Image default
Banner

Sungai Citarum (3) : Nila di Tarumanegara dan Legenda Gunung di Bandung Utara

Dari  tumbuhan  tarum  bermula
Yang  ditanam  kawula  kerajaan  Tarumanegara
Citarum  juga  sungai  terhubung  legenda
Ihwal  Gunung  Tangkuban  Perahu  di  Bandung  utara

SUNGAI Citarum sudah lebih dulu dikenal sebelum orang mengenal Sungai Cisadane, Ciliwung, dan Cimanuk. Sejarah menyebutkan, pada abad ke-5 Masehi, di dekat muara Citarum sudah berdiri kerajaan Tarumanegara yang dikenal sampai negeri Tiongkok. Nama Tarumanegara mengandung arti suatu kerajaan yang keratonnya atau pusat pemerintahannya dibangun tidak jauh dari muara Sungai Tarum atau Citarum.

Karena kerajaan Tarumanegara dikenal di mancanegara sampai India, Thailand, dan Tiongkok, maka dengan sendirinya nama Citarum ikut pula go internasional. Bukan hanya kesohor di wilayah Asia Tenggara, tapi meluas sampai Asia Selatan dan Asia Timur.

Kemungkinan besar, orang-orang Tarumanegara-lah yang pertama kali memberi nama Citarum kepada sungai yang mengagumkan itu. Ketika leluhur mereka mendarat di muara Sungai Citarum, mereka kemudian membangun permukiman di situ. Mereka menemukan di sepanjang sungai tumbuh tanaman nila atau tarum yang saat itu memiliki nilai ekonomi tinggi.

Karena itu, mereka lantas membudidayakan tanaman tarum, dan memberi nama sungai penghasil nilai itu sebagai Sungai Citarum. Ketika mereka mendirikan kerajaan, nama Sungai Citarum dijadikan identitas nama kerajaan, yaitu kerajaan Tarumanegara.

Kawula kerajaan Tarumangara giat membudidayakan tanaman tarum di sepanjang Sungai Citarum, yang terus dikembangkan hingga ke arah hulu. Dan, tarum menjadi salah satu mata dagangan andalan expor kerajaan Tarumanegara. Nila atau tarum adalah bahan pewarna biru yang dibutuhkan para bangsawan sejumlah kerajaan, antara lain bangsawan dari kekaisaran Tiongkok.

Baca Juga Artikel Sebelumnya:
Sungai Citarum (1) : “Tempat Sampah Raksasa” yang Mendunia
Sungai Citarum (2) : Strategi Si Pengendali Aksi

Mereka menggunakan tarum  untuk mewarnai jubah kebesarannya yang terbuat dari sutra. Jubah-jubah kebesaran para bangsawan Tiongkok yang berhiaskan burung merak diberi tiga warna favorit, yakni biru, kuning, dan merah.

Warna biru melambangkan langit, warna merah menyimbolkan besi, dan warna kuning menyiratkan tanah. Warna biru lambang langit merupakan warna paling sakral dan istimewa. Oleh karena itu, warna biru hanya dipakai pada acara ritual hari-hari keagamaan para kaisar Tiongkok.

Pada hari-hari biasa, termasuk waktu menerima tamu, para kaisar Tiongkok mengenakan jubah warna kuning yang melambangkan kebijakan. Pada saat perang, mereka mengenakan jubah warna merah yang melambangkan kekuatan, kejayaan, kemakmuran, dan keperkasaan.

Dari mana para kaisar Tiongkok memperoleh warna biru? Warna biru itu diolah dari tanaman tarum atau nila yang sebagian besar didatangkan dari kerajaan Tarumanegara. Itulah sebabnya nama Tarumanegara tercatat dalam catatan sejarah kaisar Tiongkok pada masa Dinasti Tang (317 – 755 M).

Kerajaan Tarumanegara sendiri berkembang makmur. Wilayahnya meluas menjangkau seluruh Jawa bagian barat, bahkan sampai Lampung. Sayang, kerajaan yang menjadi besar berkat berkah Sungai Citarum itu pelan-pelan surut akibat munculnya kerajaan yang lebih kuat, yakni Kerajaan Galuh Kawali. Lokasi kerajaan ini tidak jauh dari hulu Sungai Citandui dan Sungai Cimanuk, sungai terpanjang kedua di Jawa Barat.

Raja-raja Galuh yang menguasai Jawa Barat tetap melestarikan Sungai Citarum. Tanaman tarum pun tetap dipertahankan sebagai salah satu andalan produk pertanian kerajaan Galuh.

