Image default
Profil

Tugas Lama Rasa Baru

Jika kini banyak orang berusaha menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), lain halnya dengan Bisma Aji Nugraha, S.T., M.Si. Pasalnya, pegawai Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat (DBMPR Jabar) ini tidak pernah terpikir untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Meski begitu, saat kesempatan menjadi PNS itu muncul, ia tak menyia-nyiakannya. Inilah yang dialami Kepala Seksi Pengendalian Pemanfaatan Ruang DBMPR Jabar itu.

Bisma awalnya memiliki keinginannya untuk bekerja di perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Maka, usai lulus S1 dia mulai bergerilya memasukkan lamaran kerja ke beberapa BUMN. Sambil menunggu panggilan tes dari BUMN, Bisma mencoba peluang lain dengan mengikuti tes CPNS pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tanpa diduga, Bisma diterima menjadi CPNS bersamaan dengan panggilan tes di salah satu BUMN yang bergerak pada sektor konstruksi.

“Saya memilih peluang yang sudah pasti, karena saya tahu untuk mengikuti tes perusahaan BUMN tahapannya masih sangat panjang. Itu juga belum tentu diterima,” ujar Bisma yang diangkat menjadi PNS satu dekade lalu.

Begitu diangkat menjadi CPNS, lulusan S1 Teknik Geodesi-Geomatika Universitas Gajah Mada (UGM), Yogjakarta ini, langsung ditempatkan pada Dinas Permukiman dan Perumahan (Perkim) Provinsi Jawa Barat sebagai Staf di Seksi Pengendalian dan Pengawasan Bidang Tata Ruang Kawasan.

“Menjadi PNS memang bukan cita-cita saya, namun begitu ada peluang lamaran CPNS Jurusan Geodesi di Pemerintah Provinsi Jawa Barat, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, sehingga saya mendaftar, belajar dengan giat untuk menghadapi tes CPNS. Dan, atas seijin Allah saya ditakdirkan berkarir menjadi PNS,” ujar Bisma.

Menurut Bisma, penataan ruang lebih banyak dipelajari pada latar belakang pendidikan teknik atau urban design yang memang merupakan program studi yang mempelajari dasar-dasar perencanaan kota dan pengembangan wilayah.

“Namun demikian tidak menutup bagi latar pendidikan lain untuk bertugas maupun berkarir pada bidang penataan ruang asal mau belajar dan belajar,” kata Bisma.

Pada masa awal penugasannya di Bidang Tata Ruang menjadi sebuah tantangan. “Karena latar belakang pendidikan saya hanya bagian kecil dari Tata Ruang, sehingga saya perlu banyak belajar dan mendapatkan bimbingan,” ujar Bisma.

Bidang Tata Ruang kala itu sedang mendapatkan perhatian, karena masih hangatnya UU Penataan Ruang dan terbitnya Perda Provinsi Jawa Barat tentang Rencana Tata Ruang Wilayah.

“Pada masa itu pengendalian tata ruang sedang mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat, karena selama ini perhatian pada bidang tata ruang hanya fokus pada perencanaan. Pada saat implementasi agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang, kurang mendapatkan perhatian”. Alasan ini pula yang membuat pria asli Bandung ini untuk mengikuti diklat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Penataan Ruang pada tahun 2010.

Tahun 2012 sampai 2014, Bisma mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan tugas belajar pendidikan S2 di Institut Teknologi Bandung di Magister Kebencanaan. “Saya mendaftar jurusan tersebut karena sangat menarik. Integrasi aspek mitigasi bencana ke dalam tata ruang jarang mendapatkan perhatian, padahal Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki risiko tinggi bencana,” ujar Bisma.

Selesai menempuh tugas belajar S2, ternyata Bisma ditempatkan kembali ke unit kerja yang sama di Dinas Permukiman dan Perumahan, sehingga ia semakin tertantang untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat di kampus.

Kesempatan itu muncul ketika Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang melakukan perubahan Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pengendalian Pemanfaatan Ruang KBU. “Saya ditugaskan untuk menginventarisir berbagai potensi bencana yang ada di KBU, sehingga wilayah yang memiliki potensi bencana tinggi dapat diamankan, dan dapat menurunkan risiko bencana pada wilayah tersebut”.

