sungai Citarum.

Kerusakan Sungai Citarum pun tak hanya terjadi di area tengah. Wilayah hulu sungai yang rimbun mulai berganti menjadi perkebunan dan ladang palawija, sehingga hutan dan kawasan resapan air di hulu hilang secara massif. Akibatnya, laju aliran permukaan (run off) terjadi, dan menghasilkan sedimentasi tinggi. Penggundulan hutan yang berlangsung pesat di wilayah hulu serta area tengah sungai yang dicemari limbah industri dan sampah warga membuat kondisi Sungai Citarum kian memprihatinkan hingga area hilir.

Tahun 1986, banjir besar melanda wilayah sepanjang Bandung Selatan, karena Sungai Citarum meluap. Pemerintah membuat proyek normalisasi Sungai Citarum dengan mengeruk, melebarkan, bahkan meluruskan alur sungai yang berkelok.

Sayangnya, proyek ini tidak membuahkan hasil, karena tak ada perubahan perilaku warga sekitar. Citarum masih menjadi lokasi pembuangan sampah domestik, plastik hingga limbah industri, sehingga sungai pun bertambah buruk, sempit dan dangkal, penuh sampah hingga airnya pun berwarna hitam pekat. Tahun-tahun selanjutnya, program normalisasi Sungai Citarum hanya menjadi ritual musiman yang tidak membawa perubahan berarti.

 

Program Citarum Harum

AKHIR tahun 2017, Panglima Daerah Militer (Pangdam) III Siliwangi saat itu, Mayjen Doni Monardo, menginisiasi Program Citarum Harum, yang tujuannya ingin mengembalikan fungsi sungai dan menyelesaikan masalah Citarum dari area hulu hingga hilir. Ia yang belum lama dilantik menjadi Pangdam III Siliwangi merasa heran, mengapa Sungai Citarum dari tahun ke tahun tidak ada perubahan, bahkan semakin memprihatinkan kondisinya.

Doni menginstruksikan operasi “perang” melawan pencemaran Sungai Citarum dan bertekad menjadikan sungai ini kembali harum. Ia pun mengintruksikan untuk menangkap pengelola pabrik yang masih membuang limbah ke Sungai Citarum. Data dari Satuan Tugas (Satgas) Citarum mencatat, lebih dari 31 pabrik diduga membuang limbang tanpa melewati Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL).

Adapun Satgas Citarum Harum dari kalangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) terdiri atas total 7.100 personel gabungan. Satgas ini dipimpin langsung  Komandan Satgas dan dibagi dalam 22 Sektor. Namun, setelah Program Citarum Harum dicanangkan, Presiden Joko Widodo menunjuk langsung penanggung jawab kegiatan ini, yakni Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan. Meski begitu, program ini tetap melibatkan TNI dan elemen-elemen masyarakat lainnya.

Pada 22 Februari 2018, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 15 tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Ekosistem Daerah Aliran Sungai Citarum, dengan pencanangan Program Citarum Harum di Situ Cisanti. Program ini merupakan program strategis dari pemerintah pusat yang melibatkan seluruh elemen pemerintahan seperti kementerian, pemerintah daerah serta TNI untuk berpartisipasi dalam merevitalisasi kerusakan DAS Citarum.

Program Citarum Harum rencananya akan dijalankan selama tujuh tahun, hingga air di Sungai Citarum mampu memenuhi standar baku mutu dari Kementerian Lingkungan Hidup dan layak untuk dikonsumsi. Untuk itu, aliran Citarum dibagi menjadi 22 sektor. Setiap sektor koordinasinya dipimpin seorang perwira berpangkat kolonel. Komunikasi dibangun dengan berbagai pihak, termasuk lembaga/kementerian, akademisi, mahasiswa, komunitas, ulama, budayawan, media, dan aktivis.

Jauh sebelum ada program “Citarum Harum”, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah berulang kali menjalankan program rehabilitasi untuk sungai terpanjang di Jawa Barat itu.  Pada periode 2000-2003, pernah ada program “Citarum  Bergetar”. Kata “bergetar” singkatan dari bersih, geulis (cantik dalam bahasa Sunda), dan lestari. Program Citarum Bergetar berfokus pada pengendalian pemulihan konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Namun program ini belum optimal mengatasi pencemaran di sungai yang menghidupi setidaknya 27,5 juta jiwa warga Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Masalah Sungai Citarum kian kompleks. Mulai dari deforestasi hutan di area hulu, puluhan ribu sampah yang tak terangkut tiap hari, kotoran manusia dan ternak, ratusan ribu ton limbah industri per hari, hingga persoalan tata ruang di hulu dan sepanjang bantaran sungai.

Pemprov Jabar kembali mencanangkan program pemulihan pada tahun 2013 dengan nama “Citarum  Bestari”, akronim dari bersih, sehat, indah, lestari. Lewat Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 75 Tahun 2015, gerakan Citarum Bestari resmi diluncurkan. Anggaran sekitar Rp 80 miliar pun disiapkan demi memuluskan jalan menggapai target Citarum Bestari. Targetnya, tahun 2018 air Sungai Citarum bisa diminum langsung.

Dan terakhir, Sungai Citarum yang kembali populer dengan predikat sungai terkotor lagi-lagi membuat pemerintah bereaksi dengan menerbitkan program baru “Citarum Harum”.  Sumber pendanaan kegiatan program “Citarum Harum”, menurut Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat (DBMPR Jabar), A. Koswara MP, berasal dari pemerintah pusat melalui APBN sebesar 87,5%, APBD Pemerintah Provinsi Jawa Barat 12,19%, dan APBD  Kabupaten/Kota 0,37 %. Total perkiraaan dana yang dibutuhkan sekitar Rp 5 triliun. (wawan / DK) 

Artikel Terkait

Cerita Braga Baheula

dinamika

dinamika

Cadas Pangeran

dinamika