Laporan Utama

Upayakan Tanjakan Emen jadi Aman

Melewati tanjakan Emen di km 179 – km 181 jalur Bandung- Subang, kontan ingatan melayang pada sepotong ruas jalan rawan kecelakaan yang telah merenggut banyak nyawa sejak puluhan tahun silam. Inilah tanjakan maut berbalut cerita misteri berbau mistik yang berkembang dari mulut ke mulut saking seringnya terjadi kecelakaan ringan maupun berat di sana.

Menurut cerita warga, ada beberapa versi asal muasal daerah itu diberi nama tanjakan Emen. Salah satunya berawal dari kecelakaan yang menimpa Emen tahun 1964. Pengemudi oplet jurusan Bandung-Subang ini dikenal sebagai sopir pemberani. Dia bahkan dikenal sebagai satu-satunya sopir yang berani mengemudikan kendaraan di jalur Bandung-Subang yang waktu itu masih sangat sepi pada malam hari.

Emen tewas dalam kecelakaan di daerah itu saat mengangkut ikan asin dari Pasar Ciroyom, Bandung, menuju Subang. Mobil yang disopirinya terbalik dan terbakar. Naas, Emen terbakar hidup-hidup dan tewas. Konon, setelah peristiwa itu, warga sekitar meyakini arwah Emen bergentayangan dan mengganggu para pengemudi yang berani melintas di daerah tersebut, terutama pada malam hari. Kejadian aneh seperti rem blong, bus tergelincir, kendaraan tiba-tiba mogok atau terperosok, dan sopir atau penumpang kendaraan bermotor kesurupan kerap terjadi di jalur ini.

Maka, agar tak “diganggu”, para pengemudi biasanya membunyikan klakson sebelum melewati tanjakan Emen serta menyalakan sebatang rokok dan melemparkannya ke pinggir jalan sebagai simbol menghormati arwah Emen yang menjadi penunggu tanjakan itu. Alkisah, dulunya Emen pencandu rokok saat mengemudi.

Di luar urusan mistis, secara logika, tanjakan Emen yang tergolong jalan provinsi, sehingga menjadi kewenangan Dinas Bina Marga dan Penataaan Ruang (DBMPR) Provinsi Jawa Barat (Jabar) dalam pengawasan dan pemeliharaannya memang memiliki kontur berkelak-kelok dengan turunan dan tanjakan yang curam. Alhasil, untuk melewati daerah tersebut diperlukan pengemudi yang hapal jalan dan andal mengemudikan kendaraannya, juga kendaraan yang laik kondisinya.

Maka, demi memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para pengguna jalan di jalur tersebut, DBMPR Jabar sejak tahun 2014 berupaya mengantisipasi kecelakaan dengan mengupas jalan dan membuat jebakan pasir untuk mengatasi kendaraan yang remnya blong. Sayang, hal itu belum bisa terealisasi. Sewaktu terjadi kecelakaan yang merenggut banyak korban meninggal dan luka berat/ringan pada Februari 2018, DBMPR Jabar kembali mengajukan rencana untuk meminimalisir kecelakaan di tanjakan Emen dengan membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang.

“Perbaikan tanjakan Emen layak jadi prioritas. Karena tanjakan Emen menjadi jalur mudik Lebaran 2018 di jalur tengah. Lintasan ini juga favorit para wisatawan saat libur Lebaran,” ujar Kepala DBMPR Jabar. M. Guntoro.

Ada beberapa solusi untuk meminimalisir kecelakaan di tanjakan Emen. Jika dilakukan pengupasan jalan untuk mengurangi kemiringan, maka harus dikupas sampai mendekati Gunung Tangkuban Parahu. Selain lama, cara ini juga membutuhkan biaya besar. Maka, menurut Guntoro, solusi paling efektif untuk meminimalisir kecelakaan di tanjakan Emen dengan membuat Jalan Lingkar Subang dan jalur penyelamatan (escape road).

Bila jalur Lingkar Subang terwujud, maka akan menjadi titik pertemuan antara jalan raya Bandung-Subang dengan jalan dari arah Sumedang. “Hampir sama seperti Lingkar Nagreg, Lingkar Subang akan menghubungkan jalan satu dengan lainnya untuk melewati jalur yang berada dalam kondisi kritis,” sebut Guntoro.

Saat ini, kondisi jalan di tanjakan Emen dari arah Bandung satu lajur dan dari arah Subang dua lajur. Jalur ini berada dalam kondisi baik, rambu-rambu pun sudah terpasang sesuai standar dan ketentuan. Panjang jalur tanjakan Emen dari arah Bandung ke Subang mencapai 5-7 km.

“Alokasi anggaran pembangunan Jalan Lingkar Subang sepanjang 7 km baru direncanakan tahun 2019. Proyek ini pasti berjalan, karena PTPN Perkebunan sebagai pemilik lahan di daerah itu sudah bersedia melepas lahannya untuk Jalan Lingkar Subang,” jelas Guntoro.

Sementara untuk target jangka pendek, yang paling memungkinkan dilakukan tahun 2018 adalah membangun escape road. Pemerintah berencana membuat escape road di tiga titik.

“Pada tahap awal, escape road dibangun di satu titik sepanjang 300 m, yaitu di titik 179 + 600 arah Jakarta. Di titik inilah paling rawan terjadinya kecelakaan lalu lintas selama ini. Total anggaran yang dibutuhkan Rp 3,8 milyar. Dana diambil melalui pergeseran anggaran dalam pos APBD 2018,” sebut Guntoro, seraya mengungkapkan, jalur penyelamatan dibangun antara Mei dan Juni 2018.

Kepala Seksi Rekayasa Teknis DBMPR Jabar, Adnan Guntara, menambahkan, tiga titik escape road yang bakal dibangun sepanjang tanjakan Emen mulai tugu perbatasan (tanjakan Emen). Lokasi kecelakaan terakhir adalah salah satu titik escape road yang direncanakan hendak dibangun.

Selain itu, DBMPR Jabar pun akan membuat jalur kejut, yaitu jalan yang dibuat bergelombang untuk memberikan peringatan kepada pengemudi agar berhati-hati dan mengetahui bahwa jalur tersebut rawan kecelakaan. “Semua kajian dan solusi terus dilakukan demi memberikan keselamatan dan kenyamanan kepada para pengguna jalan,” sebut Guntoro.

Andai semua upaya bisa diwujudkan, bukan tidak mungkin kelak tanjakan Emen berganti nama menjadi tanjakan Aman. v (wasu / DK).

Artikel Terkait

Prioritaskan Realisasi Perpres Bandung Raya

dinamika

Cekungan Bandung Kawasan Strategis Nasional

dinamika

Jalan Lingkar Selatan Sukabumi : Pemecah Kemacetan dan Pendongkrak Pertumbuhan Ekonomi

dinamika