Kerajaan besar lalu datang silih berganti menjadi penguasa Jawa Barat. Setelah kerajaan Galuh, Sungai Citarum berada di bawah kekuasaan kerajaan Pajajaran, kesultanan Banten, kesultanan Cirebon, kesultanan Mataram, VOC, sampai akhirnya penguasa terakhir Pemerintah Hindia Belanda dan Negara Kesatuan Republik Indonesia pascamerdeka pada tahun 1945.

Sampai abad 19, tarum masih merupakan andalan ekspor Pemerintah Hindia Belanda, di samping teh, kopi, dan gula. Pamor tarum mulai merosot sejak ditemukannya bahan pewarna kimia pada tahun 1896. Menurut penelitian orang-orang Belanda, kualitas bahan pewarna tarum dari Sungai Citarum (indigofera tinctoria) sejatinya mengungguli bahan pewarna sejenis dari Italia, dan hanya kalah dari tanaman nila India.

 

Legenda Sungai Citarum

JIKA sejarah Sungai Citarum baru muncul pada abad ke-5 Masehi, tidak demikian dengan kisah legendanya yang berusia jauh lebih tua. Rakyat Sunda mengenal Sungai Citarum dari legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi, yang dikaitkan dengan terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu di belahan Bandung utara.

Saat itu, dataran tinggi Bandung masih merupakan sebuah lembah yang indah, dan sudah ada danau kecil atau situ yang jernih airnya. Di sisi utara lembah, ada gunung berapi yang dipuja penduduk penghuni lembah Bandung yang dipimpin raja sakti bernama Sungging Prabangkara.

Membelah tengah-tengah lembah dari arah tenggara menuju barat laut mengalir Sungai Citarum yang jernih airnya. Setelah melewati sisi barat danau kecil dan sisi barat gunung berapi, Sungai Citarum terus mengalir menuju Laut Jawa. Dari sini, muncul legenda Sangkuriang yang terkenal itu.

Baca Juga Artikel Sebelumnya:
Sungai Citarum (1) : “Tempat Sampah Raksasa” yang Mendunia
Sungai Citarum (2) : Strategi Si Pengendali Aksi

Alksah, ketika sedang berburu di tepi Sungai Citarum, Raja Sungging Prabangkara jatuh cinta pada gadis cantik yang tinggal di tepi sungai. Akibatnya, gadis tadi hamil, dan lahirlah anaknya yang juga cantik jelita. Namanya, Dayang Sumbi. Dayang Sumbi besar dalam asuhan ibunya. Setelah menginjak remaja, Dayang Sumbi diantarkan ibunya menemuai ayahnya di istana.

Sang Raja sangat terkejut melihat kecantikan Dayang Sumbi yang wajahnya sangat mirip dirinya. Dayang Sumbi langsung diakui sebagai putrinya, karena kebetulan Sungging Prabangkara tidak mempunyai anak perempuan. Akhirnya, Dayang Sumbi tinggal di istana raja, sedang ibunya memilih kembali ke kampungnya di tepi Sungai Citarum.

Selama tinggal di istana, Dayang Sumbi belajar menenun. Tenunannya sangat halus, tidak ada yang dapat mengalahkannya. Sehingga, karyanya diperebutkan para ksatria. Sementara itu, Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis cantik. Para punggawa ayahnya berebut meliriknya. Lamaran melalui ayahnya pun datang bertubi-tubi.

Tapi Dayang Sumbi yang gemar tirakat dengan berpuasa sampai 40 hari itu selalu menolak setiap lamaran yang datang kepada ayahnya. Kepada ayahnya, Dayang Sumbi mengaku belum tertarik memiliki suami, lantaran dia masih terus tirakat agar para dewa mengabulkan keinginannya. Apa keinginan Dayang Sumbi? Dia ingin menjadi wanita yang tetap cantik dan awet muda sampai usia tua, sekalipun kelak harus melahirkan dan punya anak.

“Jika itu tekadmu, ayah hanya mendoakan semoga dewa mengabulkan keinginanmu,” kata Sang Raja mengabulkan keinginan Dayang Sumbi untuk tinggal di tepi Sungai Citarum, dekat Situ Bandung, tidak jauh dari hutan tempat tinggal ibunya. Sang Raja pun membuatkan rumah panggung atau ranggon untuk tempat tinggal Dayang Sumbi sambil mengisi kesibukan sehari-harinya dengan menenun. Dengan tinggal di luar istana, Dayang Sumbi dapat menghindari lamaran lelaki punggawa ayahnya yang terpikat pada kecantikannya dan ingin memperistrinya.