Pada saat penyusunan perubahan Perda ini, Bisma mendapatkan banyak pengalaman yang berharga, selain harus banyak mempelajari berbagai literatur dan peraturan perundangan, berkoordinasi dengan berbagai pihak, proses legislasi Perda pada DPRD Provinsi Jawa Barat merupakan hal yang tidak mudah. Karena Dewan mempertanyakan dasar-dasar Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengatur hal-hal yang termuat dalam pasal Raperda. “Tanpa adanya data yang memadai, mungkin Perda Nomor 2 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengendalian Kawasan Bandung Utara Sebagai Kawasan Strategis Provinsi Jawa Barat tidak akan disetujui oleh Dewan” ujar Bisma.

Pada tahun 2017 terjadi perubahan organisasi dimana Bidang Tata Ruang Kawasan menjadi unit eselon III pada Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang. Ia pun mendapatkan tantangan baru ketika ditugaskan menjadi staf pada Bidang Pertanahan Dinas Perumahan dan Permukiman. Karena urusan pertanahan menjadi urusan baru yang ditangani oleh pemerintah daerah. Sehingga ia selama tiga tahun harus terus belajar untuk menyusun program kegiatan Bidang Pertanahan.

Namun, jalan hidup dan jalan karier memang tak

bisa diduga. Ternyata, Bisma ditakdirkan berjodoh untuk kembali menggawangi Bidang Penataan Ruang. Pada bulan Januari 2020, Bisma mendapatkan “tugas lama rasa baru”.

Dia dilantik sebagai Kepala Seksi Pengendalian Pemanfaatan  Ruang DBMPR Jabar. Mengemban amanah jabatan ini, bukanlah hal yang mudah bagi dirinya. Walaupun ia pernah bertugas selama 7 tahun dalam unit kerja ini, pengendalian pemanfaatan ruang yang saat ini telah berjalan menjadi sangat luas. Selain menangani pengendalian Kawasan Bandung Utara dan Jawa Barat pada umumnya, terdapat tugas baru yaitu melakukan pengendalian pemanfaatan ruang DAS Citarum dimana DBMPR Jabar menjadi bagian dari Satgas Citarum Harum. “Sepertinya belajar dan belajar tidak akan pernah lepas dari saya, dan mungkin akan menjadi motto hidup saya” canda Bisma. “Alhamdulillah dengan arahan para pimpinan, dukungan para Kasie Bidang Penataan Ruang dan tim yang solid, saya dapat optimis mengemban amanah ini,” lanjutnya.

Meski tugasnya sebagai ASN lebih banyak ditempatkan di Bidang Penataan Ruang, tetapi Bisma tidak menginginkan sampai masa purna bakti terus menerus berkutat di bidang ini. Ia berharap mendapat tantangan baru, mulai di Dinas Komunikasi dan Informatika, Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah, atau Badan Pendapatan Daerah.

“Saya ingin merasakan bagaimana mendapatkan tantangan dalam hal-hal baru. Menurut saya, orang perlu keluar dari zona nyaman agar dapat berkembang” pungkas bapak dari dua orang anak ini.

Perihal kariernya sebagai ASN, pria tinggi besar ini tidak terlalu memikirkan jabatan apa yang akan diperolehnya kedepan. Menurutnya, hal terpenting adalah ia dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. “Benih baik yang ditanam, akan menghasilkan buah yang baik” pungkasnya.

“Mengenai penilaian kinerja, saya serahkan kepada rekan kerja serta pimpinan,” ungkapnya.

Diluar kesibukannya sebagai ASN, Bisma masih menyempatkan waktu untuk hobinya, yaitu menonton film-film lawas, utamanya film tahun 1990-an.

“Saya kira, film tahun 1990-an  sampai awal 2000-an merupakan produksi film dengan kualitas terbaik,” ujar Bisma memberikan penilaian.

Selain itu, Bisma pun sejatinya memiliki kegiatan produktif sampingan yang pernah lama ditekuninya sejak mahasiswa, yaitu berjualan online dan budidaya jamur tiram. Sayang, kesibukannya sebagai ASN membuat Bisma belum memiliki waktu luang untuk menekuninya kembali secara intens. “Saya lahir dari keluarga besar pedagang, walaupun bapak saya pensiunan PNS, tetapi sepertinya darah pedagang ada pada saya. Sayang, saya belum bisa melakukannya lagi, karena belum ada waktu luang”. (DK)

Artikel Terkait

Total Bekerja Ikhlas Bertugas

dinamika

Agus Hendrarto : Bekerja Harus memberi Manfaat

dinamika

Menekuni Seni dan Pariwisata, Belajar Tegar Membaur di Infrastruktur

dinamika