Image default
Profil

Total Bekerja Ikhlas Bertugas

Seperti umumnya anak-anak ketika ditanya cita-cita waktu kecil, Adnan Guntara pun menggantungkan asa menjadi insinyur atau dokter kala bocah. Harapannya kesampaian. Adnan menjadi insinyur sipil pada tahun 1994dari ITENAS.

Setamat kuliah, “Dua tahun saya bekerja di perusahaan kontraktor yang bergerak di bidang gedung, mekanikal dan elektrikal. Saya jalani sampai tahun 1996. Namun mengingat dorongan orang tua, saya memilih untuk melamar menjadi pegawai negeri sipil (PNS),”ujar Adnan Guntara.

Setelah 11 bulan menjadi tenaga harian di Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, tahun 1997 dia diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN). Adnan ditugaskan di Cabang Dinas Bina Marga Serang. Posisinya pengawas lapangan di proyek peningkatan dan pemeliharaan jalan.

“Ketika Banten memisahkan diri dari Provinsi Jawa Barat dan menjadi Provinsi Banten pada tahun 1999, saya lebih memilih kembali ke kantor Dinas Bina Marga di Jalan Asia Afrika Bandung,” ungkap Adnan.

Kembali berkantor di Jalan Asia Afrika, Adnan ditempatkan sebagai staf. Baru pada tahun 2008-2013, dia kembali bertugas ke lapangan. Kali ini ditempatkan di satuan kerja (satker) pembangunan Jawa Barat. Jabatannya Asisten Pengawasan.

“Pada tahun 2013, saya masuk ke jajaran struktural. Posisi terakhir sebagai Kepala Seksi Rekayasa Teknik Bidang Teknik Jalan sebelum diberi amanah menempati jabatan Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Wilayah Pelayanan (UPTD Wipel) IVGarut -Sumedang,” ulas Adnan yang pituin orang Sunda.

Bertugas di lapangan, apalagi memimpin suatu wilayah, diakui Adnan, sangat jauh berbeda, terutama dari sisi tanggung jawab yang jauh lebih besar. “Tugas saya sekarang lebih aplikatif dibandingkan semua pengalaman karier sebagai ASN. Tetapi semua pengalaman selama menjadi ASN sangat membantu saya melaksanakan tugas di tempat baru sekarang ini,” ungkap Adnan.

Tantangan terbesar menjadi pimpinan suatu wilayah lebih menuntut Adnan harus bisa menyinergiskan gerak semua pihak, baik pihak internal yang terlibat langsung maupun pihak eksternal yang keterlibatannya tidak langsung.

“Pihak eksternal perlu dilibatkan, minimal mereka tahu tentang apa yang kami kerjakan, mereka mengetahui berbagai informasi yang kami berikan, dan akhirnya diharapkan mereka nantinya bisa ikut peduli,” ujar Adnan.
Tantangan kondisi geografis juga bukan perkara gampang yang harus ditaklukkan Adnan dalam melaksanakan pekerjaannya. Untuk itu, dia memerlukan skala prioritas dalam penanganan dan pengawasannya.

Contohnya, kawasan Jawa Barat bagian selatan yang rawan longsor dan masih ada jalan dengan permukaan jalan lapen. Jalan jenis ini sangat mudah menurun kondisinya bila memasuki musim penghujan. “Untuk wilayah tengah pun bukan tanpa masalah, karena masih banyak jalan provinsi yang lebarnya belum standar,” jelas Adnan.

Dengan waktu pengerjaan sangat terbatas, Adnan masih yakin, paket pekerjaan yang sulit maupun mudah pasti akan diselesaikan tepat waktu dan sesuai dengan kontrak. “Dengan kerja sama serta sikap positif dari para penyedia jasa,saya yakin, semua pekerjaan akan diselesaikan dengan waktu dan kualitas sesuai kontrak yang telah ditandatangani,” kata Adnan, yakin.

Selain terhadap penyedia jasa, Adnan pun mengajak semua rekan-rekannya di UPTD Wipel IV untuk bekerja dengan baik sesuai peran dan tugasnya masing-masing. Lantaran, sebagai pimpinan, dia tidak mungkin bekerja sendiri. Oleh karena itu, setiap individu harus diberi peran sesuai tingkatannya dalam organisasi. Adnan memang mencoba untuk tidak meninggalkan siapa pun untuk berperan agar mereka merasa memiliki organisasi ini, sehingga timbul tanggung jawab untuk menjaga nama baik institusi.

“Sebagai pimpinan, saya harus menempatkan diri dan berperan sebagai motivator agar segala yang dikerjakan diawali dengan niat baik untuk menyelesaikan setiap tugas sebaik dan semaksimal mungkin,” tegas Adnan.
Untuk setiap tugas yang diamanatkan kepadanya, Adnan terbiasa untuk selalu menekuni dan menjalankan dengan baik sesuai aturan dan tanggung jawabnya, tanpa target mengejar sesuatu jabatan ataupun posisi.

“Sebagai abdi negara, prinsip saya seperti air mengalir saja. Karena pengalaman hidup mengajarkan saya, totalitas bekerja dan keikhlasan membuat kita nyaman. Dan, Insya Allah, kenyamanan bekerja akan membuahkan hasil yang baik. Selanjutnya, penilaian ada pada pihak di luar diri kita,” urai Adnan.

Khusus untuk tugas yang kini dipikulnya di mana Adnan baru kali pertama menduduki jabatan struktural memimpin suatu wilayah, dia menargetkan, periode transisi bisa berjalan mulus dan dapat secepatnya mengevaluasi kondisi wilayah dan tugasnya. Ini supaya Adnan bisa membuat langkah dan strategi baik lebih baik pada masa mendatang. (wawan / DK)

Artikel Terkait

Aseng Supriatna ST. M.Si : Amankan Wilayah Penuh Tantangan

dinamika

Berikan Pelayanan Terbaik pada Masyarakat dan Pensiun dalam Kondisi Sehat

dinamika

Menekuni Seni dan Pariwisata, Belajar Tegar Membaur di Infrastruktur

dinamika