Sang Raja rutin mengirimkan punggawanya untuk memasok perbekalan makanan dan benang tenun serta mengambil kain tenun yang telah jadi untuk dibawa kembali ke istana. Tidak dikisahkan apakah kain tenunan Dayang Sumbi di istana raja lalu dibatik dengan warna biru dari tanaman tarum yang banyak tumbuh di tepi Sungai Citarum.

Raja Sungging Prabangkara beserta kawulanya adalah pemeluk agama Hindu Brahma. Mereka memuja Dewa Brahma dengan rutin memberikan sesaji kurban di puncak gunung berapi di utara lembah Bandung. Dewa Brahma acap pula turun ke lembang Bandung dari istananya di Suralaya. Dikisahkan, Sang Dewa kerap singgah sebentar di Sungai Citarum sebelum meneruskan perjalan ke puncak gunung untuk menerima sesaji dari Raja Sungging Prabangkara.

Ternyata, bukan hanya Dewa Brahma yang sering mendatangi Sungai Citarum di Lembah Bandung yang indah dan menawan. Dewi Umma, istri Batara Guru, pun suka turun ke Lembah Bandung dengan bidadari pengiringnya hanya untuk mandi di Sungai Citarum yang jernih airnya. Bagi para bidadari, Sungai Citarum merupakan sungai suci. Para bidadari inilah yang menanam tanaman tarum di sepanjang Sungai Citarum.

Mereka rutin mendatangi Sungai Citarum untuk mandi serta memanen tanaman tarum dan membawanya ke Suralaya. Di kahyangan, para bidadari mengubahnya menjadi bahan pewarna biru untuk membatik kain dan baju para bidadari dengan aneka motif dan corak yang didominasi warna biru.

Suatu ketika, musibah menimpa Dewa Brahma. Kala mendatangi Lembah Bandung, tiba-tiba tanpa sengaja Dewa Brahma melihat Dewi Umma dengan pengiringnya sedang mandi di Sungai Citarum. Tentu saja, mereka mandi  tanpa mengenakan selembar benang pun.

Melihat pemandangan langka,  Dewa Brahma terpesona. Takut diketahui Sang Mahadewi Umma, Dewa Brama bersembunyi di balik batu besar. Tetapi, Dewi Umma mengetahuinya. Dia murka. Dan, langsung mengutuk Dewa Brahma.

“Heh, Brahma! Jadilah kamu seekor anjing, karena kelakuanmu mirip anjing!” kutuk Sang Dewi Umma. Seketika, Dewa Brahma berubah rupa. Menjadi seekor anjing. Buru-buru ke luar dari balik batu, Sang Dewa menangis menghiba memohon ampunan Dewi Umma.

“Sudahlah, Brahma terima saja takdirmu dengan sabar. Engkau kuberi nama si Tumang. Tugasmu menjadi penunggu danau kecil atau situ tak jauh dari batu tempat kamu bersembunyi. Kelak aku izinkan kamu memperistri seorang gadis cantik jelita putri Raja Sungging Prabangkara yang memuja kamu. Dari dia, kamu akan punya anak laki-laki yang akan melepaskanmu dari kutukan. Saat itulah kutukanku padamu akan terlepas. Kamu akan kembali menjadi seorang dewa. Saat itulah kita akan bertemu kembali di kahyangan Suralaya,” kata Dewi Umma.

Setelah menyampaikan pesannya, Mahadewi Umma dan pengiringnya kembali ke kahyangan Suralaya. Meninggalkan Dewa Brahma yang telah dikutuk menjadi si Tumang, anjing penjaga Situ Bandung, di pinggiran Lembah Bandung yang luas dan indah. Kelak, si Tumang bersua Dayang Sumbi dan memiliki keturunan bernama Sangkuriang. Di tangan anaknya, Sangkuriang, si Tumang tewas.

Kisah berikutnya tentang bagaimana Sangkuriang berkelana setelah membunuh si Tumang, kembali bertemu ibunya, Dayang Sumbi, yang tetap cantik jelita kendati telah berusia tua, hingga luapan amarahnya lantaran diperdaya sang ibu yang tak mau dinikahinya itu di kemudian hari dikenal sebagai legenda terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu. (wawan / DK – sumber Anwa Hardja)

Baca Juga Artikel Sebelumnya:
Sungai Citarum (1) : “Tempat Sampah Raksasa” yang Mendunia
Sungai Citarum (2) : Strategi Si Pengendali Aksi

 

Artikel Terkait

JEMBATAN CIRAHONG : Jembatan 2 In 1 Penghubung Dua Kawasan

dinamika

Cerita Braga Baheula

dinamika

Cadas Pangeran (3)

dinamika